Pagi-pagi sekali pintu rumah diketuk berkali-kali, kuhentikan kegiatanku di dapur lalu beranjak menuju pintu membuka panelnya dan ku temukan beberapa petugas polisi sudah menunggu
"Apakah ini benar rumah Ibu Sarah?" tanya salah satu petugas tersebut.
"Benar, saya sendiri," jawabku.
"Harap untuk ikut bersama kami, Bu karena ada laporan atas nama Ibu, laporan atas tindak p**********n dan perbuatan tidak menyenangkan."
Aku sudah menduga ini, gundik suamiku itu ia tidak akan mau dikalahkan dengan mudah, egonya yang besar membuat dia tidak mudah meyerah.
"Siapa yang melaporkan saya?" tanyaku.
"Atas nama nyonya Erika," jawab mereka.
"Tunggu sebentar, karena saya harus mengganti pakaian," kataku sambil berlalu menuju ke kamar.
Putriku yang saat itu turun dari lantai 2 langsung terkejut melihatku dan beberapa anggota polisi yang berada di depan pintu. Ia yang hendak.ke sekolah terpana melihat pria tegap berseragam polisi itu.
"Ada apa Mah?" tanyanya heran sekaligus terkejut.
"Ada sedikit masalah," jawabku.
"Kok bisa sampai ditahan polisi?"
Ia terlihat cemas lalu melanjutkan.
"aku panggilin Papa, ya," usulnya lalu berlari menuju lantai 2 memanggil ayahnya, tak lama kemudian Mas Danu turun disusul juga putriku yang terlihat sangat syok dengan kejadian ini.
"Ada apa ini?" tanya suamiku dengan dengan raut yang tegas.
"Kami harus menahan istri anda, karena dia dia telah membuat seseorang terluka," jawab salah seorang polisi.
"Siapa yang dibuat terluka oleh istri saya?"
"Kuasa hukum Nyonya Erika Susanto melaporkan kejadian p**********n terhadap kami, berikut menyertakan bukti bukti visumnya, jadi kami harus menahan istri Anda," jawab mereka.
Mas Danu terlihat membuang nafas kasar lalu berkata "Baiklah saya akan ikut dengannya pergi."
kami meluncur menuju kantor polisi lalu sesampainya disana aku diarahkan menuju ruang interogasi sedang suamiku juga ikut duduk mengawal proses pemeriksaan ku.
Beberapa kali Mas Danu terlihat menelpon lalu keluar masuk ruangan, sedang aku hanya menjawab pertanyaan petugas lalu disuruh menunggu, kemudian ketika jam menunjukkan pukul 12 siang polisi mengizinkan kami pulang.
Kami bersiap meninggalkan ruangan di kantor polisi tersebut lalu setengah jam kemudian meluncur kami kembali ke rumah dijemput sopir pribadi kami, Pak Sardi.
"Aku sudah bilang 'kan, jika sikap gegabahmu telah membuat masalah yang sangat serius terhadap kita semua, andai Aku tidak segera menanganinya kamu pasti akan masuk penjara, Sarah," kata Mas Danu sambil mengusap wajahnya dan memijit keningnya di mobil.
"Maafkan Aku," ucapku lirih berusaha menunjukkan bahwa ku pasrah pada kesalahanku padahal tidak demikian adanya.
"Aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi,
"Apakah kamu marah padaku, Mas?" tanyaku sambil menatap matanya.
"Tidak, tidak juga. Aku hanya menyesalkan saja bahwa ini seharusnya tidak terjadi." Ia memejamkan mata sambil menyenderkan kepalandi sandaran jok belakang.
"Aku pun tidak ingin ini terjadi, tapi karena wanita itu terus memanasiku sehingga aku tersulut emosi. maaf, Mas," imbuhku pelan.
"Jaga temperamenmu sarah, kita bisa kena masalah yang lebih besar dari ini. Ingat bahwa aku meluaskan bisnis dengan berbagai macam cara, aku tidak ingin semua usahaku sia-sia," tegasnya.
"Meski begitu, sekeras apapun Mas berusaha, tetaplah pada jalan yang benar, jangan menghalalkan segala cara," pintaku.
Ia membuang napas kasar lalu menerawang pada barisan gedung-gedung dan pepohonan di sepanjang jalan.
"Semua demi kamu dan Laila."
"Jangan demi putri dan istri, Mas lupa akan adab dan norma." Aku menahan diri untuk tak membahas masalah hubungan rahasianya.
"Sarah ...." Ia menatapku dalam lalu menggenggam jemariku, "Aku mencintaimu, percayalah,. Aku mencintaimu, jangan mencurigai ku, Sarah."
"Aku tidak begitu," elakku.
"Percayalah, cintaku hanya untukmu,". Imbuhnya lalu mengecup tanganku penuh cinta.
Ah, aku mau muntah, melihat sikapnya, ia memintaku tetap menjadi wanita yang baik dan tidak curiga sementara semua sikapnya selaku mencurigakan dan menyakitkan diriku.
Kalo begini apa artinya uang dan harta jika cinta dan kasih sayang hanya sandiwara belaka. Percuma tinggal dalam istana emas jika hati tak tenang dan tidak menemukan sedikit pun kedamaian.
Sebagai wanita aku tak menuntutnya untuk selalu memandikan diriku dengan uang dan berlian, aku hanya ingin dicintai dan dicukupi dalam kebersahajaan. Bukan bergelimangan perhiasan dunia tapi jiwa merana dan menderita.
Andai ia tahu, bahwa aku masih Sarah yang mencintainya sejak dulu, aku masih belum berubah. Aku masih wanita miskin yabg pernah ia cintai dan menjalani kehidupan susah bersamanya.
Andai saja, ia merasakan apa yang kurasakan sekarang, bagaimana kecewanya aku diselingkuhi, bagaimana gejolak rasa yang mendidih di dalam dadaku. Jiwaku terkoyak menjadi kepingan-kepingan yang sulit direkatkan kembali menjadi sebuah cinta dan kepercayaan.