14. Flash Light

1181 Words
“Teh Arin nggak apa-apa, kan?” Shafa memastikan keadaan atasannya yang sedang mengenakan lotion tangan. “Kemarin saya telepon berulang kali…” “Ah… suka naik-turun kondisiku sejak itu. Jadi, itu juga alasanku yang masih belum sanggup balik ke dunia entertain. Maaf, ya, aku nggak angkat telepon.” “Nggak apa-apa, kok. Rapat kemarin beres.” Arin bangkit dari kursi singgasananya. “Ayo! Anak-anak lagi pada masak, kan?” Hari ini satu angkatan kelas 8 sedang mengadakan kegiatan lomba masak berkelompok yang menjadi salah satu basic skill yang diajarkan sekolah untuk menyadarkan anak-anak dengan kemandirian tersebut. Sekolah Nusa Bangsa yang berada dibawah naungan Yayasan Peduli Indonesia ini memang hanya menerima anak-anak berlatar belakang minim finansial dan yatim piatu demi mewujudkan masa depan mereka yang lebih baik. Tentu saja yayasan yang didirikan serta dipimpin oleh Arin juga masih bernaung di bawah gurita perusahaan milik sang ayah. “Bunda Arin datang!” seru anak-anak mendadak menjadi semakin bersemangat di balik bilik masak mereka yang berada di halaman belakang sekolah nan asri. Arin, Shafa, kepala sekolah dan staf petinggi lainnya tampak sedang melakukan inspeksi. Melihat lebih dekat anak-anak sambil berkomunikasi dengan mereka. “Uhmm… aromanya…” Arin menghirupnya. “Enak, kan, Bun?” tanya mereka antusias. “Kan, baru aromanya.” Arin menaikkan satu alis yang dihadiahi tawa tim lain. Gurat rona wajah Arin juga nanar penuh kebahagiaan. Ia seolah kembali mendapatkan cahayanya. Nestapa dan frustrasi seolah lenyap setiap berinteraksi lebih dekat dengan anak-anak. “Kamu kenapa duduk aja?” tanya Arin. “Bantuin temennya!” “Baru duduk ini, Bunda,” keluhnya sambil tertawa. ^^^ Di pantry kantor tampak beberapa orang berkumpul dengan jarak yang amat rapat seolah tak ingin suara-suara itu bocor keluar. Khmm… dehaman itu membuat sekelompok itu mulai membuat jarak. “Wah… gue tau, nih, lagi pada ngapain,” terka Dudung mengambil kertas gelas untuk menyeduh kopi. “Kalau gosipin gue juga nggak mungkin.” “Ya, kali, Pak!” sembur yang lain. “Pak Bhumi?” Dudung menjentikkan jarinya. “Kayanya kita harus minta keterangan lebih jelas sama Pak Dudung, deh.” Dudung terkekeh. Ia merasa bangga karena seolah menjadi salah satu kepercayaan pria tampan misterius di kantor mereka. “Keterangan apa?” Dudung menyeruput kopi sambil siap mendengar celotehan mereka. “Pak Bhumi kaya make cincin nikah.” Dudung tercekat. Ia kaget sendiri. “Cincin nikah?” “Iya.” “Cincin tunangan!” tegas Dudung yang dihadiahi keterkejutan semua orang. “J-jadi… apapun itu… berarti…” “Lo ngomong apa, sih?” Dudung heran dengan salah satu fangirl fanatik Bhumi yang tampak tak bisa berkata-kata mengenai fakta idolanya. “Jadi, siapa cewek beruntung itu?” Dudung menghempaskan napasnya perlahan. Ia menunduk lesu. “Sayangnya gue juga belum tau.” “Yah!” Yang lain kompak menepuk dahi. Dudung mengangkat kepala. “Tapi kalau gue udah tau pun… nggak akan kasih tau kalian juga.” Ia lantas tertawa puas. Seluruh staf yang ada di kelompok tersebut tampak mengernyit jengah dan bubar dari barisan. Menganggap pria kepala tiga itu tidak seru. Namun langkah mereka semua mendadak seperti mengerem mendadak saat ternyata berpapasan dengan Bhumi yang sedang lewat pantry. Semua kompak membelalak dan gemetaran. Apalagi saat mendapatkan tatapan pedang dari produser sekaligus jurnalis host tersebut. “Kenapa muka kalian?” tanya Bhumi tanpa ada ekspresi berarti di wajahnya. “S-selamat siang, Pak!” Seluruhnya kompak menunduk sopan. Lagi-lagi gurat rona wajah pria itu tak dapat ditafsirkan. Yang jelas sangat sinis dan menegangkan. Pria itu pun berlalu pergi seolah tak memedulikan bawahannya yang lain sembari fokus pada berkas yang ia bawa. “Bhumi… m-maksud saya… Pak Bhumi!” seru Gildan berjalan cepat menghampiri sembari memperbaiki kalimatnya. Lalu tersenyum sekilas pada staf lain dan menyusul kawannya yang sudah masuk ruangan. Gildan segera menutup gorden roller blind agar pembicaraan pribadi mereka tetap terjaga dengan baik. “Lo udah identifikasi hasil camdash gue?” tanya Bhumi menarik kursinya, duduk di sana sambil meletakkan berkas. “Udah.” Kini Gildan yang duduk di hadapannya. “Lagi proses identifikasi plat nomor.” Bhumi menghentikan aktivitasnya. “Lo dapat nomornya?” “Uhm. Mau dibawa ke polisi…?” “Gila, lo!” sentaknya. “Yang ada gue diamuk Ayah.” “Ya, kali… kan, kerjaan gue juga banyak.” Gildan berucap pelan. Meskipun Bhumi adalah tokoh publik yang cukup terkenal sebagai sosok yang kerap tampil di televisi, tak ada satupun orang yang tau latar belakang keluarganya yang merupakan pegiat politik sekaligus bakal calon presiden tahun depan. Bhumi hanya ingin hidup normal, sekaligus tak ingin membuat onar sebelum waktu pengumuman calon presiden. “Trus… untuk wajahnya sama sekali nggak kedeteksi. Cuma matanya dan itu sekilas doang. Dia make maskernya penuh banget,” jelas Gildan lagi, lalu memberikan ponselnya atas hasil rekaman kamera tersebut. “Lo bisa mastiin dia Oddy?” lanjutnya. Bahkan Bhumi sampai harus mengenakan kacamata. Keningnya berkerut, tapi pada akhirnya menggeleng. “Nggak tau. Gue yakin itu Oddy tapi buktinya nggak jelas.” “Makanya. Kita tunggu dulu.” Gildan menyimpan ponselnya. “Tapi kalau itu Oddy… kayanya dia cuma mau ganggu lo, deh.” Bhumi menoleh. Menantikan kelanjutan kalimatnya. “Maksud gue… dia mau negcokin dan dapet atensi dari lo setelah apa yang lo lakuin ke dia dulu. Membalas dendam, dengan cara yang bukan menyakiti secara fisik.” Bhumi bersandar di punggung kursi smabil mengetuk meja beberapa kali dengan jemarinya sambil menyelami pikiran serta asumsinya yang dalam. “Padahal dia pantas dapat itu,” gumamnya. “Tapi dia nggak pernah ngaku kalau b*nuh Bintang.” “Gimana cara bikin dia buat ketemu dan ngomong sama gue langsung alih-alih kaya gini?” Bhumi yang semula menekuri lantai, kini menatap sang kawan penuh ambisi yang membara. Drrt… Belum sempat Gildan menjawab, ponsel Bhumi yang ada di meja bergetar. Tampak barisan nomor tak dikenal yang seolah sudah dikenali olehnya. Bhumi pun segera membukanya. Tampak sebuah foto yang membuatnya tercengang, terbelalak sampai tak bisa berkata-kata. “K-kenapa?” tanya Gildan penasaran. Bhumi tak langsung menjawab. Ia tampak sedang mencerna situasi. “Bhumi!” gertak Gildan. “Gue pergi dulu!” Tanpa mengucap sepatah kata, pria itu memelesat ke sebuah gedung yang ada di gambar tersebut—yakni gedung Yayasan Peduli Indonesia di mana sang istri bekerja. Itu semakin membuat Bhumi gila. Dan foto itulah alasan ia tak ingin membaginya pada Gildan. ^^^ “Ah!” seru Arin terhenyak saat lampu taman mendadak padam saat dirinya berjalan menuruni tangga menuju parkiran di ujung sana. Sempat tergugu lantaran merasa suasana di gedung tersebut cukup menakutkan jika dalam keadaan sepi dan anak-anak sudah kembali ke asrama. Meski sempat bergidik ngeri, Arin berusaha menyalakan flashlight di ponsel. Sayangnya, hanya bertahan sebentar, baterainya habis. Itu membuatnya cukup panik, namun berusaha tenang sambil melangkah pelan-pelan meski perasaannya campur aduk seolah ada yang mengawasi. Namun satu cahaya tiba-tiba membuatnya mengerem langkah. Ia terhenyak. Membeku dalam beberapa waktu sambil mengepalkan tangan menggenggam sling tas di bahu. Perlahan dan sangat hati-hati, Arin menoleh. Matanya yang penuh ketakutan itu perlahan melebar, namun tampak ada ketenangan di sana saat menemukan pria bebalutkan setelan jas sedang membawa ponsel dengan mode flash light menyala. “Bhumi?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD