11

717 Words
Ia tiba di rumah yang tak lama ketika aku sampai duluan, Ia membuka pintu pelan sedang aku telah menunggunya di sofa ruang tengah. Ia menghampiri lalu mengambil posisi duduk di sofa yang berhadapan dengan sofaku. Lutatap dia tajam sedang ia hanya membuang tatapannya pada benda benda yang ada di dalam rumah. "Bagaimana keputusanmu terhadap pernikahan kita?" Ucapku membuka oembicaraan. "Aku ... aku telah bersalah menyakitimu," ucapnya. "Itu kamu udah tahu, jika mendua itu pasti menyakitkan salah satu dari kita," balasku. "Pertanyaannya, apakah, kau sungguh mencintai Erika?" Hening seketika. "Kalo kau mencintainya maka menikahlah dengan dia," ucapku datar. Suamiku terkejut seketika. "Apa, kenapa kau terkejut, apa kau pikir aku akan menangis berguling-guling di lantai, menjerit, mencakar wajah dan merobek pakaianku?" Ia masih terdiam seribu bahasa. Sedikit menunduk sambik menatap pada jari-jemarinya. "Aku akan merelakan mu, tapi kau pun harus memberikanku kompensasi dan sebuah pertukaran." "Pertukaran apa?". "Pembagian, agar kita tak sama sama saling merugikan, aku akan ambil semua surat saham dan obligasi perusahaanmu, rumah serta mobil sedangkan kamu bisa melenggang bebas dengan wanita pilihanmu." Ia terdiam masih memilih terdiam. "Kenapa kau keberatan, Mas? Apakah kau merasa pembagian itu akan merugikanmu?" "Kurasa itu tidak adil," jawabnya pelan. Aku tahu pernyataan semacam itu adalah makna dari kata 'Oke, gua nikah lagi, lu gua tinggalin, tapi gua juga gak mau rugi' Aku tahu, ia tak akan semudah itu melepas bisnis yang ia rintis dari nol bersamaku. "Kalo begitu adalah solusi yang tidak akan menyakitkan aku dan Laila? Apakah kami akan bahagia setelah kau tinggal? Kau harus memastikan kalo setelah mencampakkan kami, hidup kami terjamin. Ia mengernyit tanda heran. "Bukankah kau mengambilku dari orang tuaku untuk kau jadikan istri, kau bahagiakan dan sejahterakan? Apa yang terjad kini, setelah aku tak lagi punya pesona kau campakkan begitu saja ke jalan?" Aku menatapnya dengan sorot mata tajam. "Tidak, aku tidak pernah berniat begitu." Ia menggeleng, mengelaknya. "Lalu hubungan macam apa yang jalin degan Erika?" Aku lantang bertanya padanya. "A-aku hanya ...." "Mencoba mencari hiburan?" potongku. Ia menatapku penuh makna, meski diam aku tahu maksudnya adalah 'iya'. Selanjutnya kubuang napas kasar lalu aku bangkit menuju kamar. Akan buang waktu dan menyebabkan sakit tenggorokan jika aku melanjutkan kemarahanku. "Kamu mau kemana?" tanyanya. "Tidur." "Sarah kamu ...." Ia ragu melanjutkan. "Kalo lapar ada makanan di kulkas hangatkan di microwave, atau kalo gak doyan pesan aja di Grab." "Sarah, apakah kemarahanmu akan lama?" "Tergantung jumlah uang yang kau berikan," jawabku santa sambil terus menaiki tangga. "Apakah hubungan ini hanya tentang materi sekarang?" "Yang harus ditanyai adalah dirimu, Mas. Apa arti hubungan ini untukmu, gaya sekedar balas Budi pada wanita yang telah membersamaimu 17 tahun lamanya atau karena masih tersisa cinta?" "Maafka aku," Ucapnya lirih. "Kalimatku ambigu, Mas. Katakan dengan jwlas kamu minta maaf tidak akan selingkuh lagi, atau kau minta izin karena mulai sekarang kau akan tetap berselingkuh." "Sarah, kata-katamu selalu menusuk," ucapnya. "Aku tidak akan menusuk jika aku tak terluka lebih dulu suamiku, ingat kau suamiku, milikku." Aku menuju kamar. Kuhempas tubuhku dan menatap kamar ini,. Kuedarkan tiap sudut yang telah mencipa takan begitu banyak kenangan di anatara kami berdua. "Ah, ... Mengapa naluri laki-laki selalu sama di dunia ini, tidak adakah satu dari mereka yang akan benar-benar setia pada pasangannya?" Aku bertanya tanya pada diri sendiri. Kubuka lemari, kupiindahkah semua berkas yang tadinya kusimpan di bawah pakaian kualihkan menjadi ke bawah kasur kami,kunci brankas perhiasan dan uang kusembunyikan serta sandi angkanya kuganti. Kunci mobil, STNK dan BPKB juga kusembunyikan di tempat yang tidak akan ia ketahui tempatnya dan yang paling penting surat rumah. "Sarah ...." Ia menyusul ku ke kamar. "Kamu lagi apa?" Lanjutnya. "Lagi mengamankan harta benda," jawabku. "Aku tidak akan merebut apa-apa darimu," balasnya. Aku tertawa getir, "Manusia bisa berubah seiring berjalannya waktu dan kondisi," kataku sambil mengunci lemari lalu mengamankan kuncinya. "Pakaianku bagaimana, kalo lemarinya kau kunci,"katanya bimbang. "Lemari pakaian terbuka," jawabku. "Terus uang saku dan kartuku? Kau kemana kan, aku minta kau kembalikan." "Aku akan memberimu kartu kartu debit yang ada limitnya, karena kau juga tahu diri semua kekayaan ini adalah hasil usahamu, tapi aku tak akan membiarkan diriku rugi." Kusodorkan kartud debit berwarna abu-abu padanya. "Berapa isinya?" "Tidak lebih dari lima juta," jawabku. "Astaga ....". Ia menutup wajahnya. Aku ta pernah melihatnya se-mengalah ini, mungkin ia merasa bersalah atau mungkin sedang pura-pura lemah, entahlah. Yang jelas aku harus lebih pintar darinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD