2. The Dark of March

1030 Words
Jumat siang, Iko datang ke rumah kayu mereka yang berlokasi di Puncak – Bogor itu sendirian lantaran sang istri masih bekerja. Iko datang dengan suka cita karena malam nanti adalah hari kelahiran Sandrinna Humaira Hazelina, sang istri. Iko menyiapkan berbagai hal. Membereskan rumah. Ia juga menyiapkan makan malam sederhana untuk romantic dinner ditemani suara gemericik air terjun kecil yang lokasinya tak jauh dari rumah mereka. Pria pemilik mata bulat itu sangat pandai memasak, sementara sang istri tidak pilih-pilih makanan. Sehingga, Iko ingin memberikan yang terbaik. Kali ini temanya masakan western. “Uhm… istriku pasti suka aromanya.” Iko juga menyalakan lilin-lilin aromaterapi. Dia sungguh lelaki yang manis dan serba bisa. Ia juga fleksibel dan menyenangkan. “Ya, halo?” Iko menjawab sebuah panggilan telepon sambil menata makanan di atas meja. “Sudah jadi? Oke… saya ambil sekarang, ya.” Iko berniat mengambil kue dan bunga pesanannya untuk menyambut hari jadi sang istri yang ke tiga puluh—tapi itu menjadi kejutan terakhir yang menyesakkan. Iko Julian Bachir, menghembuskan napas terakhir secara tak terduga oleh siapapun di usianya yang ke tiga puluh dua—sejak hari itu, Arin membenci detik-detik menuju ulang tahunnya, bahkan hari ulang tahunnya sendiri. Bisakah aku tidak perlu melewati bulan maret dan hanya melompat ke bulan-bulan yang lain? ^^^ Lima orang dengan pakaian senada—celana kargo krem serta kemeja panjang tactical merah. Mereka berjalan di tepi jurang dekat lokasi kejadian yang masih hangat. Dua membawa kamera besar, sementara tiga lagi dengan keperluan masing-masing. Namun, seorang lelaki yang terlihat paling tinggi dan gagah itu berdiri paling depan memberikan id card pada polisi yang berjaga. Adipati Bhumi Kamayel – Producer of Crimevestigation Indo Media TV. Polisi tersebut mengangguk, memberikan akses pada rombongan tersebut yang telah mendapat izin untuk peliputan khusus sejak setelah kejadian. “Pak Bhumi, saya mulai, liputannya, ya?” tanya seorang reporter. Bhumi dengan tatapan tajam serta alis hitam yang lurus itu pun mengangguk tanpa ada ekspresi yang berarti. Liputan berlangsung yang juga melibatkan seorang kriminolog yang sudah bekerja sama dalam program tersebut untuk membahas kejadian nahas tersebut. Sementara di sudut lain, pria gagah, rupawan pemilik alis hitam pekat itu termenung dari atas jurang menatap lokasi yang berada di bawah. Tampak diam tanpa bahasa, namun dalam benaknya sedang merangkai banyak asumsi. ^^^ Kusut rupa Arin dalam momen persemayaman sang suami. Ia tak menangis. Tapi sembab di wajah begitu nyata, pucat pasi bibirnya. Tatapannya kosong mengudara, sedang jasad sang suami sudah ada di hadapan selagi dalam pengajian oleh keluarga. Arin dirangkul hangat oleh Jihan—teman terdekatnya. Perempuan berhijab itu tetap mendampinginya walau sibuk. “Gue nggak bisa suruh lo buat sabar. Karena gue juga nggak bisa bayangin posisi lo saat ini. Tapi semoga luka ini segera membaik, ya, Rin.” Jihan terus mengusap lengan Arin dalam balutan dress hitam panjang serta pashminanya yang juga sudah turun ke leher. Arin tak menjawab. Ia hanya termenung dalam sepi di tengah lantunan ayat suci Al-Quran yang terus bergema dalam ruangan. Tak ada emosi yang terlihat dari gurat wajah Arin. Semua tampak kosong dan kompleks. Meskipun di dalam hanya dipenuhi keluarga inti, tapi di luar rumah modern-minimalis yang cukup mewah milik Arin itu terdapat banyak sekali wartawan yang hendak meliput tentang kepergian suami pemain film tersebut. Hingga saat akan diberangkatkan menuju pemakaman, wartawan sudah mulai beraksi. Hingga beberapa pihak keamanan mencoba berusaha mengamankan, namun terlampau kacau. Sehingga, Mama Rani selaku ibu dari Arin, sekaligus istri dari Fahri Adam Sudibyo—pimpinan Indo Media—perusahaan media terbesar di Indonesia itu pun memberikan perwakilan untuk berbicara, didampingi oleh asistennya sehingga Arin dan rombongan bisa pergi menuju pemakaman. ^^^ Prosesi pemakaman berjalan dengan sangat lancar dan Arin tidak meneteskan air mata pun. Hanya diam tanpa kata, menatap liang di antara udara yang kosong. Sedangkan, Jihan yang mendampinginya pun justru menangis tersedu-sedan di sisinya. Dunia yang berisik itu sama sekali tak ada suaranya bagi Arin. Setiap orang yang mendekat, menyemangati atau memberikan bela sungkawa padanya, perempuan yang hari ini genap 30 tahun itu sama sekali tidak menyahut sama sekali. Bahkan hendak pulang, wartawan mulai mengerumuni Arin yang tampak lesu, kosong dan tak berdaya walau tanpa ada air mata. Petugas berbadan kekar memberikan interupsi pada wartawan dan penjagaan pada aktris sekaligus putri tunggal dari salah satu orang terkaya di Indonesia itu. “Kak Arin, turut berbela sungkawa. Tapi apa ada firasat sebelumnya, Kak?” “Kak Arin, katanya mau merayakan ulang tahun kakak…?” “Apa kejadian begitu aja, Kak? Gimana…” Bahkan saat dihujani pertanyaan tak berperasaan itu, Arin hanya terdiam dan tetap berjalan dengan mata sayunya sembari sesekali terhuyung saat petugas keamanan berusaha mengamankan situasi yang tak kondusif karena kehebohan wartawan. “Apa ini benar kecelakaan atau kejadian berencana?” Dan satu pertanyaan itulah yang akhirnya membuat Arin mengerem langkah, sehingga mengejutkan seluruh wartawan di sana. Ia termenung dalam tiga detik, hingga akhirnya menoleh. Matanya memerah. Rahang mengeras. Tatapan setajam belati ke arah seorang pria berbalut kemeja hitam dengan alis hitam pekatnya di antara keramaian. “Bukannya lebih baik untuk dilakukan autopsy alih-alih dikubur begitu saja?” lanjut pria itu sampai alisnya nyaris menyatu. Tatapannya juga tak kalah dingin. “Kamu siapa? Buat apa ikut campur?!” hardik Arin penuh penekanan. Air matanya mulai membercak di sekitar pelupuk. “Misi, Mas…” Arin menahan tangan petugas keamanan yang hendak mengamankan pria tampan tersebut. Ia ingin melihat wajah pria yang sama sekali tidak punya sopan santun, menandainya dengan jelas dalam benak. Sebab, di antara pertanyaan wartawan yang tak berperasaan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pria tersebut. “Apa pertanyaan itu pantas dilontarkan kepada keluarga yang berduka?” Arin memberikan pertanyaan retorika dengan nada-nada yang ketus. Pria itu hanya mematung. Tatapannya datar. Tapi lurus tegas menatap Arin. “Lihat aja apa yang terjadi dengan orang terdekatmu akibat sopan santun yang kosong itu!” imbuh Arin menitikkan air mata yang meluncur dengan sangat lambat melalui pipinya sambil menahan nyeri di dad4. Suara itu membuat seluruh wartawan yang tadinya ribut, mendadak hehing. Sebab, Arin tampak sangat dingin dan menyeramkan. Berbanding terbalik dengan sosoknya yang biasa dikenal wartawan sebagai salah satu aktris yang begitu ramah dan menyenangkan. “Jaga mulut dan sopan santunmu! Hargai orang yang sedang berduka!” tutup Arin sinis, lantas meninggalkan tempatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD