20

1091 Words

Negara kuparkirkan mobil ke tepi jalan, kulangkahkan kaki lebih cepat dari sebelumnya seribu langkah lebih cepat agar segera sampai ke tempat di mana Erika dan teman Laila sedah bercanda dan mengobrol bersama. "Kamu dekat dengannya?" "Iya, Tante," jawab pemuda itu tertawa. "Tapi dia anak calon suamiku," ujarnya sambil meneguk kopinya. "Ya, gak masalah, kan, Tan? Bisa sekalian kan?" "Hahaha ...." Mereka tertawa tanpa menyadari jika aku sudah ada di dekat mereka. Kuseret kursi yang ada di hadapannya lalu duduk manis dan sukses membuat mereka terkejut bukan kepalang dan serentak bungkam. "Apa? Kok bungkam?" Mereka berdua saling pandang. "Satunya gundik suamiku dan satu lagi gebetan anakku, mereka berdua kompak," ujarku sinis. Mereka masih membisu. "Aku tak tahu apa rencana kamu be

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD