Saudara tidak perlu terlahir dari rahim yang sama, atau tertitis dari a******i yang sama. Hampir satu purnama di sini aku merasa memiliki saudara baru, saudara yang menerima segala masalaluku, saudara yang tidak pernah mempermasalahkan kekuranganku, dan tentu saja saudara yang menuntunku pada kebaikan. Bang Aldo sudah mulai sibuk mengurus bisnisnya bersama Mas Wahyu, pabriknyalah yang menyuplai kebutuhan batik yang Bang Aldo kirim ke berbagai penjuru dunia. Bang Aldo juga membuka sebuah grosir batik di kota ini. Sehingga ia kerap meninggalkanku berdua dengan Rayisa yang juga ditinggalkan suaminya mengajar. Kami menghabiskan hari-hari layaknya sahabat yang selalu berbagi cerita, kebaikan hatinya yang selalu membuatku nyaman menceritakan apapun padanya. Semua tanpa terkecuali, ia juga ru

