"Makasih ya Kak Kala, Risha, udah anterin aku sama anak-anak sampe rumah. Kalian hati-hati di jalan yaa."
"Iya sama-sama," ucap Kala dan Tarisha berbarengan. Kemudian mereka menoleh dan saling menatap. Lalu keduanya tersenyum.
Usai acara reuni itu, Kala menawarkan diri untuk mengantarkan Tarisha pulang. Tarisha bersedia, tapi ia juga mengajak temannya yang membawa dua anak tadi karena kebetulan rumah mereka memang searah.
Kini mobil yang dikemudikan Kala melaju meninggalkan komplek rumah dinas tentara angkatan laut. Tujuan Kala selanjutnya adalah mengantarkan gadis yang berhasil memikat hatinya.
Tarisha masih terdiam memandang apapun yang terlihat dari kaca jendela mobil. Sesekali ia melihat ke kaca depan. Sama sekali Tarisha tak menoleh ke sebelah kanannya dimana ada visual yang sebenarnya jauh lebih sedap dipandang dibandingkan dengan apapun yang Tarisha lihat dari balik kaca mobil ini. Malu? Sudah pasti itu alasannya.
Begitu juga dengan Kala yang masih tak membuka obrolan apapun dengan Tarisha. Mungkinkah memiliki alasan yang sama? Atau mungkin Kala sengaja diam agar Tarisha yang memulai lebih dulu? Entahlah.
Sebelum temannya tadi turun, suasana di mobil ini cukup hangat dengan celoteh anak-anak. Tarisha juga lebih banyak mengobrol dengan temannya dan sesekali Kala menimpali. Kini sepuluh menit berlalu tanpa percakapan apapun. Hanya alunan lagu yang berjudul The way you look at me yang dinyanyikan oleh penyanyi pria kondang asal Filipina, Christian Bautista.
"Nanti pertigaan ke kanan ya Kak," ucap Tarisha yang akhirnya lebih dulu bersuara.
"Baik Nyonya." Kala mengangguk sopan layaknya seorang sopir yang diperintah oleh majikannya.
Lantas tingkah Kala tersebut memicu sebuah lengkung ke atas yang dibentuk dari bibir merah muda alami gadis di sebelahnya. Sekilas Kala menatapnya gemas. Sayang sekali tak bisa berlama-lama menikmati senyum indah Tarisha karena harus fokus menyetir.
"Bisa bercanda juga?"
"Apa sih yang nggak bisa buat kamu?" Kala menggerakkan alisnya naik turun.
Tarisha terkekeh lantas memutar mata dan membuang wajahnya ke samping kiri.
"Gombal!" ucap Tarisha masih dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
"Tarish, besok hari terakhir aku di sini. Malamnya aku pulang ke Jakarta."
"Terus?"
"Kamu bisa temenin aku jalan-jalan? Aku usahain sebelum jam makan siang, kerjaanku udah selesai."
"Dasar koruptor!"
"Loh kok malah aku dibilang koruptor? Aku cuma ngajak kamu jalan loh. Emang merugikan negara?"
"Bukan negara, tapi perusahaan. Kakak kan ke Jogja difasilitasi perusahaan dalam rangka bekerja. Eh masih sempat-sempatnya dateng reuni. Terus besok juga udah mau jalan-jalan aja. Korupsi waktu itu tau!"
"Tapi kan yang penting kerjaan beres. Aman, lancar, terkendali. Ya gak? Kalo emang semua udah selesai terus aku mau ngapain?"
Tarisha mengendikkan bahu dan mendatarkan bibirnya.
"Mau ya temenin aku jalan-jalan besok? Please... Tarish," ucap Kala memohon tanpa malu-malu.
"Oke."
"Yes."
Dengan senyum yang mengembang, Kala mengepalkan tangan kanannya seolah telah memenangkan sesuatu. Kelakuan Kala cukup membuat Tarisha terheran.
"Segitu senengnya?"
"Iya dong. Masa gak seneng sih jalan sama kamu?"
"Emangnya Kakak mau jalan-jalan kemana sih?"
"Kemana aja. Yang penting sama kamu. Oh ya, jangan panggil aku kakak dong. Jadi kayak kakak beradik aja."
"Tapi kan kita beda usia lima tahun. Masa aku mau panggil kamu nama aja? Atau mau kupanggil om? Heheh..."
"Masa iya kamu panggil aku om? Kamu emang mau dikira jalan sama sugar daddy?"
Spontan Tarisha menggeleng dan mengerucutkan bibirnya.
"Kalo kamu mau, kamu boleh panggil aku Mas. Aku lebih suka itu daripada dipanggil kakak."
"Oke Mas, nanti berhenti di depan pagar kuning itu ya," ucap Tarisha menunjuk pada sebuah rumah yang berada di ujung jalan.
Kala menurut. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan pagar berwarna kuning seperti permintaan Tarisha.
"Yah udah sampe aja. Aku kira masih jauh rumah kamu. Kalo tau gitu mah tadi aku muter lewat Malang. Heheh..."
"Ngaco! By the way, makasih ya Mas udah anterin aku. Mau mampir dulu?"
"Emangnya boleh?"
"Nggak sih. Aku basa-basi doang. Hahah..." Tarisha tertawa renyah yang membuat Kala ikut tersenyum dan betah berlama-lama menatapnya.
Entah kenapa hatiku yakin kalo aku bisa memiliki kamu Tarish, batin Kala.
Sadar diperhatikan oleh laki-laki di sebelahnya, Tarisha langsung merapatkan bibirnya.
"Mampirnya lain kali aja ya Mas, Ibu aku juga lagi gak ada soalnya."
"Kamu sendirian di rumah?" tanya Kala dengan tatapan khawatir yang bisa dibaca Tarisha.
"Iya. Udah biasa kok. Lingkungan sini juga aman. Oke deh, aku turun dulu. Sekali lagi makasih ya Mas Kala udah anterin aku."
Kala tersenyum dan mengangguk. Sesaat sebelum Tarisha membuka pintu mobil, Kala mengulurkan tangannya. Tarisha mengernyitkan alisnya bingung melihat punggung tangan kala tepat di depan wajahnya.
"Salim," ucap Kala menggerakkan tangannya lebih dekat ke wajah Tarisha.
"Hah?" Dengan wajah polosnya Tarisha berekspresi.
"Salim dong. Menghormati orang yang lebih tua. Masa pamitan gak salim dulu? Ayo Tarish salim dulu sama Mas!" ucap Kala dengan percaya dirinya.
Dengan lugunya, Tarisha pun mengikuti perintah Kala tanpa protes. Ia meraih tangan Kala yang terulur di depan wajahnya. Kemudian ia menghirup punggung tangan Kala. Setelah itu, Tarisha langsung turun dari mobil.
Tarisha tak langsung masuk ke dalam rumahnya. Tapi ia menunggu Kala yang sedang memutar balikkan mobilnya. Setelah selesai dan mobil Kala sudah diposisi siap meninggalkan rumah Tarisha, Kala menurunkan kaca jendela mobilnya.
"Jangan lupa ya Tarish. Besok aku jemput jam setengah dua."
"Iya Mas. Kamu hati-hati ya di jalan."
Tarisha tersenyum memperhatikan mobil Kala yang semakin menjauh. Lalu ia pun masuk ke dalam rumahnya. Entah kenapa suasana hatinya terasa bahagia. Mungkinkah itu...
Tidak! Terlalu cepat jika disimpulkan dengan satu kata. Lagi pula Tarisha bukan termasuk golongan orang yang percaya love at first sight.
Tarisha segera ke kamarnya untuk membersihkan diri. Perjalanannya dari kawasan pantai di selatan Jogja ini membuatnya penat. Ditambah lagi kondisi jalan yang hari ini lumayan padat.
Namun sebelumnya ia berniat menelepon ibunya yang sedang berada di Jakarta. Tarisha segera mengambil sebuah benda pipih dari dalam tasnya.
"Halo Bu. Udah di bandara?"
"..."
"Berarti kira-kira sampe rumah jam sembilanan ya? Maaf ya Bu, Risha gak bisa jemput Ibu di bandara."
"..."
"Oh Ibu sama Rashad? Oke deh aku jadi tenang. Nanti kabarin Risha lagi ya Bu kalo udah landing."
Selesai berbicara dengan ibunya, Tarisha meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia segera mengambil handuk dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
Ting!
Terdengar nada pesan masuk di aplikasi obrolan di ponselnya. Tarisha tergoda untuk menyentuh kembali handphone-nya. Pikirnya, mungkin saja ada pesan penting dari ibunya yang tadi belum sempat dibicarakan.
Kala: Aku senang bisa kenal kamu Tarish (emoticon love)
Tarisha membuang nafas panjang setelah membaca isi pesan dari Kala. Ia kira dari ibunya. Tapi ia bingung mau jawab apa. Belum ada lima belas menit berpisah, sudah laki-laki ini mengirimnya pesan.
Ting!
Kala: Kok dibaca doang? Sibuk ya?
Tarisha: Senang juga bisa kenal kamu, Mas. Sudah dulu, aku mau bersih-bersih diri. Kamu juga nyetir yang bener. Jangan sambil main handphone. Bahaya!
Kala: Duh senengnya ada yang perhatian (emoticon smile) Oke deh. Nanti aku kabarin kalo udah sampe hotel.