Chap. 05 || Self Emotion

753 Words
Tidak terasa sekarang sudah hari terakhir mos. Bagi Bintang, mos kemarin sangat membosankan karena anak kelas 10 hanya diam di aula seharian, diberi siraman motivasi oleh motivator dari jurusan Psikologi di suatu PTN ternama di kotanya, Kota Bandung. Mereka hanya disuruh mencatat dan menyimak apa yang dibicarakan serta apa yang menjadi point penting.             Hari terakhir mos, disambut rasa antusias anak kelas 10. Selain akan ada yang namanya demo eskul, di hari besoknya mereka sudah bisa memakai putih-abu sebagai seragam, tidak lagi memakai sergam SMP.             Kini anak kelas 10 sudah dikumpulkan di lapangan untuk melihat berbagai pertunjukkan eskul yang ada.             Raka menyenggol Bintang. “Lo mau ikut eskul apa, Bin?”             Tatapan Bintang masih fokus ke lapangan, melihat demo eskul pramuka yang lumayan keren. “Gak minat gue.”             “Serius lo gak akan ikut eskul?” tanya Raffa di sebelah kirinya, ikut-ikutan juga menyenggol Bintang seperti Raka. Posisi Bintang yang ditengah-tengah jadi bahan senggolan mereka berdua.             “Gak. Buat apa lah. Gak begitu penting.”             “Penting tau!” Seru Raffa menggebu-gebu. “Lo bisa dapet keenjoyan, trus lo bisa dapet temen baru, dapet gebetan, dapet pacar...”             Sebelum ucapan Raffa selesai, Bintang sudah balas menyenggol Raffa.             “Aw, sakit a***y lo malah ikut senggol-senggolan,” keluh Raffa.             Bintang berlagak tidak punya salah, dan masih fokus melihat atraksi dari eskul pramuka.             “Gue kayaknya ikut eskul Highlight, deh.” Raka ikutan nimbrung. “Minat gue, lumayan kegiatannya. Buat berita di majalah sekolah, ngurus mading.”             “Bosenin amat sih, Ka...” ledek Raffa.             Raka mendelik dan menatap Raffa tajam meski terhalang Bintang. “Lo aja sih yang mikirnya gitu. Enak kali, gak panas-panasan kayak lo yang milih eskul di outdoor semua macam volly sama pencinta alam.”             Sebenarnya, Raffa dan Raka adalah teman satu SMP. Selama hampir tiga hari mengenal mereka, Bintang tahu kalau hobi serta minat mereka sangat berbeda jauh. Meskipun begitu, mereka tetap saja bersahabat. Watak mereka juga berbeda.             “Jadi lo serius gamau ikut eskul?” tanya Raffa ke Bintang.             Bintang tidak menjawab. Demo eskul pramuka kini sudah selesai, giliran eskul PMR yang melakukan demo. Ada 20 anggota PMR yang maju ke lapangan termasuk dua cewek centil kemarin yang sok-sok ingin mengobatinya. Kini mereka malah melambai tangan, kentara terlihat jika dia sedang tebar pesona pada adik kelas.             Tapi anehnya Bintang tidak melihat cewek bego itu. Bukannya dia juga anak PMR, kan? Kenapa tidak ada di lapangan?             Laki-laki tinggi yang memakai syal kuning di bahu serta di lengan tangan kanannya, memegang mic. “Selamat pagi semua...!” Sapanya diserta senyuman manis sehingga langsung mendapat koor balasan selamat pagi yang mirip histeris, terutama dari perempuan.             “Kenalkan nama saya, Andhika Gurnawhidana. Saya kelas duabelas IPA satu. Saya menjabat sebagai ketua PMR.” Perkenalan singkat ketua PMR itu tentu saja mendapat balasan koor yang lebih keras.             “Kami di sini bukan hanya mau mempraktekan kegiatan, ‘gimana sih, cara melakukan pertolongan pertama itu.’ Tapi kita akan mengemas semuanya tentang PMR melalui drama yang bertema kesehatan.” Jelas Andhika.             Semua yang ada di lapangan bertepuk tangan kecuali Bintang. Banyak dari mereka yang antusias, Raffa dan Raka juga begitu.             Ketika drama kesehatan itu dimulai, mata Bintang tetap mencari dimana si cewek bego itu. Apa mungkin dia gak masuk  hari ini?             Pikiran itu harus Bintang tarik lagi karena kini dia melihat cewek bego itu, masuk ke lapangan sambil membawa ember berisi air serta lap. Mengenakan baju serta properti PMR, dia bukannya ikut dalam drama, malah membersihkan bekas darah palsu yang ada di lapangan. Membersihkan kotornya lapangan sendiri tanpa adanya bantuan dari rekan se-eskulnya yang lain.             Tanpa sadar tangan Bintang mengepal. Dia kesal.             Saat dramanya masih berlangsung, Ana yang hendak membersihkan bekas darah di bagian lapangan yang lain, tidak sengaja terpeleset jatuh sehingga ember yang sedang dipegangnya sedikit terlempar dan membasahi baju Rena.             Sontak anak PMR yang masih melakoni dramanya, langsung mematung begitu sadar apa yang terjadi. Mereka menatap Ana tajam.             Bahkan beberapa anak kelas 10, sudah menyoraki Ana akibat kekacauan yang sudah dia perbuat.             Ana buru-buru bangkit lalu bersimpuh di kaki Rena. “Maaf, Ren. Maafin aku, aku gak sengaja. Tadi lapangannya agak licin...”             Kacau. Demo eskul mereka jadi kacau karena Ana.             Raka menyenggol Bintang. “Itu cewek yang jatoh, bukannya dia waktu itu dimarahin sama ibu penjual baso tahu, ya? Iya nggak, sih?”             “Iya bener, Ka. Gue kasian sama kakak itu.” Timpal Raffa.             Bintang diam, tidak merespon kedua temannya. Gadis di depan lapangan sana, masih saja duduk bersimpuh memohon maaf ke perempuan ganjen itu.                           “Bego banget sih, dia!”  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD