14

1206 Words

Kubuka pintu rumah dengan santai melewati ruang tamu yang di sana sudah menunggu suamiku. Kulirik Jam dinding bergaya klasik berukuran besar yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. "Kamu dari mana, Ma?" "Dari arisan Pa." "Kok lama banget," tanyanya. "Udah biasa kan, Pa?" "Apakah tidak terjadi keributan di sana?" tanyanya tiba-tiba, suaranya memantul dalam keheningan rumah seolah menginterogasi kesalahanku. Aku langsung menangkap, tampaknya wanita itu tak melewatkan sedikit hal pun untuk tidak disampaikan pada suamiku. "Apa maksudmu, Mas?" tanyaku membalikkan badan. "Kamu bertengkar lagi" "Gak." "Tapi ...." Gumbrang .... Aku sudah muak, sebingga reflek kuhempas aksesoris yang terpajang di bufet depan. "Selalu tentang Erika, tentang laporan wanita itu lagi!" Desisku marah.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD