3. Petaka Lain

1156 Words
Hari-hari yang dilewati Arin begitu hampa setiap harinya. Di seluruh sudut terasa kosong. Tapi Arin masih belum bisa menunjukkan sisi emosionalnya. Ia hanya terdiam. Tak makan. Termenung di kamar tanpa ada satu pun yang datang menenangkan. Jihan punya kehidupan pribadi walau sesekali menghubungi. Orang tuanya? –entah. Arin seperti tumbuh sendiri tanpa mereka sejak kecil. Namun setelah tiga hari berlalu, Arin membuka mata setelah tidur yang tidak berkualitas. Ia tersadar bahwa selama beberapa pagi, tak ada sosok yang memberikan pelukan hangat yang berakhir membuatnya memecahkan tangis. Apalagi figura raksasa yang menampilkan pernikahan Arin dan Iko masih terpampang di kamar. Arin tersedu-sedan sampai dad4-nya terasa sangat sesak menangisi kepergian Iko. Ia seolah baru tersadar bahwa kehilangannya begitu dalam. “Kenapa cepat sekali? Kenapa begitu mendadak?!” Arin menjerit sambil memukul-mukul dad4-nya yang terasa sakit terhimpit godam. Seiring waktu, intensitas tangis itu berkurang lantaran Arin harus kembali bekerja. Saat bekerja di dunia hiburan, banyak rekan yang mendukungnya sehingga Arin dapat kembali beradaptasi meski sinarnya tak begitu terang. Arin tak seceria sebelumnya—itu wajar. Namun saat ia harus mengurus yayasan peduli anak yang ia pimpin, Arin juga kembali tersenyum hangat. Rasanya ingin hari-harinya bersama anak-anak yang murni itu. Dan kesedihan kembali menyapa saat di rumah yang sepi. “Makasih, ya, Bi, semurnya. Aku udah lama nggak makan nasi,” ungkap Arin sambil lahap makan. Bibi menatap iba. “Apa Mbak Arin nggak mau pindah ke rumah ibu sama bapak aja?” Arin tertegun sejenak. Ia menatap semur daging sambil merasakan sesuatu hingga akhirnya tersenyum tipis dan menggeleng. “Aku lebih suka di sini.” “Tapi terlalu sepi dan juga ada kenangan yang…” “Aku mau mempertahankan kenangan itu.” Arin menarik napasnya pelan dan menghelanya juga perlahan. “Karena setiap kenanganku sama Iko, adalah hal terbaik yang ada dalam hidup.” Bibi mengangguk mengerti lantaran dirinya juga salah satu saksi cinta kasih pasangan Arin dan Iko. “Tapi jangan terlalu larut diratapi, ya.” “Iya. Makasih, udah jagain aku. Udah dibikinin makanan walaupun nggak dimakan.” Arin tersenyum lembut. “Arin!” Satu suara itu membuat senyum di wajah perempuan manis itu tenggelam. Ia dapat menduga siapa dibalik pemilik suara tersebut seiring dengan Bibi yang berangsur pergi. Arin menoleh saat hentakan heels itu semakin dekat. “Kenapa Mama ke sini malam-malam?” Ia kemudian terkekeh dan meralat pertanyaannya. “Enggak… kenapa Mama baru ke sini?” “Pakai nanya? Mama sibuk!” Wanita yang sejatinya masih tampak menawan di usia tua itu meletakkan tas mahalnya di atas meja makan. “Bahkan perwakilan sekertaris perusaan aja nggak sanggup buat ngeladenin wartawan. Mama terpaksa turun tangan buat bersuara untuk mewakili kamu.” “Trus…?” “Lusa kita ada makan malam sama Pak Adi.” “Pak Adi?” “Bakal calon presiden tahun depan.” Arin terkekeh. “Mama bukannya nanyain kabarku tapi malah datang dan ngajakin makan malam?” “Buat apa nanyain kabarmu? Kamu pasti sedih ditinggal suami, tapi hidup terus berjalan, kan? Kalau banyak nanya kaya gitu… nggak merubah keadaan!” Arin benar-benar tak habis pikir dengan jalan hidup sang ibu yang hanya memikirkan masa depan, tidak dengan masa sekarang yang harus dilewati. “Ngapain aku harus ikut makan malam itu?” tanya Arin menahan kesal. “Kalau mau kerja sama, itu urusannya sama ayah.” “Kali ini sama kamu.” Arin mengerutkan kening. “Apa?” Mama mengaitkan rambut bob-nya ke belakang telinga. “Kamu harus menikah sama anak cowok satu-satunya mereka.” “Mama!” teriak Arin spontan hingga memekakkan telinga. “Auh!” Mama menyentuh telinganya sembari mengeluh. Tampak berlian di beberapa jemarinya. “Nggak usah pakai teriak!” “Gimana aku nggak teriak?” Mata Arin berkaca-kaca. Urat di lehernya tampak nyata. “Mama jangan konyol, deh.” “Apa yang konyol? Ini demi masa depan kamu dan semuanya!” “Ma!” Arin menjerit lagi. Wajahnya merah padam. Ia sampai kesulitan merangkai kata-kata. “Mas Iko belum lama pergi. Belum ada satu bulan, Mama!” Ia berseru penuh penekanan. “Gimana aku bisa…” Arin tak habis pikir. “Mama pernah kehilangan, kan? Seharusnya mama tau perasaan…” “Mama tau!” selanya. “Tau banget, Arin!” tegas wanita tersebut. “Setelah kakakmu meninggal, mama justru berusaha gimana caranya melangkah maju, karena hidup terus berjalan!” Arin terkekeh menahan amarah. “Tapi nggak secepat ini juga.” “Kenapa? Apa yang salah?” “Masa iddah-ku aja belum selesai!” pekik Arin kesulitan mengendalikan diri. Mama meraih tas mahalnya. Lalu berdiri. Menatap lurus anak satu-satunya itu. “Mama jemput besok lusa dan jangan bikin alasan, apalagi berulah!” Air mata Arin leleh seketika. Perasaannya yang berangsur pulih menjadi kian berantakan sambil memandangi punggung sang ibu yang melenggang begitu saja. “Mama mau jual aku?” tanya Arin dengan nada yang bergetar sehingga menghentikan langkah ibunya. “Kalau kaya gini, sama aja mama jual aku. Mama seorang ibu. Mama juga perempuan.” Mama menoleh. Tatapannya tampak tak dapat ditafsirkan. “Itulah hidup, Arin. Ketika mama membiarkan kamu menikahi Iko, itu sama aja ngejual kamu. Semua orang tua ibarat menjual anak perempuannya pada lelaki lain.” Arin semakin bercucuran air mata. Tangisnya pecah. Dad4 mulai sesak kembali atas kekejaman dunia. “Lebih baik mama yang bilang dari pada ayahmu yang bertindak lebih keras,” tutup sang ibu. Lutut Arin terasa begitu lemas sehingga tak lagi mampu menopang tubuhnya yang lemah sehingga ia terjatuh begitu saja di atas lantai sambil terisak tanpa suara dalam beberapa waktu, hingga akhirnya tangis itu pecah. Napanya seringkali tersengal. ^^^ Arin meminta waktu vakum lagi lebih lama di dunia hiburan dengan berbagai alasan. Sebab, sejak perintah orang tuanya, Arin kembali tak memiliki semangat hidup yang semula sudah mulai menyala. Semua padam seketika. Ia tampak cantik dalam balutan two peace dress—hitam dan putih sepanjang lutut, melangkah di belakang kedua orang tua menuju ruangan vip sebuah restoran mewah. Tak ada senyum, tak ada seri di wajah mempesona Arin. Yang ada hanya tatapan kosong, pasrah. “Selamat malam!” “Selamat datang, Pak Fahri.” Kedua pria paruh baya itu saling menyapa ramah dan begitu hangat—entah itu nyata atau memang untuk kepentingan masing-masing. Yang jelas, Arin sudah lelah. “Oh… ini, anak saya… Arin… Wah, ternyata Pak Adi punya anak ganteng. Kenapa cuma disembunyikan?” “Kayanya nggak asing, deh,” imbuh Mama Rani heboh. Belum sempat selesai memperkenalkan anak masing-masing, kelopak mata Arin yang terasa berat itu membelalak tercengang saat melihat sosok yang sangat ia ingat. Alis tebal, hitam legam dan tajam. Pria itu pun sedang menatapnya, tapi tatapan itu tampak datar. Tak mengartikan apa-apa. Mata Arin bergetar menatapnya. “Yah… begitulah, anak bontot. Dia produser sekaligus host di acara Indo Media dengan rating paling tinggi.” “Oya?” “Saya Bhumi, Om, Tante.” Pria itu menyapa dengan sangat formal, tanpa ada senyum di wajahnya. Arin masih belum bisa mencerna situasi. D-dia…? Jurnalis kurang ajar itu… mau dijodohkan sama aku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD