Daya masih mematung di tempat dia berdiri. Sementara Vika menatapnya tajam setelah memutuskan sambungan telepon dengan Ezra. Gadis itu kemudian bergerak memutari Daya yang masih diam tak bergerak. Memandangnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu mengelus dagu seolah Daya adalah barang yang sedang dinilai, apakah cukup layak untuk dibeli atau ditinggalkan. Daya menenangkan diri, baginya, bertarung dengan Vika tidak akan ada kata menang. Jika ia kalah, tentu Vika akan mencoretnya dari daftar kakak ipar yang layak dianggap. Jika dia menang, mungkin Ezra yang akan mencoretnya dari status kekasih. Mereka memang bercinta, saling menyukai, tapi bukan jaminan Ezra tidak mendepaknya ketika tahu bahwa Daya bertengkar dengan sang adik. Bagaimanapun, darah lebih merah dari cairan yang mereka

