“Jangan coba bikin aku khawatir!” Dengan kelopak mata yang berat, Bhumi menahan pergerakan sang istri. “Gimana kalau kita coba untuk saling mengkhawatirkan?” Mata Arin yang semula tajam dan kejam, kini beriak. Mulutnya sedikit terbuka. Jantungnya berdebar kencang di atas rata-rata seiring dengan desiran yang mengguncang hatinya. Apalagi tatapan sayu Bhumi tampak membuat keseriusan di sana. Tapi Arin tidak ingin lengah. Ia menghempaskan tangan Bhumi dengan kasar. “Bayar 10 Milyar!” “Bukannya kita cuma bisa mengandalkan satu sama lain?” Kalimat itu membuat Arin kembali menghentikan langkah. Ia terpaku beberapa saat tanpa berbalik, menyimkak kelanjutannya. “Kita cuma punya satu sama lain,” sambung Bhumi. Dengan rahang yang mengeras, Arin berbalik. “Tapi kita nggak saling memiliki. Kam

