Chap. 20 || Hah?

905 Words
Ana makan di kantin sendirian seperti biasa. Demi menghemat uang jajan supaya bisa dia tabung, Ana hanya membeli roti dan sebotol air mineral untuk dia ganjal perut sampai pulang sekolah. Gak akan cukup memang, toh, banyak artikel yang mengatakan, kita akan fokus belajar jika perut kita lapar.             Hiruk pikuk kantin yang ramai karena ini jam istirahat kedua, tidak begitu Ana pedulikan. Banyak canda tawa, obrolan santai di sini. Meski sendirian, tidak masalah tidak ada teman mengobrol juga.             Sementara itu di sisi lain kantin, Bintang dan tiga temannya baru masuk ke kantin. Ketika tiga temannya celingukkan mencari bangku kosong, atensi Bintang malah melihat Ana yang sedang lahap memakan rotinya, sesekali dia juga minum air putih. Gadis itu sendirian di antara keramaian.             “Bin, ada bangku kosong di deket stan roti bakar.” Ajak Raffa. Ditariknya Bintang ke sana. Raffa tidak sadar saja jika temannya itu masih melihat Ana.             Berhubung pesanan mereka berempat sama, Raka mewakili untuk pesan makanan mereka. Mie ayam ceker.             “Bingung gue. Ini kantin gak istirahat pertama, kedua, tetep aja rame.” Di depan Bintang, ada Bobby yang menggelengkan kepala tak habis pikir.             Di sebelahnya, Raffa merangkul Bobby. “Ya, gini aja, deh. Kita juga ada di kantin, kan? Kita ngapain kalau gak makan? Kenapa kita makan? Karena kita  laper. Gitu aja. Mereka juga mikirnya sama kayak kita.”             Bobby berdecak. “Ya, pengin gitu pas istirahat gak begitu rame ini kantin. Pusing gue liat orang banyak.”             Raffa mencibir. “Halah! Nontonin konser bisa lo. Kemaren-kemaren apaan nonton konsernya The Chainsmokers? Bukan tempat rame gitu?”             “Beda situasi kali, Raf!”             Raffa terkekeh. Dia melihat Bintang tampak melamun, padahal dia masih melihat Ana yang sudah selesai memakan roti, sedang melipat bungkusnya jadi lipatan terkecil. Sudah menjadi kebiasaan Ana.             “Bin, lo ngelamunin apa?” tanya Raffa.             Bobby juga tak kalah penasaran. Dia melambaikan tangan di depan wajah teman sebangkunya itu. “Hello, Bin...”             Barulah atensi Bintang ke kedua teman yang duduk di depannya. “Apaan? Ada apa?” tanyanya mirip orang bingung.             “Lo liatin siapa sih, Bintang?” tanya Raffa sambil bertopang dagu, melihat temannya dengan tatapan menggoda. “Jatuh cinta sama siapa lo?”             “Nggak, apaan elah.” Elaknya.             Bobby mengikuti arah pandang Bintang sebelumnya. Ternyata masih ada Ana di sana, sehingga Bobby tersenyum miring. “Oh, ada kakak itu...”             “Kakak siapa?” Raffa ikut-ikutan Bobby. Beberapa detik kemudiannya dia menatap Bintang tidak percaya. “Itu kakak PMR yang itu bukan sih, Bin?” Raffa mulai heboh karena temannya itu melihat Ana.             “Kakak PMR yang mana?” Kali ini Bobby penasaran. Meluncurlah cerita mengenai Ana yang ditipu kakak kelas, dan akhirnya disuruh cuci piring sama si emak penjual baso tahu dari mulut Raffa.             Bobby menatap Raffa tidak percaya. “Wah, seriusan? Kakak itu kan, satu meja sama Bintang pas UAS kemaren.”             Raffa awalnya masih gak konek, lalu, “Oh, cinta tumbuh saat UAS.” Cibir Raffa. Bintang tidak menggubris lebih lanjut.             Tiba-tiba Raffa dan Bobby memekik.             “Weh, Bin. Kakak itu disamperin Kak Jordhy. Lo nggak ada niatan ngegas apa? Motor aja lo ngegasnya tinggi. Cewek, nggak?” Bobby memanas-manasi.             Bintang diam saja. Matanya masih melihat Ana yang hendak berdiri, tapi tidak jadi karena Jordhy sudah menghampirinya dan duduk di sebelah gadis itu.             Ana sendiri juga kaget saat Jordhy tahu-tahu sudah duduk di sebelahnya. Niatnya yang akan membuang sampah lalu kembali ke kelas, dia urungkan.             “Hai Na, udah makan?” tanya Jordhy basa-basi. “Waktu istirahat masih lama, mau ya nemenin gue makan?”                         “Eh?” Ana tidak tahu harus merespon apa.             Jordhy masih tersenyum manis, berharap Ana mau menerima ajakannya. Dalam hati Jordhy yakin akan tersentuh dengan perlakuannya.             Sebelum Ana mengatakan penolakan, bibi penjual batagor datang ke meja mereka menaruh pesanannya Jordhy.             Jordhy mengucapkan terima kasih ke bibi itu, lalu menatap intens gadis di sampingnya ini. “Mau ya, Na? Cuma nemenin gue makan, kok. Kita deket udah ada beberapa bulan. Tapi setelah gue pikir-pikir, kita belum pernah tau makan di kantin bareng. Berdua aja lagi.”             Ana tetap diam menunduk.             Memang semenjak UAS Jordhy mengantarnya pulang, mereka menjadi dekat. Selain itu, Jordhy juga sering menemaninya ke perpustakaan. Ia juga selalu menyapa Ana setiap mereka berpapasan. Hal kali pertama yang pernah Arniana Prameswari lakukan, mengingat dia selalu sendirian di SMA.             “Iya, aku temenin.”             Jordhy tersenyum hingga matanya membentuk garis lurus. “That’s my girl who I like...” Kata Jordhy sambil mengacak rambut sebahu Ana.             Ana mengerjapkan matanya bingung. “Eh?”             Dari tempatnya duduk, Bintang melihat semuanya. Melihat perlakuan dari Jordhy ke Ana. Entah kenapa dia merasa...             “Pesanan kalian nih, kuy makan.” Kata Raka ceria. Dia menaruh nampan yang berisi pesanan mereka di meja, menyodorkan satu-satu ke mereka berempat. Setelahnya dia duduk di sebelah Bintang.             ... Aneh. Itu yang Bintang rasakan.             Saat tiga temannya yang lain mulai membumbui mie ayam mereka, mata Bintang masih menaruh atensinya pada Ana. Dia jadi tidak lapar dan selera untuk makan siang padahal mie ayam makanan favoritnya.             Melihat Bintang yang tidak membumbui mie ayamnya, Raka menyenggol Bintang. “Tumben lo nggak ngasih saos yang super-duper banyak ke mie ayam lo, Bin? Jadi gak suka pedes ya, lo?”             “Cembokur dia, Ka. Liat cewek yang dia demen duaan sama Kak Jordhy. Galau kan, Bintang.” Celetuk Raffa.             Kunyahan di mulut Raka berhenti. Matanya membelo penasaran. “Cewek yang di demenin Bintang mana?” Saking keponya Raka sampai berdiri. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD