Chap. 21 || His Plan

829 Words
Bintang berdecak. “Nggak elah, apaan sih, kalian!” Sentaknya.             “Mana?” tanya Raka masih kepo.             “Itu yang sama Kak Jordhy.” Kata Bobby masih sibuk memberikan bumbu di mie ayamnya. Saos, kecap, garam, dia masukkan ke mangkoknya.             “Oohh.... yang lagi disuapin batagor sama Kak Jordhy.” Raka bener-bener gak peka. Dia yang bilang gitu, kesannya manas-manasin Bintang banget. Setelah rasa keponya terobati, Raka kembali duduk dan memakan mie ayamnya.             Spontan Raffa dan Bobby ikut melihat ke meja kantin di mana Kak Jordhy dan Ana masih ada di sana. “Anjirr...!” Raffa dan Bobby mengumpat bersamaan.             “Mereka so sweet amat. Gue jadi pengin punya doi.” Kata Bobby riang.             Ana diam saja melihat Jordhy yang sedang makan. Saat dirasanya Jordhy sedang menatapnya intens seperti tadi, Ana menunduk memainkan jari-jarinya.             “Udah makan, Na?” tanya Jordhy. Ia mengangkat satu sendok batagor, di dekatkannya ke mulut Ana. “Aaaa... lo harus makan, Na.”             “Nggak, Jo. Aku udah makan, kok.” Ana menolak halus.             “Oh, ya? Makan apa tadi?” tanya Jordhy terdengar protektif. “Pasti makan roti lagi deh, iya kan?” pertanyannya bernada tak suka.             Ana diam saja, tidak mengelak.                            Jordhy berdecak. “Udah gue bilang, jangan makan roti aja. Gak kenyang, kecuali lo makan nasi.” Dia kembali mendekatkan satu sendok batagor ke mulut Ana. “Aaa... pesawatnya mau masuk. Makan ya, Na? Gue nggak mau lo sakit.”             Melihat Jordhy begitu terus, mau tidak mau Ana membuka mulutnya. Dia membiarkan Jordhy menyuapinya setelah beberapa kali tadi dia tolak. Ana tidak sadar bahkan jika mereka tadi makan dalam satu sendok yang sama.             “Gue gak mau cewek gue sakit.” Kata Jordhy sambil menatapnya sendu, yang tentu tidak Ana pahami kenapa.             Teman-temannya, masih saja mengejek Bintang cemburu. Bintang tidak berminat juga meladeninya. Kini dia hanya mengaduk-aduk mie ayamnya. Suatu hal yang tidak Bintang sangka, baru kali ini dia gak minat makan mie ayam.             “Ngaku aja sih, kalau cemburu mah, Bin.” Kata Raka sebelum minum teh botol yang jadi pesanannya.             “Ho’oh.” Sahut Raffa yang masih mengunyah mie-nya. “Kalau lo nya gak cembokur, mie ayam udah habis dari tadi tuh.”             “Biasanya kalau urusan mie ayam, Bintang kan yang duluan habis. Lah ini efek cemburu, mie ayam dia aja belum dimakan-makan.” Kata Bobby, lalu teman sebangkunya itu tertawa. Nista memang.             Bintang kini memasang mode mute, menganggap suara temannya tidak ia dengar. Persetan dia sendiri juga... sedikit terpancing.             “Sambelnya banyakin, Bin. Mumpung lo lagi cemburu. Tambah fire kan, tuh. Siapa tau rasa cemburu lo makin besar.”             Sialan. Ternyata Bobby benar-benar niat memanas-manasi Bintang.   ***             Empat orang laki-laki yang terkenal baik di mata semua orang, kini ada di ruang OSIS sedang merokok. Kebetulan kelas mereka jam kosong, dan ruangan di sini pun sepi. Mereka juga tahu kalau CCTV di ruang OSIS rusak dan belum lagi digantikan dengan yang baru. Kesempatan bagus.             “Boss, lo udah pepet Arniana berapa bulan? Kapan mainin dia, boss? Kok, lama bener sih, pepetin cewek. Tumben aja gitu.” Kata Budi di sela-sela hisapan rokoknya. Dia merasa aneh saja dengan boss-nya.             “Andhika juga udah nanyain ke gue kapan lo mainin dianya. Dia nagih terus soalnya udah mau UN juga bentar lagi.” Sahut Bima. Dia mengangkat kaki panjangnya ke atas meja. “Takut dia gak kebagian jatah kayaknya.”             Rio memicing menatap boss-nya itu. “Lo gak beneran naksir dia, kan?” Ia jadi curiga kalau Jordhy naksir sampai-sampai tidak langsung memainkan Ana.             Jordhy tertawa. “Bego banget kalau gue naksir cewek bego kayak Ana.”             “Lah, terus?” Rio mencari makna dari tatapan kosong Jordhy sekarang.             “Biasanya lo kalau pepetin cewek cepet, boss. Lah si Arniana udah berapa bulan coba, dan lo gak langsung mainin dia.”             “Jadi siapapun pasti nyangkanya lo naksir sama Arniana.” Tandas Bima.             Jordhy berdiri dari kursi putar khusus ketua OSIS yang tadi didudukinya. Dia menepuk bahu satu persatu temannya. “Take it easy, calm down.”             Bima geleng-geleng kepala. “Sumpah, ini rekor terlama lo dalam pepetin cewek. Biasanya sebulan langsung lo mainin terus jadi bekas.”             Jordhy tersenyum misterius. “Ada tujuannya. Ditambah si Ana ini ya, beda banget sama cewek yang suka gue mainin. Dia bego, polos, kolot lagi. Makanya gue suka begini dulu sama dia agak lama.”             “Oohh...” sahut tiga temannya bersamaan.             “Si bego Ana itu juga belum keliatan tanda kalau dia jatuh ke gue.”             Rio membelalak menatap Jordhy tak percaya. “Demi apaan?!”             “Pesona lo turun drastis dong, boss.” Celetuk Budi sambil geleng-geleng kepala karena ini masuk ke fakta terbaru yang membuat mereka tercengang.             Bima tertawa meremehkan. “Bener-bener bego berarti itu cewek.” Setelah tawanya berhenti, Bima menatap Jordhy serius. “Jadi, kapan lo mainin dianya?”             Senyum miring di bibir Jordhy terpatri. Ia sudah merencanakan semua ini dengan matang, dan dia yakin rencananya ini akan berhasil.               “Habis UKK sebelum classmeeting, boleh lah.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD