"Aku enggak suka, main kasar, Sayang." Ucapnya semakin mendekat. Aku semakin ketakutan, perlahan tapi pasti rasa sakit itu kembali terbayang. Rasa takut, seperti yang malam itu Om Firman berikan padaku kembali terasa. "Enggak! Pergi! Pergi!" Aku meracau, kini tubuhku luruh, aku memeluk lutut isakan semakin kuat seiring ketakutan yang menguasai hatiku. "Hei, kenapa kamu?" Suaranya terdengar berbeda, tidak halus penuh rayuan seperti tadi. Malah terdengar keras menahan emosi. Aku menggeleng, menengadahkan wajahku menatapnya yang kembali mengenakan kausnya. "Kamu bikin mood'ku hancur!" Ujarnya lalu mencekal lenganku. Menyeret tubuhku dengan kasar keluar ruang kerjanya, memasuki sebuah kamar tidur tidak jauh dari tempat sebelumnya. Ia mendorongku ke dalam kamar mandi yang terleta

