Rasanya ingin sekali berteriak di depan wajahnya dan mengatakan kalau ini semua adalah ulah ayah bejatnya, tapi rasanya tidak mampu. Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengubur dalam-dalam kejadian menyakitkan itu walaupun aku tahu, luka ini tidak akan bisa sembuh tapi setidaknya aku akan berusaha melupakan agar tidak semakin membusuk dan menjalar keseluruh jiwa dan ragaku. Lagipula, semuanya jadi akan semakin kacau jika Amira tahu, belum tentu juga dia akan membelaku. Dia pasti akan membenciku. Karena aku memang pantas untuk dibenci, bahkan kini akupun membenci diriku sendiri. Ponselku tidak berhenti berbunyi sejak tadi. "Hallo." Terdengar helaan nafas di seberang sana. "Pacar, Sayang. Kamu kemana aja sih? Chat dari aku enggak kamu baca dari pagi." tanyanya halus. "Aku kan u

