"Din, Dina ... bangun, Din," aku menepuk-nepuk pipinya, bibirnya masih saja meracau, keringat mengalir di pelipisnya. "Enggak! Jangan deketin aku!" pekiknya begitu membuka mata. "Din, sadar ... ini abang," kataku sambil membelai pipinya, dia menepis tanganku lalu menarik tubuhnya menjauh. Bersandar pada sandaran ranjang sambil memeluk lututnya. "Din, ini Abang," ujarku. "Abang," pekiknya lalu menghambur kepelukanku. Walau dalam kecemasan tapi sedikit merasa lega karena kini ia mau memelukku, sedikit kepercayaan sudah tumbuh dalam hatinya untukku. Kubenamkan tubuhnya jauh dalam pelukan, membiarkan ia menumpahkan semua airmatanya. Saat itu pula kusempatkan tangan menyambar ponsel di atas nakas dan merekam semua yang akan ia katakan, rasanya saat seperti setiap kata yang keluar d

