Mendadak malam itu lebih canggung dari hari-hari biasanya. Ralat, biasanya tidak ada kecanggungan lantaran Arin dan Bhumi hidup dengan kehidupan masing-masing. Hanya kembali selepas bekerja. Tapi malam ini berbeda. Arin keluar dari kamar bersamaan dengan Bhumi yang juga keluar dari kamarnya. Mereka sama-sama salah tingkah, kaku. Entah apa yang harus dilakukan. “Barusan aku beresin kamar buat mama,” kata Bhumi walaupun tidak ada yang bertanya. “U-uhm.” Arin mengaitkan rambut ke belakang telinga. “Aku tata makanan yang udah kamu pesan dulu.” Ia segera beralih ke dapur. Arin lantas merutuki diri atas situasi tak menyenangkan ini sambil membuka bungkus makanan satu-persatu untuk menyambut kedatangan sang ibu agar pernikahan mereka seolah begitu hidup. Ada es buah dan juga dessert hingga ud

