Terang saja Mario merasa kehilangan diriku yang dulu, karena akupun demikian. Kadang aku ingin bisa damai seperti dulu, ingin bernafas lega, hidup tanpa beban mental seperti dulu. Kini jangankan bahagia rasanya tersenyum legapun aku tidak bisa. Aku butuh sandaran hati tanpa melukai. Kubenamkan tubuh di bawah selimut, mencoba memejamkan mata lalu terlelap dalam tidur panjang, bahkan berharap aku tidak akan terbangun lagi. Namun kenyataannya aku tetap terbangun pagi ini, kepalaku terasa pusing karena sejak kajadian itu aku kesulitan tidur tenang, mimpi buruk selalu datang menghantui. Seolah kejadian itu terulang di alam bawah sadarku "Kak, dipanggil Mama," panggil Nadhifa begitu aku sampai di kedai. Aku masih terlarut dalam lamunanku Hari ini nomor di kalender memang berbeda warna, hin

