12

1167 Words
Mungkin aku adalah wanita yang terlihat tangguh meski sebenarnya rapuh kuhempas diri sendiri di tempat tidur lagi menangis melepaskan semua sakit yang ada di dalam d**a, aku tahu ini memalukan untuk diriku sendiri tapi aku tidak punya pilihan selain bertahan dan mengamankan apa yang sudah dicapai sejauh ini, bercerai dan jatuh miskin bukan pilihan yang tepat terlebih lagi aku punya anak yang harus kuamankan masa depannya Pukul 12 malam Mas dan membuka pintu kamar ia menghampiriku di tempat tidur lalu merebahkan dirinya. "Sarah kau sudah tidur?" tanyanya. "Ada apa Mas," balasku lirih. "Aku minta maaf," ucapnya pelan. "Mudah saja untuk meminta maaf Mas," kataku, "Tapi untuk mengobati hati yang luka sangat sulit." "Adakah yang bisa aku lakukan untuk mengubah semuanya kembali seperti semula?" "Tidak ada tidak ada yang bisa kamu lakukan, selain membiarkannya berjalan seiring dengan mengalirnya waktu." Aku membalasnya. "Apakah kini kamu bertahan hanya karena harta dan uang?" Pertanyaan yang benar-benar menusuk. "Selain karena, aku juga mencintaimu," potongku dengan cepat. "Kau berhasil mengamankan semuanya, sebenarnya kamu tidak akan rugi Sarah," "Kerugian yang sebenarnya sudah kualami Mas." aku masih tetap membelakanginya meski ia berusaha meraih bahuku agar aku menghadapnya. "Aku sudah keliru." "Keliru yang mengasyikkan," ucapku sambil tertawa getir. Ia hanya membuang nafas kasar lalu merebahkan diri dan menyelimuti badannya kemudian tertidur, sedangkan aku tak mampu sedikit pun memejamkan mata karena pikiran tentang kelanjutan dari hubungan kami dan masa depan anak kami menari-nari di kepala. ** Matahari bersinar begitu cerah di ufuk timur menimpakan cahaya yang hangat pada daun yang basah oleh embun malam tadi. Waktu merangkak menggeliatkan semangat mereka yang mengejar rezeki dan kehidupan, begitu juga kami sekeluarga, suami dan anakku mereka telah siap untuk menuju kegiatan mereka masing-masing. Seperti setiap hari, kami bertemu di meja makan dan menikmati sarapan, hanya saja hari ini kami sarapan dalam diam dan tidak banyak berbicara. "Kok pada diam?" tanya anakku Laila. Aku dan ayahnya saling berpandangan lalu melanjutkan makan kami. "Papa dan Mama aneh, deh," ucapnya sambil menatap kami bergantian. "Enggak kok Sayang." Aku tertawa kecil menutupi rasa yang tidak nyaman di dalam d**a. "Tapi kok kayak nggak saling kenal gitu," sambungnya. "Ini mungkin Papa lagi sakit gigi," kataku sekenanya. "Iyakah Papa?" tanyanya papanya. "Nggak kok," kata Mas Danu, "cuma lagi sariawan," lanjutnya. "Kalau gitu Papa harus minum obat,"ucapnya sambil tersenyum. "Kalau sudah, ayo kita berangkat karena Papa harus segera kerja," ajak Mas Danu. "Oke Pa, aku udah hampir selesai." putriku meneguk jus jeruknya lalu menyeka bibirnya dengan tisu lantas membenahi diri dan tasnya lalu bersiap untuk pergi ke sekolah. "Aku pergi dulu Ma," ucap Mas Danu sambil mencium keningku. Aku tidak menanggapi dengan banyak kata hanya menggumam saja lalu melanjutkan makanku. Kuperhatikan punggung suamiku yang menghilang dengan menutupnya pintu utama kuselipkan doa dan harapan seiring dengan kepergiannya agar suamiku tidak lagi tergoda wanita yang benar-benar terwujud seperti iblis betina macam Erika. Hanya harapan itu yang mampu aku minta kepada Tuhan, aku sungguh tidak ingin pernikahan dan keluarga kecilku hancur hanya karena perbuatan wanita itu. Aku mengatakan kepadanya menikahlah dengan wanita itu, tapi hati kecil ini berkata jujur bahwa aku tidak ingin kehilangan suami. Meski mulut ini berkata dengan begitu lantang untuk memintanya pergi dan menikahlah dengan Erika, namun hakikatnya ... entahlah, ini bukan ini bukan tentang munafik atau menjaga image, tapi tentang bagaimana menjadi tangguh dan tidak mudah dikalahkan meski sebenanrya di dalam hati rapuh. Aku bersyukur karena aku telah mengetahui secepatnya hubungan rahasia suamiku, insting dan intuisi seorang seorang istri memang selalu tajam adanya. Dengan intuisi itu, aku bisa membuktikan dengan cepat dan aku tidak terlihat lemah di depan wanita itu atau suamiku. Aku juga ingin mengatakan kepada wanita di seluruh dunia ini bahwa ketika kita dikhianati janganlah menunjukkan kerapuhan dan air mata karena itu akan membuat pria semakin berada di atas angin dan berbuat sesukanya. Tunjukkan bahwa kita tangguh, tunjukkan bahwa kita siap untuk ditinggalkan dan siap untuk menata hidup sendiri, sehingga mereka pun berpikir dan kemudian menimbang bahwa mungkin mereka akan melepaskan sebuah berlian demi batu yang tidak berharga. Aku tahu Mas Danu sekarang berada dalam penyesalan yang mungkin tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, atau bisa jadi mungkin juga sedang mengatur rencana untuk bisa mengelabuiku dan melanjutkan hubungan rahasianya. ** pukul 9 pagi pesan digawai berdenting aku yang saat itu sedang memasak dapur membantu asistenku, terpaksa meraihnya lalu membuka pesan tersebut terlihat foto profil Erika berada di pesan whatsappku [Apa dengan menahan harta dan semua aset, kau merasa kau sudah menguasainya ]begitu kirimnya ditambah dengan emoji tertawa. Wanta ini selalu membuat geram degan tingkah dan ucapannya. [Setidaknya aku mengamankan apa yang menjadi hakku ] tulisku singkat> [ Kasihan sekali wanita yang hanya hidup menargetkan harta dan uang ] begitu balasnya. Aku hanya menggeleng pelan dan memutar bola mata menatap pesan yang membuat diriku mendadak mual. [ Lebih baik punya target daripada tidak sama sekali, lagipula, apapun target hidupku itu bukan urusanmu ] Ia membalasnya dengan emoji tertawa dan aku segera mematikan ponsel untuk menghindari gangguan yang tidak perlu di pagi hariku. "Buang-buang waktu,"gumamku bersenandika. Setelah selesai membereskan dapur dan rumah kemudian menyiapkan makan siang, aku bergegas naik ke kamar utama untuk membersihkan diri menyegarkan tubuh. Sesudahnya aku duduk dan mengambil novel kesukaanku untuk melanjutkan membacanya kunyalakan ponsel untuk berjaga-jaga siapa tahu suamiku menelpon atau mengirimkan pesan. Tiba-tiba pesan w******p dari wanita itu masuk lagi, Dia mengundangku ke suatu tempat, [ Ada pertemuan klub sosialita pukul jam 4 sore nanti di restoran De perles kamu harus datang ya, aku sudah siapkan kejutan untukmu ] [Oh, tentu saja aku selalu hadir ] balasku atas pesan WhatsAppnya> Kuletakkan ponsel lalu menerawang lewat jendela pada awan yang berarak di langit sana. "Apa kiranya yang dia rencanakan dengan mengundangku, apakah hari ini ia akan membalas untuk mempermalukanku?" begitu pikirku Maka aku harus mencari informasi dan mengulik apa rencananya, ingin kuhubungi salah satu dari sosialita yang dekat dengan Erika kutanyakan apa rencananya. Namun seperti yang kita ketahui dalam perkumpulan seperti itu tidak ada orang yang benar-benar tulus tanpa tidak menyimpan sebuah maksud tertentu ketika mendekati orang lain. Kumpulan para rubah jahat yabgs saling menikam dalam mengggunting dalam lipatan. Aku tahu jika aku nekat untuk bertanya maka bukan sebuah solusi yang kudapatkan, melainkan akan timbul sebuah masalah baru yang menyebabkan sebuah rumor yang lebih besar daripada pertanyaanku tentang Erika. Jujur saat ini kepalaku berdenyut-denyut memikirkan langkah apa yang akan kusiapkan untuk menyelamatkan harga diriku nantinya, Meski aku harus terlihat tetap elegan dan santai. Seperti biasa aku selalu menjadi orang yang disiplin dengan janji pertemuan atau undangan, maka pukul 4 sore Aku telah datang ke Restoran De Perles, resto mewah bintang lima yang hanya bisa di reservasi oleh kalangan pengusaha dan orang orang yang memiliki saldo di atas rata-rata. Aku tak segera membaur sesampainya di sana, lebih baik kupikih menepi untuk menyimak tingkah pola Erika sebelum aku memutuskan untuk bergabung. Aku yakin ia dendam atas kejadian di rest room kemarin. Gayanya yang sok kaya dan pamer itu, membuatku muak dengan tingkahnya, ia tertawa dengan keras sembari memamerkan cincin palsu tempo hari dan tingkahnya itu ... Hmm aku akan membuatnya mati langkah, lihat saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD