Saat mendapat pesan bergambar tentang gedung yayasan yang dipimpin sang istri, Bhumi memelesat tanpa berpikir panjang. Ya, mungkin saja itu hanya ancaman seperti sebelumnya terkait hotel tempat dilangsunkannya pernikahan Bhumi dan Arin.
Apapun itu, yang ada di pikiran Bhumi adalah bahwa pengancam itu seolah tau rahasia yang tak terendus oleh siapapun, termasuk Gildan. Jadi, Bhumi memutuskan untuk menyembunyikan ini semua darinya dan mengurus sendiri soal apa-apa yang ada sangkut-pautnya dengan Arin.
“Pak, direktur masih di dalam?” tanya Bhumi pada satpam dari dalam mobil pada malam itu.
“Kayanya masih. Tadi masih ada mobilnya.”
“Apa ada orang asing masuk ke dalam?”
“Orang asing?”
Bhumi menggeleng sekilas. “Saya boleh masuk bertemu Bu Arin?”
“Ada perlu apa, ya? Malam begini?”
Situasinya cukup menyulitkan. Akhirnya Bhumi keluar dari mobil. Ia mendongak, mendapati kamera CCTV di atas gardu satpam yang mungkin bisa merekam jawaban terkait pengancam tersebut.
Pada akhirnya Bhumi mengakui bahwa dirinya adalah bagian dari kerabat keluarga Media Indonesia, sekaligus menunjukkan foto acara makan keluarga sebelum pernikahan keduanya. Antara keluarga Pak Fahri dan Pak Adi hingga akhirnya diperbolehkan masuk, apalagi ia juga pernah datang sebelumnya.
Bhumi memustukan untuk mencari ke berbagai sudut dan ia pun menyadari bahwa Oddy atau siapapun yang mengancamnya tidak akan mungkin berhasil mendekati Arin.
Sambil berjalan menyusuri gelap sekitaran taman, Bhumi mencoba menghubungi Arin, tapi lagi-lagi tak mendapat jawaban. Namun satu pandangan membuat dirinya bernapas lega saat sebuah cahaya hanya menyala sekilas di tengah kegelapan malam.
Hhh…
Bhumi berjalan pelan mengekorinya dari kejauhan. Lalu dengan peka menyalakan flash light dari ponselnya. Menerangi setiap langkah sang istri yang kemudian berbalik, hingga saling bertatapan.
Dunia seolah berhenti berputar. Kedua pasang mata itu saling memandang saling satu sama lain dengan bermandikan jarak, di antara kilau cahaya tipis pada malam itu dari ponsel yang digenggam Bhumi. Semilir angin dan suara jangkrik mengisi kesunyian tersebut.
“Bhumi?”
Bhumi berjalan mendekat. “Kamu nggak pulang?”
“O-oh…” Arin berbalik lagi, melanjutkan langkah.
Pasangan suami-istri itu berjalan masing-masing, namun tetap beriringan.
“Ah!” Arin tersentak tiba-tiba saat Bhumi menarik lengannya.
“Jalan yang bener!” tegas Bhumi yang rupanya menahan tubuh sang istri yang oleng.
“M-maaf… aku agak pusing.” Arin mengerjap. Nyatanya memang itu yang yang ia rasakan belakangan ini. Apalagi setelah tiba-tiba berada di Puncak. Kepalanya benar-benar berat sekali. “Jadi, tolong jangan marahin aku,” sambungnya.
“Siapa yang marahin?”
“Trus kamu ngapain di sini malam-malam?” tanya Arin.
Bhumi tak langsung menjawab. Ia sedang mempertimbangkan kata apa yang harus ia ucapkan. Ia juga tidak mungkin mengatakan soal pengancam. Biarlah itu menjadi urusannya.
“Jaga-jaga kalau Mamamu telepon.”
“Hah? Mama?”
“Ayo, kamu mau di sini terus?” Bhumi menarik lengan Arin lagi.
Perempuan itu pun terhenyak, menatap lengannya yang seolah ditarik paksa. Sangat tidak bagus sekali. Tapi hal itu membuat Bhumi bingung.
Lantas Arin melepas tangan Bhumi dari lengannya. Mengarahkan ke telapak tangannya, seperti sedang membuat tutorial. Bhumi pun terpaku memerhatikan pergerakan Arin. Membiarkan istri rahasianya itu mengarahkan tangannya ke mana saja.
“Cara ngajak orang tuh kaya gini,” kata Arin dengan suara yang lembut sekali.
Bhumi tak bisa berkata-kata. Hanya termenung, lalu menatap Arin yang sedang tidak marah-marah. Namun gurat rona wajahnya tetap dingin, tanpa ada senyuman yang berarti.
“Kita emang nggak ada hubungan apa-apa selain pernikahan di atas kertas, tapi aku bukan musuhmu juga. Jadi, mari kita saling menghormati!” tukas Arin yang sama sekali tak diberikan respon berarti oleh Bhumi.
^^^
Pagi-pagi sekali Jean mendatangi kediaman Hazel yang sunyi lantaran hari ini tak ada panen. Jadi, ia ingin sedikit bersantai dengan berbaring di atas kursi panjang yang ada di serambi—itu seolah menjadi ritual Jean setiap harinya. Setidaknya sepuluh menit untuk mengisi daya.
“Tapi Hazel ke mana, sih?” Ia membuka matanya yang lama terpejam untuk menenangkan diri. “Udah 3 hari dia nggak balik.”
Jean terbangun, lantas mengelilingi rumah itu yang memang semuanya terkunci. Sampai di bagian belakang, pria itu berdecak kagum lantaran berpapasan langsung dengan air terjun kecil. Suara gemericik dan pemandangannya sungguh fantastis. Ditambah kabut yang memenuhi atmosfer pagi itu.
“Wah… pantesan aja dia suka di sini. Ternyata lebih bagus dari yang gue kira.” Jean berdecak kagum.
“Ah!” Jean berlari ke mobil, ia seolah teringat sesuatu.
Rupanya pria itu mengambil semacam kertas post it yang biasa ia gunakan untuk menemeli jadwal penting di kantor terkait jadwal di perkebunan. Menuliskan sesuatu di atas sana, lantas menempelkan di pintu.
Senyum manis Jean itu terukir indah. “Hazel nanti pasti baca, kan?”
^^^
“Apa?!” Arin terkejut sambil menggenggam ponsel di telinga. Wajahnya bersinar terkena cahaya matahari sore di sisi jendela kantornya.
“Kenapa? Kamu nggak suka Mama datang menginap?”
“Tapi buat apa, Ma? Mama sendiri yang jual aku ke keluarga itu, kenapa Mama ikut campur juga?”
“Siapa yang nggak suka punya mantu ganteng. Gimana-gimana, minimal ganteng...”
Arin tak tahan lagi dengan ocehan sang ibu, ia pun mematikannya sepihak. Hempasan napasnya yang kasar dan tak beraturan itu adalah isi hati dan pikirannya yang sangat acak bagai benang kusut. Entah obsesi apa yang diinginkan orang tuanya.
Yang jelas, jika sang ibu datang menginap, berarti Arin dan Bhumi setidaknya harus satu kamar.
Hanya perlu sekali berkedip, air mata Arin kembali leleh. Mengalir begitu lambat melewati pipinya yang lembut dan bercahaya.
Arin pun pulang lebih awal. Ia merasa kepalanya semakin pening saat kembali meratapi hidupnya. Gejolak itu kembali berkemelut dalam dad4 sehingga membuatnya tak bisa mengendalikan diri, hingga tanpa sadar bahwa alter ego telah menguasai dirinya. Senyum lembut dan tenang sosok Arin, telah berubah menjadi senyum centil lucu.
“Teh Arin?”
Bahkan saat namanya dipanggil, ia tak menoleh sedikitpun karena sosok Hazel telah merasukinya. Membawa tubuh itu pergi dari kantor menuju bukit berkabut di Puncak.
Bahkan selama mengemudi mobil, Hazel begitu menikmatinya sambil bersenandung, menyalakan musik yang ceria, tak peduli kendala macet hingga akhirnya saat gelap baru sampai di rumah kayu.
“Ah, akhirnya sampai rumah!” seru Hazel begitu bersemangat.
Sebelum turun, ia seolah terpaku pada tas yang hendak ia bawa turun. Lantas mengerutkan kening. “Tunggu… ini tas siapa?”
Tas milik Arin yang mewah dan memiliki getaran elegan dengan warna-warna bumi itu seolah tak senada dengan gaya Hazel yang playful.
Hazel bergidik ngeri. “Punya mama kali, ya.”
“Au, ah.” Ia tak peduli dan memilih untuk turun. Menapaki tanah basah di atas heels. “Ya ampun, kenapa aku pake sepatu, ama baju yang kaya gini, sih?”
Sambil terus menggerutu, Hazel berjalan menuju kediamannya. Ia membuka kunci dengan sidik jarinya bersamaan dengan satu pandangan yang membuatnya kaget.
“Apa ini?” Hazel meraih kertas kuning di pintu.
Hazel, kalau udah balik, ayo makan jagung bakar!
-Jeje
“Jeje?” Hazel memiringkan kepalanya sambil berusaha mengingat. “Je… Jean?”
“Oi, Hazel!”
Saat namanya dipanggil, perempuan berambut panjang itu menoleh ke belakang. Ia menemukan sosok Jean yang sedang melambaikan tangan dengan penuh semangat. Senyumnya begitu terang walau berada di tengah kegelapan malam. Pria itu tampak sedang melompat-lompat.
Getaran positifnya seolah mengguncang. Hazel ikut menyunggingkan senyum terbaik. “Jean!”