Rintik gerimis di pagi mengiringi kami memulai hari ku hangatkan kopi dan menuangkannya ke dalam gelas mengesap aroma dan rasa dari biji terbaik sambil memilih sebuah keputusan yang pantas aku lakukan. "Ma, Laila berangkat sekolah dulu ya," laila memelukku dan mencium pipi kananku. "Hati-hati ya." hanya itu yang bisa aku katakan padanya "Mama juga jangan terlalu banyak pikiran biasanya selalu bersemangat, tapi kali ini mama begitu lesu," ujarnya. "Mungkin Mama hanya kurang tidur." "Kalo begitu, Mama tidur lagi." Aku menggeleng pelan. "Tidak, Nak, Mama masih banyak urusan," ucapku sambil membenahi scarf yang melilit di leher karena dingin yang tiba-tiba begitu menusuk. Setelah dipikir-pikir, kutelaah memang mengalahkan Erika bukanlah hal yang mudah, maka, aku tergerak untuk men

