“Bhumi… Bhumi!” Gildan berlari menghampiri kawannya yang baru saja keluar dari ruangan kerjanya saat kantor berangsur sepi. “Apa?” “Gue berhasil identifikasi nomer plat motor itu.” Mata Bhumi beriak. “Gimana?” “Gue udah temuin nama yang tertera di daftar, tapi dia udah ngejual motor itu lama banget dan nggak tau siapa yang pakai.” Bhumi berdecak kesal. Ia memegangi kepalanya yang berdenyut. Rasanya berat sekali. Sungguh. Tapi ia masih berusaha berpikir keras untuk mencari jalan lain. “Cari alamat Oddy!” kata Bhumi tiba-tiba. “Hah?” “Tolong.” “Katanya kita harus cari bukti dulu…” “Cari alamat dia, tolong,” tutup Bhumi bersamaan dengan ponselnya yang bergetar. Sebuah panggilan masuk dari ibu mertuanya. Ia agak canggung. Apalagi di hadapannya ada Gildan yang memang tidak tau apapun

