"Abang? ada apa?" tanya Dina. Baru saja ia masuk kamar dan mendapati aku tengah berbalas pesan dengan Mario, dia menaruh dua bungkusan nasi uduk di atas nakas lalu mengambil sendok yang terletak di rak kecil dekat kamar mandi. "Din, kata Mario, Firman meninggal." Dia mematung, tangannya yang hendak mengeluarkan makanan dari kantung plastik mengambang di udara. Entah ekspresi seperti apa itu, raut wajahnya datar tidak mencerminkan apapun dalam hatinya. Tanpa suara ia mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang, aku menyebelahinya. "Semalam lapas tempatnya ditahan kebakaran, petugas menemukannya telah tewas terpanggang." Aku menjelaskan tanpa ia minta, barangkali ada rasa penasaran terselip di relung hatinya. "Kasian Amira ... dia pasti sedih," gumamnya. Bertambah satu lagi kekagumanku pa

