***
Sudah sudahlah, jangan menambah derita lagi, terlalu banyak jahitan luka, tak sanggup ku menahan sakit.
Semakin sayang, aku padamu, semakin kejam perlakuanmu.
🌺🌺
Air mataku tiba-tiba meleleh mendengar lagu yang diputar dari sebuah radio kota di dalam mobil yang meluncur menuju rumah kami.
Kuremas jemari dan kutahan isakanku agar tak menjadi sedu sedan yang akan membuat sopir dan Mas Danu kebingungan.
Ia tetap tak tahu jika aku telah mengetahui perbuatannya.
Sesampainya di rumah,Laila langsung menyambut ke depan pintu utama, menungguku dengan penuh perasaaan cemas yang terlihat jelas di wajah anakku itu.
"Ma, semua udah bereskah?"
"Iya, Sayang."
"Mama gak sampai ditahan?"
"Gak, buktinya Mama udah pulang, kan?"
"Duh, aku khawatir Ma."
"Oh ya, ada titipan buat Mama dari seorang wanita," ajaknya sambil menarik lenganku menuju dalam rumah.
Sebuah buket dengan bunga warna warni di bungkus kertas dan pita cantik.
Selamat dan terima kasih, atas hadiahnya, aku senang karena apa yang kumau akan semakin terealisasi berkat dirimu.
Begitu bunyi tulisan dalam note kecil berwarna levender itu.
Aku sudah tahu siapa pengirimnya, aku tahu dengan berpura-pura terluka ia semakin menjerat suamiku dengan sikap sok mengalahnya, sayangnya ia tidak sepenuhnya mengenal Mas Danu. Suamiku mungkin mudah tergoda, tapi di sisi lain ia juga mudah bosan dan mencampakkan.
"Bunga dari siapa, Ma?" Suamiku bertanya.
"Dari teman Mama kok, Pa. Teman arisan." Segera kucabut note pada bunga dan kubuang di tempat sampah.
"Kita order maka siang, yuk Ma, Aku lapar," ucap Laila."
"Ok sayang, tentu saja, boleh."
Ia tersenyum dan segera meraih gawainya untuk memesan makanan online.
**
Sore hari,
Suamiku telah berpakaian rapi dan wangi ketika ia menemuiku di kebun belakang yang tengah asyik menyirami koleksi Agnolema dan Miana serta beraneka ragam tanaman hias lain yang menjadi koleksiku.
"Sarah, aku ada kegiatan di luar ya," ucapnya.
"Kemana Mas?" tanyaku.
"Anu ... Uhm, ke rumah Rudi kawan sekolahku dulu, kami mau main billiard di rumahnya," jawab Mas Danu.
"Baik, Mas. Tapi, Mas pulang malamkah?"
"Iya, aku akan terlambat sepertinya karena kawan-kawan lama akan berkumpul di sana."
"Iya, udah. Hati-hati Mas."
Ia mencium pipiku lalu berkata, "Kamu gak usah nungguin aku makan, aku pasti akan makan di sana, ini adalah reuni kami para pria jadi pasti akan sampai larut."
"Iya, Mas. oh ya, kalo Mas nanti mau minum-minum sebaiknya ajak Pak Sardi yang nyupirin, Mas."
"Eng-enggak, enggak usah, aku bisa kok."
"Oke deh."
"Dah ...." Ia melambai sekilas lalu menghilang dari balik pintu belakang.
Sementara ia pergi kulanjutkan menyemprot bunga-bunga kesukaanku. Sekitar lima belas menit sibuk sendiri hingga aku teringat jika Mas Danu bisa saja pergi ke tempat Erika dan melanjutkan kegiatan mereka memadu asmara.
"Arggh ...." Aku menggerutu sendiri dan benci dengan rasa penasaran yang tiba-tiba menyeruak dalam d**a.
Kuraih ponsel dan kucoba menghubungi Rizal asisten pribadi suamiku dan pura-pura kutanyai kemana Bosnya itu.
"Iya, Bu. Ada apa, ada yang bisa saya bantu, Bu?"
"Aku tadi lupa menghubungi suamiku, kira-kira sore ini agenda beliau kemana?"
"Tidak ada di dalam jadwal agenda apa pun, Bu."
Bagus ia jujur sekali
"Lalu, apakah beliau harus menghadiri undangan atau reuni dan semacamnya?"
"Tidak juga Bu?"
"Oh baik kalo begitu, Pak Rizal, terima kasih ya," ucapku.
"Ya, Bu. Sama-sama."
Kumatikan ponsel dan bergegas mengganti pakaian lalu segera meluncur membelah jalanan sore yang lumayan ramai.
Sepanjang jalan aku terus melirik ke kanan dan kiri berharap sebuah keajaiban Tuhan yang mampu menunjukkan di mana suamiku berada.
"Ah, bukankah, Aku punya aplikasi yang terhubung ke peta nyata di mana keberadaan Mas Danu sekarang? Sebaiknya kugunakan."
Kuhentikan mobil ke pinggir lalu mencoba menyalakan peta ponsel lalu memasangnya ke handle khusus HP di dashboard mobil.
Setelah loading beberapa detik, akhirnya kutemukan lokasinya di sebuah restoran bertema alam dekat pantai, tak jauh dari tempatku berada saat ini.
"Tampaknya mereka sangat menyukai pantai, setiap kali bertemu pasti di tempat yang ada pantainya," gumamku sendiri.
Delapan belas menit berkendara lalu aku sampai di sana, kuparkirkan mobil dan langsung masuk dan mencari keberadaan suamiku.
Suasana Restoran yang bertema romantis klasik dengan alunan musik jazz yang lembut membuat siapa pun nyaman berada di sana. Apalagi dengan sejuknya angin dan nuansa senja yang sarat dengan cinta. Lengkap sudah.
Tapi suasana di sini sepi dan beberapa pengunjung yang merupakan turis asing terlihat bercengkerama satu sama lain sambil saling tertawa.
Aku menuju anjungan restoran yang mengarah langsung dengan pemandangan lautan dan langit senja yang mulai jingga, tak jauh dari sana kulihat Mas dan Danu dan Erika saling bermesra, Erika berdiri memegang pagar besi yang menjadi pembatas anjungan sedang suamiku merangkulnya erat dari belakang, sesekali, membisiki sesuatu, tertawa, dan dengan lembut Mas Danu mengecup bahu mulus wanita yang mengenakan gaun off shoulder itu .
"Mas Danu!" teriakku tak bisa menahan lagi.
Suamiku yang mendengarku langsung terkesiap dan kalang kabut melepaskan pelukan dan mengatur jaraknya dengan gundik seksinya itu.
"Sarah?"
"Apa? mas terkejut?"
"Ak-aku gak ... Anu ..."
"Kamu bilang mau reuni, nyatanya kamu di sini dengan wanita yang berseteru denganku, kamu di pihak siapa Mas?"
Ia terlihat pias dan salah tingkah sekali.
"Aku hanya bicara sedikit tentang bisnis dengan Erika," jawabnya tetap menjaga wibawa.
"Bicara sambil pelukan, kalo bukan pacaran apa namanya? Kalo berbisnis ... apa wanita itu dipeluk olah semua laki-laki yang berbisnis dengannya?"
"Jaga mulutmu Sarah!" Pekik wanita yang selalu tampil dengan rambut digerai bergelombang itu dan perhiasan mahal itu.
"Kamu jaga juga sikapmu, meski penampilanmu mahal dan elegan tapi sikapmu murahan, cih!" Aku mendecih muak terhadapnya.
"Sudah Sarah, ayo kita pulang." Mas Danu berusaha merangkul bahuku dan mengajakku pulang.
"Itulah sebabnya Danu tak nyaman denganmu, karena mulutmu kasar dan pedas!" teriakku yang menyebabkan banyak orang memperhatikan kami.
"Dasar pelakor sinting," umpatku sambil berusaha memukulnya.
"Istri tak berguna," balasnya sambil berusaha melempar pot bunga yang berada di meja.
"Coba saja kau lempar, kuhajar kamu!" Ungkapku penuh emosi.
"Sarah,tenanglah," ucap Mas Danu berusaha memelukku.
Plak!
Gubrak!
"Aduh, ya ampun," rintih Mas Danu meringis kesakitan.
Aku menampar dan menginjak kakinya dengan keras sehingga ia oleng dan tersungkur keras di lantai kayu anjungan dan menyebabkan orang menjadi riuh melihat drama kami.
"Kamu berdua memang sampah!" Desisku lalu menjauh.
Baru lima meter melangkah, aku kembali, kemudian kutarik ponsel , dompet dan kunci mobil Mas Danu di meja tempat mereka duduk-duduk terakhir kalinya.
"Pulang jalan kaki, kau, Mas." Aku melotot tajam padanya.