“Ini semua gara-gara lo!”
Anak PMR sedang berada di UKS sekarang. Pementasan dramanya sudah selesai. Sehabis kejadian tadi, drama tetap berlangsung meskipun keadaan sangat canggung. Mau bagaimana lagi karena demo eskul ini wajib untuk ditunjukkan.
Rena yang tadi baju PMR-nya basah, sudah berganti jadi seragam. Dia masih menatap tajam Ana yang sedang berdiri di pojokan UKS.
“Ini semua gara-gara lo!” Teriak Rena lagi.
Ana takut-takut melihat Rena. “Ma-maafin aku, Ren..”
Thena mendesis mendegar suara Ana. “Lo kayak gak punya mata aja sih, Na. Malu-maluin pake drama jatoh segala lagi tadi.”
Andhika memijat pelipisnya, agak pusing dengan adik kelasnya yang dari tadi terus saja terus menyalahkan Ana. Padahal dengan mereka yang menyalahi Ana, tidak akan membuat drama mereka yang kacau jadi lebih baik.
“Gue gak yakin kalau anggota PMR tahun ini bakal jadi lebih banyak.” Di sebelah Andhika, ada Lala, anggota senior juga yang menjabat sebagai wakil. “Ya gue punya asumsi karena tadi drama kita kacau, mungkin mereka jadi gak tertarik sama PMR,” tambah Lala.
Theo mengangguk, sependapat dengan Lala. “Gue juga mikir gitu, kak.”
Ana yang sedari tadi menunduk, kini menangis. “A-aku, aku minta maaf karena kecerobohan aku, drama kita jadi berantakan...”
Andhika menatap semua anggotanya satu-satu, yang terakhir Ana.
“Kita liat aja besok sehabis pulang sekolah. Ada banyak gak, yang dateng ke UKS untuk join PMR.” Tandas Andhika final, setelahnya dia mengambil tas dan keluar dari UKS.
***
Ana kira, dia akan terlambat sampai sekolah. Sampai di kelas, dia tak lihat ada tas guru yang sudah berada manis di atas meja guru di depan sana. Tak juga melihat tumpukan buku-buku sebagai bahan ajar guru.
Teman sebangkunya, Diana, sudah datang. Biasanya, Diana baru akan ada di kelas lima menit menjelang bel berbunyi. Bukan hal yang aneh melihat Diana sedang tertawa-tawa menatap hapenya. Entah melihat apa dan Ana juga tak begitu penasaran akan hal itu.
Sadar kalau Ana sudah duduk di sebelahnya, Diana menengok, tersenyum manis ke teman sebangkunya itu. “Eh, Ana udah dateng...”
“Iya,” jawab Ana disertai senyuman tipis. “Tumben kamu datengnya pagi. Biasanya kan, menjelang bel.”
Diana menepuk bahu Ana sok akrab. Meski teman sebangku, Diana-Ana, tidak sedekat yang biasa dinilai orang jika teman sebangku itu pasti sangat dekat.
“Ada PR Matematika peminatan, Fisika, sama Kimia. Gue belum kerjain, dan biasa, pengin liat, hehe. PR musim lalu.”
Ana mengeluarkan buku tugas tiga pelajaran yang Diana sebut. “Aku udah semua kok, silahkan kamu boleh liat.”
Mata Diana berbinar. “Ah, beruntung banget gue sebangku sama lo. Udah pinter, baik lagi. Kapan coba, lo pelit contekan ke gue dan anak kelas?”
Diana sudah sibuk mencatat semua PR itu dari buku Ana. Ana tersenyum tanpa sadar. Ia merasa senang karena dianggap berguna oleh teman sebangku juga teman-teman di kelasnya.
Bryan yang melihat Diana menyalin PR dari buku Ana, berdecak. “Diana! Lo jangan kekep buat diri lo sendiri dong! Foto terus send ke grup kelas elah!”
Karena diusik, Diana melotot menatap Bryan yang malah cengengesan ke Ana. “Iye, iye, bawel, deh. Kerjain di rumah napa!” Sungutnya kesal.
“Dasar lo, Diana!” Sungut Clara sebal.
“Lo apa kalau gitu? Nyontek juga kan, lo!” Mikael, ikut-ikutan sewot.
Diana sudah selesai memfoto jawaban PR punya Ana di grup kelas. “Iya, udah tuh ya, selamat menyontek.”
Ponsel mereka berbunyi serempak. Tanpa aba-aba, mereka langsung saja duduk di bangku masing-masing, mencatat PR punya Ana di buku mereka.
Senyum Ana merekah senang. Kemarin, dia boleh membuat temannya di PMR kecewa karena drama mereka jadi kacau karena kecerobohannya.
Tapi sekarang, dia senang bisa membantu teman satu kelasnya. Terlebih ia juga mendengar, beberapa temannya beruntung mempunyai teman seperti dirinya.
Itu sudah cukup bagi Ana.