Part 2

1106 Words
Flashback Setahun yang lalu di Yogyakarta. Terlihat beberapa wanita sedang berbincang-bincang. Lalu Tarisha menghampiri dan menyapa mereka. Tarisha ikut bergabung dalam sekumpulan perempuan ini. Ia larut dengan perbincangannya bersama teman-temannya semasa sekolah menengah pertama. Tarisha sedang menghadiri reuni SMP-nya. Acara itu diadakan di aula sebuah resor pribadi yang berada di sisi pantai milik salah satu alumni. Reuni akbar ini mengundang alumni dari seluruh angkatan. Tak heran suasananya begitu ramai. Salah seorang teman Tarisha datang membawa serta kedua anaknya yang masih berusia lima tahun dan dua tahun. Ia datang tidak bersama suaminya karena suaminya yang seorang tentara angkatan laut itu sedang bertugas. Lalu bocah perempuan berusia lima tahun itu mengeluh sakit perut dan minta ditemani mamanya ke toilet. Tarisha menawarkan bantuan untuk menjaga anaknya yang kedua. Kini Tarisha tengah menimang-nimang anak laki-laki berusia dua tahun itu yang tak mau berhenti menangis semenjak diserahkan ibunya pada Tarisha. Kemudian salah satu temannya yang lain menyarankan agar Tarisha mengajaknya bermain di luar ruangan agar fokusnya teralihkan. Tarisha pun menyetujui ide dari temannya itu. Namun saat sudah berada di luar ruangan pun, bocah laki-laki itu belum mau berhenti menangis dan masih terus memanggil-manggil mamanya. Tarisha mencoba mengalihkan perhatiaan anak itu dengan menunjuk ikan-ikan yang berada di kolam tepat di depan mereka. Tapi usahanya tak membuahkan hasil. Anak itu tetap saja menangis. Tarisha jadi kewalahan dibuatnya. Mengalihkan perhatian anak kecil yang sudah kadung tantrum memang tak semudah yang ia pikirkan. "Hei jagoan kok menangis sih? Cup.. cup... Jangan nangis lagi ya... Nih Om punya puding untuk kamu," ucap seorang pria yang tiba-tiba saja muncul di belakang Tarisha sembari meberikan puding coklat yang menjadi salah satu sajian desert di acara ini. Bak tersihir, anak itu langsung berhenti menangis setelah menerima makanan dari pria tersebut. Kini ia sedang asyik menikmati puding yang diberikan pria itu. Tarisha sendiri tidak kepikikiran untuk membujuk anak ini dengan iming-iming makanan sedari tadi. Fokusnya hanyalah mengajak bocah itu bermain. "Makasih ya Kak," ucap Tarisha. Pria itu tersenyum dan mengangguk. Tarisha menunduk memperhatikan anak temannya itu. Ia kira, pria itu akan langsung pergi setelah berhasil membantu mendiamkan anak ini. Tapi pria tersebut malah berjongkok menyamakan tingginya dengan anak itu. Pria itu mengeluarkan sapu tangan dari saku belakang celananya dan mengusap pipi bocah kecil itu yang sudah belepotan dengan coklat. "Pelan-pelan dong mam pudingnya, jagoan! Jangan nangis lagi ya. Kasihan mamanya kewalahan," ucap pria itu lagi kemudian mengelus kepala anak itu yang kelihatannya fokus memakan pudingnya dan tak mempedulikan ucapan pria itu. Tarisha mengerutkan dahinya mendengar ucapan pria itu. Lalu ia tersenyum ketika laki-laki itu menatapnya. Pria itu telah kembali berdiri sejajar berhadapan dengan Tarisha. Pria ini cukup tampan. Memiliki kulit yang putih bersih. Dengan tinggi standar ideal pria Indonesia. Volume tubuh yang bisa di bilang atletis, juga dengan bentuk rahang tegas serta brewok tipis yang menambah kesan manly. Sesaat Tarisha terpesona oleh visual yang berada di depan matanya. "Gak datang sama suami?" tanyanya. Tarisha refleks menggeleng seiring fokusnya yang buyar. Lalu kakak dari anak itu berlari menghampiri adiknya yang tengah menyuapkan puding terakhir ditangannya. "Adik di sini. Kakak caliin dali tadi," ucapnya dengan pelafalan huruf r yang masih belum fasih. "Kakak udah dari toiletnya?" tanya Tarisha yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala oleh bocah perempuan berumur lima tahun itu. "Kamu udah punya dua anak?" tanya laki-laki itu dengan raut wajah yang cukup terkejut. Sebelum Tarisha menjawab pertanyaan pria itu, ia menanyakan temannya yang datang dengan nafas yang terengah-engah karena mengejar anaknya yang berlari menghampiri Tarisha. "Kenapa lari-lari sih?" tanya Tarisha. "Iya nih abisnya dia juga lari. Gue takutnya dia ke luar terus nyebur ke kolam. Soalnya kan anak-anak gue paling gak bisa kalo liat kolam. Gak peduli kolam renang apa kolam ikan, maunya asal nyebur aja." "Ya namanya juga anak-anak." "By the way, thank you ya Rish udah jagain anak gue. Eemm... Kayaknya gue ke dalem aja kali ya... Takut anak gue pengen nyebur ke kolam. Sama takut ganggu lo juga, hihii.." ucap temannya itu sembari melirik laki-laki di sebelah Tarisha. Tarisha hampir saja lupa jika ada laki-laki yang berdiri di sebelahnya. Setelah temannya dan anak-anaknya kembali ke dalam aula, kini Tarisha tinggal berduaan dengan pria itu. Tadinya Tarisha juga ingin pamit ke dalam saja. Namun pertanyaan laki-laki itu berhasil mengurungkanya. "Jadi itu tadi bukan anak kamu?" tanya pria itu yang terlihat sumringah. "Yang bilang itu anak aku emangnya siapa? Itukan asumsi kamu sendiri aja." Tarisha ikut tersenyum. "Oh iya, aku Kala. Kalandra Sastra. Angkatan tahun 2005," ucap Kala dengan mengulurkan tangannya. "Tarisha Avantika, angkatan tahun 2010," jawab Tarisha menjabat tangan Kala yang terulur. "Kita beda lima tahun ya, berarti sekarang usia kamu dua puluh empat tahun?" Tarisha mengangguk membenarkan. Kala juga ikut tersenyum dan mengangguk-angguk. "Boleh kan kita ngobrol dulu sebentar? Ngomong-ngomong kamu kerja dimana?" "Boleh kok. Aku baru aja resign. Kalo Kakak kerja dimana?" "Aku bekerja di salah satu perusahaan konstruksi di Jakarta. Kamu kalo mau melamar kerja di tempat kerjaku bisa aku bantu loh." "Nggak Kak makasih. Aku sengaja keluar dari perusahaan sebelumnya memang karena mau buka usaha sendiri." "Oh ya? Bagus dong. Kalo gitu aku yang melamar kamu deh, boleh?" "Kakak bisa aja. Oh ya, Kakak ke sini gak sama istri?" "Tarish, kalo aku ke sini sama istriku, mana mungkin aku bisa ngobrol berduaan sama kamu begini?" Raut wajah Tarisha berubah seiring hatinya yang merasa tak enak. Bagaimana bisa ia meladeni seorang pria beristri. Justru itu yang teramat sangat dihindari olehnya. Melihat ekpresi wajah Tarisha yang berbeda, lantas Kala malah tersenyum. "Tarish, aku belum menikah," ucap Kala kemudian terkekeh kecil. Tarisha menatap Kala dengan mengecilkan celah matanya. Mencoba membaca kejujuran dalam manik hitam legam milik pria di hadapannya ini. Mendapat tatapan menyelidik dari Tarisha, Kala meyakinkan gadis yang telah menarik hatinya itu. "Aku single Tarisha," ucapnya meyakinkan. "Serius?" "Yes. Makanya boleh aku kenal kamu?" tanya Kala "Kan barusan kita udah kenalan, Kak?" Tarisha mengerutkan dahinya. "Eemm... Bukan itu maksud aku. Kamu single juga kan?" Pertanyaan dari Kala membuat Tarisha menunduk tersipu. Tapi tunggu! Mengapa pula Tarisha harus tersipu? Bukankah itu pertanyaan yang biasa saja? Tapi biasanya pertanyaan seperti ini di lontarkan oleh orang yang ingin menjajaki masa pendekatan. Atau jangan-jangan Tarisha juga merasakan... "Tidak! Terlalu cepat menyimpulkan," batin Tarisha. "Jangan negative thinking dulu. Sorry ya Tarish sebelumnya. Maksud aku kalo emang kamu single, boleh aku kenal kamu lebih jauh? Maaf kalo terlalu frontal. Tapi terus terang aja, aku tertarik sama kamu." Deg! Suara jantung Tarisha bertalu lebih cepat dari ritmenya. Baru saja ia mendamaikan hatinya untuk tidak terlalu cepat menyimpulkan. Tapi kini malah Kala yang mengungkapkan jika pria itu tertarik padanya. Kalau boleh jujur, Tarisha ingin mengatakan jika ia juga merasa hal yang sama. Tapi tidak. Kala hanya menanyakan status Tarisha. "Ya, aku single," jawab Tarisha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD