Hari ini sehabis UKK selesai, seluruh murid SMAN 01 Cakrawiguna tidak diperkenankan langsung pulang ke rumah masing-masing. Masing-masing kelas harus berdiskusi, menentukan mereka akan menampilkan apa untuk pensi di akhir tahun ajaran. Memang sudah tradisi di sekolah ini sehabis UKK, para muridnya bisa mengembangkan bakat serta kebolehan mereka.
Seperti kelas X IPA 1. Kini Bintang sudah berdiri di depan kelas, sedang menampung ide yang dimiliki oleh teman sekelasnya.
“Bin, gimana kalau drama musikal?” usul Anjani setelah dia mengangkat satu tangannya, dan Bintang memberikan kesempatan untuk mengusulkan idenya.
“Drama musikal?” tanya Raffa takut salah dengar. “Emang nggak mepet banget ya, Ni?”
“Kelas kita dapet giliran tampil hari kelima pensi.” Tambah Gio.
“Raffa bener, Ni. Kata gue sih bakal mepet banget.” Dewi juga setuju.
Raka mengangguk setuju. “Iya, belum buat naskah, nentuin ini-itu, buatin properti, dan masih banyak lagi.”
Bintang menghela nafas. “Mereka bener, Ni. Lo gak keberatan, kan?”
Anjani terlihat seperti melamun padahal sedang memikirkan sesuatu. “Eh, iya juga, ya? Kalian bener, kita gak punya waktu banyak.”
“Ada usul lagi?” Tanya Bintang seraya menatap teman sekelasnya. “Gak usah malu, atau apa. Dengan lo yang mengusulkan ide, buat teman yang lain juga jadi punya idenya. Ini demi kelas kita juga.”
Raka sebenarnya sudah ingin pipis, tapi dia merasa tidak enak karena kini mereka sedang diskusi. Sekarang, dia benar-benar tidak tahan. Raka mengangkat sebelah tangannya. “Bin...” panggilnya agak gemetar.
Teman sekelasnya, kini melihat Raka. Penasaran dengan ide laki-laki yang biasanya cemerlang ini.
“Iya, Ka? Lo ada usul apa?” tanya Bintang.
“Gu-gue... gue pengin pipis...” Setelah mengatakan itu, Raka berdiri lalu berlari meninggalkan kelas yang tentu disambut sorakan teman sekelasnya.
“Sianjir gue kira apaan!” Celetuk Bobby yang disambut dengan gelak tawa lainnya. Bintang hanya tersenyum tipis melihat kelakuan temannya itu.
***
Tidak berbeda jauh dengan keadaan kelas Bintang, kelas Ana pun sedang melakukan diskusi. Bedanya, jika di kelas Bintang proses diskusi berjalan lancar, tertib, dan tanpa melibatkan emosi, kelas Ana justru sebaliknya. Beberapa teman Ana, termasuk Diana teman sebangkunya, kini terlibat cekcok karena perbedaan suatu pendapat. Selama proses diskusi, Ana diam saja.
“Udah bagus usul gue, kelas kita modern dance aja!” Usul Diana yang tak mau kalah. Disambut koor setuju dari sebagian anak perempuan, bahkan Riska. Si ketua kelas itu bahkan tidak bisa bersikap netral. Bukan pemimpin kompeten.
Mikael menatap Diana di belakang kursinya dengan sengit. “Ya lo pikir aja kalau kelas kita modern dance, anak cowok gimana? Pikir dong!”
“Gak akan ada boyband kalau cowok gak bisa dance!” Seru Dera.
Juna menunjuk Dera sinis. “Sori, kita bukan plastik yang suka kalian puja-puja padahal muka aja gak asli.”
“Lo...!” Diana sangat kesal sampai dia ke meja Juna, menggebrak meja si laki-laki yang baru mengatakan kalau boyband itu plastik.
Takut-takut Ana mengacungkan tangannya. “Permisi, aku boleh ke toilet sebentar?” Dia sebenarnya tidak begitu ingin pipis, tapi dia hanya ingin sekedar keluar karena pusing dengan atmosfer kelasnya yang panas karena emosi.
Seluruh anak menatap Ana tajam. Riska yang berdiri di depan kelas hanya melambaikan tangan ke Ana seperti mengusir, yang Ana artikan kalau Riska beri izin dia untuk keluar.
Begitu keluar kelas, dia merasa adem. Lorong depan kelasnya yang sepi, ditambah keadaan di luar juga gerimis. Ana rasanya ingin tetap diluar saja, malas untuk kembali ke kelas hanya melihat orang-orang emosi.
Saat dia berjalan ke toilet dekat kelasnya, tertera di pintu jika toilet tengah dalam masa perbaikan. Mau tak mau Ana pergi ke toilet kelas 10 karena dari segi jarak, setidaknya tidak begitu jauh dibandingkan toilet kelas 12.
Beruntung toilet kelas 10 tidak dalam masa perbaikan. Setelah urusannya di toilet selesai, Ana hendak kembali ke kelasnya. Jika dipikir-pikir lagi, dia takut kalau Riska marah besar padanya karena tidak kunjung kembali. Apalagi kalau ia tahu Ana berencana memboloskan diri tidak ikut diskusi.
Baru saja Ana berjalan beberapa langkah, terdengar suara yang memanggil namanya dari arah belakang. “Ana...”
Ana berhenti dan menengok, ada Jordhy yang tengah memasukkan tangan ke saku celana abunya. Melihat Ana yang menengok, membuat Jordhy melangkah mendekat berdiri di depan gadis itu.
“Bisa ikut gue sebentar, gak? Ada yang mau gue omongin ke lo.”
“Hm, ngomongin apa, ya?” tanya Ana bingung.
Jordhy melihat ke sekitar, lalu kembali menatap mata besar dan bulatnya Ana. “Yang pasti, sesuatu yang mau gue omongin, gak bisa gue omongin di sini. Harus di tempat lain. Ayo...” Sebelum Ana menyetujui, Jordhy bahkan memegang tangan Ana menarik gadis itu untuk mengikuti langkah kakinya.
***
Demi apapun Raka merasa lega karena urinnya sudah keluar. Kakinya tak begitu sedingin tadi, dan intinya dia benar-benar bersyukur karena kotoran dalam tubuhnya sudah keluar.
Raka keluar toilet sambil bersiul riang. Begitu dia keluar toilet, siulannya berhenti karena di ujung koridor tempat dia berada, dia melihat tangan seorang gadis yang seperti diseret oleh laki-laki entah akan ke mana mereka.
Langkah kaki si laki-laki kelewat cepat, membuat perempuan pendek itu agak kewalahan mengikutinya.
Satu pikiran Raka mengarah jika si perempuan itu pasti dipaksa. Entahlah, instingnya tiba-tiba mengatakan itu.
Alhasil Raka jadi penasaran.
Diikutinya mereka oleh Raka dengan mengendap-endap, supaya mereka tidak sadar jika sedang Raka buntuti. Demi apapun dia jadi penasaran. Beginilah Raka yang mempunyai insting kepo tinggi sejenis Bobby padahal dia laki-laki.
Raka yang masih membuntuti mereka agak curiga karena kini mereka ke lorong sepi, di dekat gudang. Insting kepo Raka makin meningkat. Mereka ingin melakukan apa di tempat paling sepi dan tak terjamah di SMAN 01 Cakrawiguna selain pohon mistis? Mencurigakan.
Benar, mereka berhenti di sana. Saat mereka berhenti, Raka juga berhenti lalu bersumbunyi di tempat yang tidak begitu jauh dengan keberadaan mereka. Di tempatnya, dia masih bisa melihat dengan jelas apa yang akan dilakukan mereka. Dugaan Raka mengatakan, pasti mereka mau pacaran mumpung ini lagi di tempat sepi. Dia tidak peduli kalau predikatnya kini jadi tukang intip.
Tetapi ketika sepasang itu berdiri saling berhadapan di depan Raka, Raka terkejut karena perempuan itu adalah Ana, dan laki-lakinya adalah Jordhy. Makin besar saja rasa penasarannya.
“Mereka ngapain?”
***
Ana bingung kenapa Jordhy harus membawanya ke sini jika hanya untuk membicarakan sesuatu. Terlebih ini di tempat sepi, Ana jadi merasa was-was.
“Kamu mau ngomongin apa, Jo?” tanya Ana karena Jordhy hanya berdiri di hadapannya, menatap matanya tanpa mengatakan sesuatu padahal tadi dia yang akan mengajaknya bicara.
Tatapan mata Jordhy terasa berbeda. Ada sesuatu yang tidak Ana mengerti apa maknanya. Maka dari itu Ana menunduk, memainkan jari-jarinya gugup.
“Gue suka sama lo, Na...” Ucap Jordhy dengan suara serak, dan Ana bisa merasakan hembusan nafas Jordhy menyapu wajahnya.
Ana mendongak, menatap Jordhy tidak percaya. Dia tidak tahu bagaimana merespon pernyataan Jordhy. Baru kali pertama ada seseorang yang menyukainya dan seumur hidupnya, Ana sendiri tidak pernah menyukai seseorang dengan amat spesial, maksudnya menyukai laki-laki. Dia tidak lesbi, hanya saja kesendirian juga tekadnya untuk serius belajar membuat Ana tak punya waktu untuk itu.
Maka dari itu Ana diam saja. Dia tidak tahu harus menanggapinya dengan apa. Katakanlah dia bodoh soal perasaan.
Melihat Ana yang diam saja, membuat Jordhy geram.
Didorongnya tubuh kurus Ana ke dinding, lalu dia mencekik gadis itu.
Raka yang masih terkejut akibat pernyataan Jordhy yang bilang kalau dia menyukai Ana, dibuat tambah terkejut karena kakak kelas yang terkenal kebaikan, kesopanan, dan kesantunannya itu, kini mencekik Ana sampai hampir kehabisan nafas. Dia tidak menyangka Jordhy sampai sebegitunya.
Sebenarnya Raka ingin bangkit melawan, tapi dia masih penasaran dengan apa yang akan dilakukan senior yang sudah dijadikannya panutan itu, tapi punya muka dua yang tidak Raka dan tentunya semua orang sangka.
“Kenapa lo diem kayak orang bego?! Gue bilang, gue suka sama lo Ana! Lo harusnya respon apa kek, lo harusnya ngangguk, dan biarin gue buat ngerasain tubuh lo! Bukan diem aja kayak gini, t***l!”
Raka bahkan sampai menahan nafas ketika kata-kata itu keluar dari bibir Jordhy yang seingat Raka, saat MOS memberikan nasihat agar jadi siswa teladan juga berprestasi di sekolah. Kakak pembimbing MOS-nya yang tak dia sangka...
Ana sudah menangis karena cekikan Jordhy lumayan kuat. Ana ketakutan sekarang. Ingin berteriak pun rasanya susah.
“Karena lo diem aja dan gak ngerespon apapun...” Jordhy kini tersenyum asimetris. “... itu artinya lo ngizinin gue untuk ngerasain tubuh lo.”
Setelah mengatakan itu, Jordhy mencium bibir Ana dengan brutal. Sebisa mungkin Ana menghindar, tapi tak bisa karena Jordhy pintar membaca situasi. Ia berusaha memberontak dengan memukul Jordhy dengan tangannya, tapi itu sama sekali tak mempan. Laki-laki itu jauh lebih kuat.
Dalam hati Ana meminta pertolongan. Siapapun...
Bahkan air mata Ana makin meleleh saat dirasanya Jordhy membuka satu persatu kancing seragamnya. Ana ingin melawannya, tapi Jordhy seakan tak akan membiarkan Ana melakukan itu.
Raka membatu di tempatnya. Dia ingin sekali tidak percaya dengan yang kali ini dilihatnya. Tapi nyatanya, ini memang nyata.
Pikiran Raka benar-benar buntu. Niatnya yang akan menonjok Jordhy kini sudah menguap entah ke mana karena dia sendiri merasakan pikirannya banyak, benaknya berkecamuk. Dia juga masih lemas karena tidak percaya pada kelakuan Jordhy yang sangat b***t. Terlebih Ana yang jadi korbannya.
Ternyata niat Jordhy yang mendekati Ana selama ini hanya untuk ini.
Satu pikirannya melintas. Tiba-tiba dia teringat Bintang.
Pelan-pelan pergi, lalu Raka berlari dengan cepat ke kelasnya.