Hingga malam terlewat, tumpukan bantal yang menutupi mata itu pun terlepas bersamaan dengan Hazel yang terbangun. Tapi tunggu… sepertinya bukan Hazel. Dia Arin, sepertinya Tampak perempuan itu sedang kebingungan menatap sekitar kamar. Tegang sekali wajahnya. Kemudian ia menyentuh sisi ranjang sambil membayang sosok Iko di sana bersamaan dengan jantungnya yang berdebar. “Kenapa aku di sini lagi?” Arin tercengang entah unyuk yang ke sekian kalinya. Ia tak sadar kapan datang ke sini. Lagi, jika benar-benar Arin datang secara sukarela, bukankah itu karena dirinya terlalu menyimpan rindu yang tertahan pada Iko? Sebab, rumah ini adalah rumah kebersamaan mereka tanpa ada pekerjaan atau hal apapun lainnya. Benar-benar murni sebagai dunia Arin dan Iko. Arin lantas ingin memeriksa rumah tersebu

