Part 4

1627 Words
Usai membersihkan diri, Tarisha sibuk mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Setelah selesai dengan kegiatannya itu, Tarisha mendorong koper tersebut ke sudut ruangan berjajar dengan koper yang kemarin sudah dikemasinya. Lalu Tarisha bersiap untuk tidur. Sebelum memejamkan mata, ia melihat ponselnya. Memang ada beberapa pesan yang masuk. Salah satunya dari Kala yang mengabarinya sudah tiba di hotel puluhan menit yang lalu. Tarisha pun membalas pesan Kala dengan memintanya beristirahat karena ia pun akan segera tidur. *** Samar-samar indera penciuman Tarisha menghirup aroma kopi yang menguar. Ia pun mengerjapkan matanya dengan tangan yang meraba-raba ke sebelah sisi kanan kepalanya untuk mencari ponselnya. Setelah menggenggam benda yang dicarinya itu, dengan berat matanya terbuka sedikit untuk melihat jam yang tertera pada layar benda pipih tersebut. 05:20 Sontak saja matanya langsung membulat melihat angka penunjuk waktu. Tarisha segera bangun dan bergegas menunaikan sholat shubuh. Tepat setelah menyelesaikan sholatnya, terdengar ketukan dari luar pintu kamarnya diiringi suara lembut yang memanggil namanya. "Ibu... Sampe jam berapa semalam? Aduh maafin Risha ya Bu. Semalem Risha tidurnya terlalu pules." "Iya gak apa-apa, Nak. Semalam kita sampe jam sepuluh ternyata. Kamu udah sholat shubuh?" Tarisha mengangguk. "Lagian kan kita bawa kunci. Jadi kalo Kak Risha udah tidur dan susah dibangunin ya gak masalah," timpal Rashad yang tengah memegang secangkir kopi sembari berjalan menuju teras depan rumah. Pantas saja Tarisha samar-samar mencium aroma kopi, ternyata ibu dan adiknya sudah berada di rumah. Ibunya lalu melirik ke arah sudut kamar Tarisha dimana tiga buah koper sudah berjajar rapi. Tarisha pun mengatakan jika barang-barangnya sudah hampir semuanya dikemasi. Lalu ibunya mengajaknya sarapan dan berbincang-bincang di teras depan bergabung bersama Rashad. Akhir pekan ini, Tarisha dan keluarganya memang berencana pindah ke Bekasi. Karena Rashad akan meneruskan kuliah di Jakarta. Tadinya Rashad akan ngekost sendiri di Jakarta. Tapi sebagai orang tua yang mengkhawatirkan anaknya, Shabira setengah hati memberi izin. Jadinya Tarisha mengusulkan untuk semuanya pindah ke Jakarta dan memulai hidup baru di sana. Tarisha pun mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Sementara Shabira menjual rumah yang sudah bertahun-tahun mereka tinggali dan uangnya ia pergunakan untuk membeli rumah lagi di Jakarta. Namun ternyata mereka tak menemukan tempat dan harga yang cocok di Jakarta, akhirnya Shabira memutuskan untuk membeli sebuah rumah yang lokasinya tak jauh dari ibukota. Tarisha juga menjual sepeda motor dari hasil jerih payahnya yang mana nanti akan ia gunakan untuk modal membuka usaha. Tarisha senang memasak dan membuat aneka kue, hobinya ini menurun dari sang ibu. Maka dari itu, Tarisha berencana membuka toko kue nanti di Bekasi. Saat sedang berbincang bersama ibu dan adiknya, Tarisha mendengar suara ponselnya berdering. Lantas ia segera mengambil benda pipih tersebut dari dalam kamarnya. Benar saja dugaannya jika yang menelepon dirinya sepagi ini adalah Kala. "Halo," sapa suara di seberang sana. "Iya halo, ada apa Mas?" "Gak ada apa-apa sih, cuma mau ingetin aja nanti jangan lupa jam setengah dua siang aku jemput ya." "Aku kira ada apa sepagi ini udah nelepon. Kalo itu sih aku inget Mas. Aku kan gak pikun atau amnesia, hehe..." ucap Tarisha dengan diakhiri kekehan kecil. Kala ikut terkekeh. Ia pun mengatakan jika tak sabar menunggu hari segera siang karena ingin lekas bertemu Tarisha. Ucapan Kala sukses membuat Tarisha tersipu. Namun ia segera menepis perasaannya dan berusaha bersikap santai. *** Detik demi detik berlalu hingga tibalah waktu yang Kala nantikan. Karena semangatnya yang ingin segera bertemu Tarisha, Kala berhasil menyelesaikan pekerjaannya satu jam lebih cepat. Ia sengaja tak mengabari Tarisha. Usai membenahi pekerjaannya, Kala langsung menuju rumah wanita yang berhasil memikat hatinya hanya dalam sekali pandang. Sebenarnya Kala sendiri juga merasa bingung dengan dirinya. Mengapa bisa ia menjatuhkan hatinya sekilat itu. Namun dasar hatinya mengatakan jika Ia akan bisa memiliki Tarisha. Tiba di rumah Tarisha, Kala di sambut baik oleh Shabira. Kala mengaku sebagai teman Tarisha. Lalu Shabira memanggil Tarisha yang sedang mencuci piring dan gelas bekas makan siang barusan. Tarisha sendiri cukup terkejut melihat kedatangan Kala yang lebih cepat dari waktu yang sudah mereka tentukan. "Loh, Mas Kala? Katanya mau jemput jam setengah dua?" tanya Tarisha dengan raut wajah yang tak bisa menutupi keterkejutannya. "Iya, tapi alhamdulilah kerjaanku selesai lebih cepat. Jadi aku langsung ke sini aja," jawab Kala santai. Kala juga sebenarnya tak kalah terpana dengan penampilan Tarisha yang sederhana namun tetap tidak mengurangi kecantikannya. Meskipun hanya mengenakan daster batik sepanjang lutut dan celemek yang masih melekat saat menemui Kala, Tarisha tampak percaya diri dan apa adanya. Membuat Kala semakin menginginkan wanita itu. "Oh gitu," ucap Tarisha dengan nada pelan. "Oh ya, Mas mau minum apa? Teh atau kopi?" sambung Tarisha lagi. Shabira yang paham situasi, mengatakan jika ia yang akan membuat minum untuk Kala dan meminta Tarisha untuk bersiap saja. Tarisha pun mengiyakan. Sambil menunggu Tarisha yang masih bersiap di kamarnya, Kala dan Shabira saling mengobrol ringan. Tak butuh waktu lama bagi Tarisha untuk bersiap, kini gadis cantik itu sudah ada di hadapan Kala dan juga Shabira. Lagi-lagi Kala tertegun dengan tampilan Tarisha. Pakaian yang dikenankan terlihat sangat cocok dengan si empunya tubuh. Tarisha mengenakan celana kulot high waist berbahan linen abu-abu dipadu atasan blouse crop top berwarna hitam polos dengan model kerah membentuk huruf V dan panjang lengan bajunya sebatas siku. Wajah ayunya juga terlihat segar meski dengan riasan yang tipis. "Udah siap, Nak?" tanya Shabira. Suara pertanyaan Shabira membuyarkan pikiran Kala. Ia pun melihat anggukan Tarisha untuk menjawab pertanyaan ibunya. Kemudian mereka saling tatap dengan masing-masing bibir yang juga saling menyungging senyum. "Bu, Saya minta izin ajak Tarisha jalan-jalan ya," ucap Kala. "Iya silahkan saja. Tapi nanti paling telat jam delapan sudah di rumah lagi ya." Kala pun mengiyakan. Tak mungkin juga ia mengantar Tarisha terlampau malam, karena ia juga akan kembali ke Jakarta dengan penerbangan malam. Lalu keduanya pamit bersalaman dengan Shabira. Di mobil, Tarisha menanyakan kemana tujuan perjalanan ini. Namun Kala juga masih belum tahu akan kemana. Tarisha menyebutkan tempat-tempat wisata yang ada di kota gudeg ini. Tapi Tarisha langsung ingat jika nanti malam Kala akan kembali ke Jakarta. Tarisha khawatir Kala kelelahan mengemudi jika mereka berwisata ke tempat yang cukup jauh dari pusat kota. Akhirnya, mall menjadi pilihan yang paling mungkin untuk dua insan tersebut menghabiskan waktu. Kala menawari Tarisha untuk berbelanja. Namun gadis itu tidak berselera. Tarisha malah mengajak Kala ke tempat yang menyediakan berbagai wahana dan permainan. Kala sendiri sedikit bingung mengapa Tarisha mengajaknya ke sini. Secara umum, memang pengunjung arena ini didominasi oleh anak-anak. Namun sebenarnya tempat hiburan ini cocok untuk segala usia. Setelah mengisi kartu yang nantinya akan mereka gunakan sebagai tiket untuk setiap permainan, Tarisha dan Kala langsung mencoba memainkan beberapa mesin permainan dan wahana yang ada di arena tersebut. Dari mulai bertanding memasukan bola basket, bowling, balapan mobil, mencoba simulator 3D yang sukses membuat Tarisha berteriak-teriak karena efek visual yang ditimbulkan, dan aneka permainan interaktif lainnya. Semuanya mereka lakukan dengan diselingi canda dan tawa. Kala yang tadinya ragu untuk bermain di tempat ini, justru malah terlihat yang paling menikmati. Terakhir Tarisha mengajak Kala ke depan mesin capit boneka. "Mas, kalo kamu berhasil ambil boneka dari mesin ini, aku bakal kasih kamu hadiah," ucap Tarisha menyemangati Kala. "Hadiah? Serius? Hadiah apa?" tanya Kala yang semangatnya berhasil tersulut oleh ucapan Tarisha. "Apa aja yang kamu mau," jawab Tarisha asal. "Tapi aku gak yakin kamu berhasil sih. Hehehe..." lanjutnya lagi dengan mimik wajah mengejek yang menggemaskan. Kala mengepalkan tangan, ingin sekali rasanya mencubit pipi Tarisha. Tapi tak Ia lakukan karena tak ingin menyakitinya. Ia hanya memandangi Tarisha dengan tatapan gemas dan binar mata yang penuh harap. Bagi Kala, ucapan Tarisha bak angin segar yang memunculkan kesempatan baginya untuk bisa lebih dekat lagi dengan Tarisha. Andai Kala berhasil mencapit boneka satu saja, ia bisa meminta hadiah sesuka hatinya. Bahkan dalam imajinasinya, ia akan meminta Tarisha menjadi kekasihnya. Meskipun sebenarnya ia sendiri juga tidak yakin apakah dirinya berhasil mengambil salah satu boneka dari mesin capit tersebut. "Kamu lihat ya, aku pasti bisa ambil salah satu boneka dari mesin ini," ucap Kala dengan nada sombong dan penuh keyakinan. Tarisha malah mendatarkan bibirnya dan menaikturunkan alisnya seolah makin menantang Kala membuktikan ucapannya. Tak buang waktu lama, Kala langsung menjajal mesin capit itu. Namun pada percobaan pertama malah gagal. Begitupun dengan percobaan kedua dan ketiga yang lagi-lagi gagal. Kala mengacak rambutnya sedikit frustasi. Bagaimana tak merasa frustasi, disetiap kegagalannya, ada tawa Tarisha yang puas menertawakan kesombongannya tadi. "Coba sekarang aku yang main, nih lihat ya..." ucap Tarisha sembari bertukar posisi dengan Kala. Di sela-sela memainkan mesin itu, Tarisha berucap, "Nanti kalo aku berhasil, aku minta hadiah yaa..." Kala hanya mengangguk pasrah. Baginya apapun yang diminta Tarisha, selama Kala mampu pasti akan diberikan. Setali tiga uang dengan Kala, kesombongan dan keyakinan Tarisha untuk bisa mengeluarkan salah satu saja boneka dari mesin capit itupun runtuh seketika saat tiga kali percobaannya yang juga gagal. Tarisha mendengus kecewa dan mengerucutkan bibirnya. Padahal jika Ia bermain capit boneka, biasanya Ia selalu berhasil meskipun Ia tak memiliki ataupun menggunakan trik khusus saat bermain. Lantas Tarisha menoleh pada Kala yang ternyata sedang memandanginya dengan senyum yang tertahan. "Ketawa aja Mas, jangan ditahan-tahan," ucap Tarisha datar. "Makanya Bu, jangan sombong dulu," ucap Kala dengan senyum yang tulus seraya mengelus rambut Tarisha. Tarisha tertunduk menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan tersenyum kikuk atas perlakuan Kala. Sementara Kala tersenyum lebar melihat tingkah Tarisha yang tengah tersipu. "Ya udah Mas, kita sholat ashar dulu yuk?" ajak Tarisha. "Aku coba sekali lagi ya, habis itu kita sholat terus makan. Gimana?" Tarisha mengiyakan dengan anggukan kepala dan kedipan mata yang sudah pasrah. Ia pikir hasilnya akan sama saja. Kala mulai memainkan mesin capit itu. Tarisha memperhatikan dengan tatapan yang sudah malas. Namun mata Tarisha membola seketika saat pencapit itu berhasil mencapit dan mengangkat salah satu boneka. Dan ya, boneka yang tadinya berada di dalam mesin capit itu, kini sudah berada di genggaman Kala yang menyodorkannya pada Tarisha. "Jadi kamu mau kasih aku hadiah apa?" tanya Kala diiringi senyum kemenangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD