Kini di dalam ruangan kerja Bhumi yang tertutup itu hanya ada dirinya dan pimpinan perusahaan sekaligus ayah mertuanya. Sempat merasa canggung, lantaran keduanya sama-sama idealis dan kaku. Apalagi Bhumi jarang berinteraksi langsung dengan Ayah Arin tersebut. “Kami tengah melakukan pembaharuan ide yang lebih fresh supaya tetap bertahan sebagai program bergengsi,” kata Bhumi secara formal saat keduanya sudah duduk berhadapan di sofa. “Kerja bagus. Sejauh ini kerjamu memang sangat bagus. Tapi kedatangan saya bukan sebagai pimpinan Indo Media.” “Ya?” Bhumi kaget sendiri. “Tapi sebagai ayah mertuamu.” Meski canggung, Bhumi berusaha mencairkan suasana dengan tetap sopan dan mencium tangan pria berambut silver yang tampak dingin. “Sejauh ini bagaimana pernikahan kalian?” Bhumi tak segera

