Sambil meneguk anggur yang katanya sangat mahal dan berasal dari kota penghasil wine terbaik dunia, ia berseloroh jika tak seorang pun mampu membeli wine ekslusif yang kini ia tuangkan ke gelas masing-masing wanita-wanita istri dan pengusaha kaya tersebut.
"Ini lho Jeng, aku pesan campagne ini dari kotanya langsung, kota campagne," katany penuh gaya.
"Oha ya, wah hebat donk, emang pesannya online?"
"Iya online, tapi tahulah ... Kalo sesuatu yang ekslusif hanya untuk orang-orang tertentu seperti kita ini," ucapnya sambil tersenyum dan menutup mulutnya dengan ujung bibir serta memainkan bola mata, mengundang gelak tawa.
"Jeng Erika, cincinnya itu bagus banget, permata atau berlian itu Jeng?" Tanya salah seorang Nyonya yang merupakan pengusaha impor mutiara.
"Berlian dong, Jeng. Masak aku oake imitasian,heheheh," ucaonya sambil mengibas-ibaskan jemari tangannya sedang Nyonya-nyonya berdecak kagum.
"Itu harganya berapa Jeng?"
"Gak tahu, soalnya bukan aku yang beli, yang belinya ... you know lah." Ia begitu sesumbar. Sementara Nyonya-nyonya lain semakin berdecak kagum.
"Wah Jeng erika ini ... Siapa tuh yang beliiin cincin, calon suami ya," tanya Nyonya Rasti pemilik showroom khusus ponsel-ponsel mahal dan mewah.
"Hmm, anu ... Ya, gitu deh," jawabnya malu-malu tersipu seperti kucing yang disodorkan ikan dalam jumlah banyak.
Karena aku makin gerah melihat tingkahnya maka aku segera membaur dengan langkah santai dan duduk tepat di sebelah Erika.
"Bahas apaan sih, Jeng, heboh banget?" Tanyaku dengan wajah datar sambil menuangkan wine ke gelas sendiri dan meminumnya, mengarahkan wajah dan tatapanku pada si pemilik botol wine, sedang ia tersenyum dengan aksen yang dipaksakan di hadapan para sosialita.
"Eh, gak ada kok," jawabnya pura-pura tertawa kecil.
"Itu ... Jeng Sarah, Jeng Erika dibeliin cincin mahal sama tunangannya," cetus seorang Nyonya yang duduk di samping Nyonya Rasti.
"Oh ya," kataku sambil berpura-pura menatapnya antusias.
"Coba lihat," kataku sambil menarik tangannya dengan sedikit penekanan.
"Duh, ya ampun ini salah besar, ckckck ..." Aku mendecak sendiri yang menimbulkan raut keheranan dari teman-teman arisanku itu.
"Kok salah, Jeng Sarah."
"Ini benar-benar salah Mas Danu, ia gak confirm dulu kalo mau beli beli barang,. Buktinya sekarang nah, terpaksa aku memakai cincin yang sama dengan Jeng Erika," kataku pura-pura tidak enak dan malu.
Mereka semua memandang jemariku yang memakai cincin yang modelnya sama dengan Erika hanya saja, milikku asli, sedang dia palsu.
"Oaalah kok bisa sama gitu, bukannya kalo order di perusaahan berlian tertentu, harus reservasi dulu, lalu menentukan model agar terjaga keunikan dan keekslusifannya," cetus My. Melda.
"Iya nih, lagian gak mungkin kan, kita pesannya barengan, ini salah Mas Danu, akhirnya kayak gini kan, aku dikira plagiat gaya," kataku sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kalo mau verifikasi ini asli atau bukan aku bawa suratnya kok." Aku merogoh saku tas lalu sejurus kemudian mengeluarkan secarik kertas nota dan sertifikat keaslian berlianku.
Erika yang melihat itu mendadak terlihat panik dan gelagapan.
"Sertif punyamu mana Jeng?" Tanyaku dengan senyum paling manis.
"Ak-aku gak bawa?"
"Oh ...." aku mengangguk-angguk paham.
"Itu berapa karat, Jeng?" Lanjutku.
"Anu ... eng ... satu setengah karat, Jeng," jawabnya.
"Lho bukannya itu ukuran dan kejernihan,, serta potongannya juga sama dengan milikku Jeng?" Tanyaku sambil membandingkan cincinnya yang membuat ia semakin salah tingkah, malu dan terlihat tidak nyaman.
"Kualitasnya lain?" sergahnya.
"Lho dimana-mana udah ada standar untuk berlian kelas c harga rata rata perkarat 160 juta,
Jadi kalo seukuran cincin kita berdua itu karatnya paling seperempat, satu setengah karat, mah kejauhan," kataku mempermalukannya dan jujur ucapanku seketika membuat wajahnya merah padam.
"Emangnya kamu belinya berapa, Jeng?" Jeng Ana mulai penasaran dan ingin tahu.
"16 juta, kok, murah. Ya, mungkin kemarin aku salah baca info dan pas sertifnya datang langsung kusimpan saking buru-buru mau pakai" katanya menahan malu dan sedikit menunduk menggigit bibir.
Aku langsung tertawa mendengarnya.
"Berlian termurah aja grade c, per karatnya bisa berkisar di angka160 jutaan , kalo seperempat berarti 40 juta kan ya?"
"Iya, Betul, ini aja aku belinya 700 juta, padahal cuma dua karat, tapi karena potongannya model Marquise, ya terpaksa deh, kubayar demi keinginanku memiliki he he he," imbuh Nyonya Rasti lagi.
Erika yang merasa tersudut seketika ingin bangkit tapi karena sungka pada nyonya-nyonya lain yang lebih kaya darinya, ia tak jadi bangun dari tempat duduknya.
"Aduh Jeng kita pesan makanan yuk, aku laper," kata Erika mengalihkan pembicaran.
"Heheh iya, dari pada bahas berlian mulu," kataku menimpali sambil meliriknya dengan penuh kemenangan.
Hehehe
***
"Kamu puas mempermalukanku?"
Tiba tiba ia mendatangiku di wastafel rest room usai membersihkan tangan.
Sebenarnya aku sedikit malas menanggapi gundik Mas Danu ini, tapi aku hanya berbalik menatapnya santai lantas memutar bola mata mengejeknya.
"Sarah, jangan mengundang emosiku, hanya karena aku kemarin kalah, bukan berarti aku ga bisa balas," katanya.
"Daripada mengajakku bertengkar, lebih baik kau pikirkan tentang berlianmu itu," kataku.
"Memangnya kenapa dengan cincinku?"
"Ini dibeli di hari yang sama, mungkin salah satunya adalah ... He he he," ucapku melengang santai sedang dia marah dan menghentakkan lantai di ubin restroom dengan keras.
"Jangan terlalu emosi nanti heel-mu patah," kataku.
"Diam kamu, s****n!"
*
Pesta berakhir dengan tenang, masing masing membubarkan diri dan kembali ke rumah mereka.
Tinggallah aku dan si gundik itu menunggu mobil di pelataran restoran.
"Apa yang kau lihat?" Katanya ketika aku meliriknya sekilas.
"Aduh aku cuma mau mastiin, kayak ada bau-bau kemarahan terselubung di sekitar sini," kataku santai.
"Sarah, jangan bikin aku marah, ini bisa jadi masalah buatmu dan Danu," geramnya.
"Lho, kok aku, bukannya kamu?" balasku santai.
"Sulit dipercaya, kamu ternyata memang suka mencari gara-gara," desisnya.
"He he he, aku mah santai aja, suami ada, harta benda ada, anak pun ada, tidak ada yang kukhawatirkan." Aku memandang pada langit-langit dengan taburan bintang.
"Ada orang yang hidupnya hampa dan sengaja menjajakan diri agar segera dicintai ...."
"Jangan keterlaluan aku bisa rekam dan laporkan ucapanmu Sarah."
"Silakan, aku gak peduli."
Di waktu bersamaan mobilku datang dibawakan juru parkir. Kukangkahkan melenggang melewatinya sedikit menyenggol mantel bulu yang ia kenakan.
"Kenakan jaketmu dengan benar, karena mungkin saja mobilmu tidak akan datang."
Aku naik mobil dengan senyum elegan lalu meninggalnya dengan sedikit tarikan pedal gas dengan keras agar aroma Pertamax menerpa pakaiannya.
Hiahahah
"Setaaaan ...."
Begitu jeritan yang terdengar samar-samar karena kaca mobilku sudah tertutup rapat.
Ah, sayang sekali, cantik, mandiri, mewah tapi jadi pelakor.