BAB : 9

1217 Words
Hana mengumbar senyuman berat, menghapus dengan kasar kedua pipinya ... kemudian bersidekap d**a di depan mama dan papanya. "Jadi, kalian berdua bahagia dengan keadaanku saat ini?" Arini dan Emil tak berkomentar. Bingung juga mau berkata apa. Karena apapun alasan yang mereka berikan, Hana tetap tak akan terima. "Papa harap kamu kembali ke rumah Justin, suamimu," suruh Emil. Suami? Iya, suami yang tak diinginkan lebih tepatnya. "Baiklah, jika itu yang kalian inginkan. Setidaknya mama sama papa bahagia di atas penderitaanku. Itu sudah cukup! Nikmati kebahagiaan kalian!" Dengan langkah berat, Hana meninggalkan rumah orang tuanya. Suasana sudah mulai gelap, tapi ia justru tak tahu harus pergi kemana. Menghubungi teman-temannya saja ia bingung, karena tak ada ponsel bahkan uang sekalipun tak ada. Terbuang layaknya sampah di jalanan. Mungkin seperti itulah dirinya kini. Capek berjalan, ia berhenti dan duduk di pinggir jalan. Menutupi wajahnya sambil menangis tersedu. "Aku tahu ini memang semua salahku, tapi kenapa hukumannya begitu berat? Aku nggak mau, aku nggak bisa jalaninnya," gumamnya sambil terus menangis. "Papa sama Mama bahkan nggak mau menerimaku lagi. Aku sendirian sekarang, benar-benar sendirian." "Ada aku, kan?" Sontak, Hana mengarahkan pandangannya pada seseorang yang kini tengah berdiri dihadapannya. Mimik tak suka langsung ia tunjukkan. "Mau apalagi?!" tanya Hana saat mendapati Justin yang tiba-tiba muncul dihadapannya. Bahkan dalam pikiran pun ia tak ingin ada laki-laki ini, tapi justru yang muncul malah dia dan dia lagi. Justin tersenyum dan duduk di samping Hana. "Han, sudah ku bilang, kan, kalau aku menyukaimu? Jadi, apapun akan ku lakukan untuk mendapatkanmu." "Om, udah ... jangan bicara seperti itu lagi. Karena ulah Om, aku jadi begini." "Kamu yakin karena ulahku?" Hana diam. "Semuanya kamu yang mengawalinya, Han ... bukan aku. Aku hanya melanjutkan apa yang kamu ciptakan," jelas Justin tak mau kalah, karena ia mulai memahami seperti apa watak Hana. Lagi, Hana hanya diam karena tak bisa memberikan komentar. Setidaknya apa yang dikatakan Justin memang benar adanya. Tapi, tidak dengan begini. Tidak dengan mengorbankan kehidupannya. Lama Hana diam, dengan pandangannya yang hanya lurus memandangi ke jalanan yang ramai kendaraan lalu lalang. Sementara Justin seolah tak ingin mengeluarkan kata-kata lagi. Tiba-tiba Hana beranjak dari posisi duduknya dan berlalu begitu saja meninggalkan Justin. "Hana, kamu mau kemana lagi?" tanya Justin, tapi pertanyaannya tak mendapat jawaban apa-apa. Dengan cepat ia beranjak dari posisi duduknya dan mengikuti langkah Hana yang sudah berlalu pergi. Tangan gadis itu segera ia sambar. "Lepasin aku, Om!" Bentak Hana langsung menghentakkan pegangan Justin di tangannya dengan kuat. Kabar buruknya justru Hana tak sengaja mendorong tubuh Justin hingga cowok itu terdorong ke jalanan. Darah mengalir dari telapak tangannya yang tergores aspal. Lumayan parah, hingga ringisan itu terdengar jelas oleh Hana. Mata Hana membulat. "Om, awas!!!!" pekiknya saat mendapati mobil yang sedang mengarah pada Justin yang poisisnya masih berada di jalanan. Entah dapat kekuatan dari mana, dengan cepat ia menarik tangan cowok itu agar bisa terhindar dari mobil yang siap menghantam. Keduanya terhempas ke pinggir jalan. Lumayan kuat, hingga Justin merasa kali ini kepalanya dibagian belakang benar-benar terasa sakit karena membentur pembatas jalan. Tapi rasa sakit itu tiba-tiba terabaikan saat mendengar isakan tangis. "Hana," paniknya saat mendapati gadis yang kini sedang menangis memeluknya. "Kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Ada yang sakit?" Jangankan menjawab pertanyaannya, tapi justru tangisan itu yang semakin kencang. Tentu saja ia semakin cemas akan keadaan gadis itu. Dengan cepat ia berusaha bangun, membuat pelukan Hana di badannya terlepas. "Mana yang sakit? Bilang padaku, Han," panik Justin sambil memeriksa bagian tangan dan kaki Hana yang barangkali aja ada luka atau tak sengaja terbentur. "Aku nggak kenapa-kenapa, Om! Udah, jangan mencemaskanku!" kesalnya masih menangis. Padahal ia tak ingin menangis, tapi heran saja kenapa air matanya malah keluar deras. Memalukan sekali rasanya menunjukkan wajah cengengnya di depan Justin. "Lalu, apa yang kamu tangisi?" "Ya kamu, Om!" berengutnya dengan nada jutek. "Aku?" Justin menunjuk dirinya sendiri. Lagi, Hana malah mengulang tangisnya. "Maaf, aku nggak sengaja mendorongmu." Dahi Justin berkerut, mendengar perkataan Hana. "Terlambat sedikit saja barusan, pasti kamu bakalan ketabrak sama mobil. Kalau itu terjadi, semuanya salahku," ungkapnya masih menangis. Justin malah terkekeh menanggapi pernyataan Hana. "Lalu?" Keyzia malah memukul d**a Justin karena kesal. Ia dalam keadaan cemas, sedangkan cowok ini malah meledeknya. "Aku sedang cemas, jangan meledekku seperti itu." "Aku bukan sedang meledekmu, tapi aku senang saat kamu memikirkan aku. Setidaknya saat aku tak baik-baik saja, ada rasa kasihan darimu padaku." Hana beranjak dari posisinya, ia hapus bekas air mata yang masih membasahi kedua pipinya. Kesal, air matanya malah dibalas ledekan. Justin merasa saat ini kepalanya seperti sedang dipukul oleh benda keras. Rasanya benar-benar sakit dan bikin pusing, tapi mungkin masih bisa ia tahan. "Benar, tak ada yang luka, kan?" tanya Justin pada Hana yang masih memasang wajah kesal padanya. "Jawab pertanyaanku, Han," tambahnya. "Iya, aku baik-baik aja. Jangan mencemaskanku." Tiba-tiba Justin malah memegang erat lengan Hana dengan satu tangannya yang memegangi kepalanya. "Kenapa?" tanya Hana melihat reaksi Justin. Ia kembali tersenyum. "Nggak kenapa-kenapa," jawabnya. Hana tahu betul kalau kali ini Justin berbohong. Nggak kenapa-kenapa, katanya? Lihatlah, bahkan untuk berdiri saja dia berpegangan di lengannya. Ia juga tak buta, yang dengan jelas bisa melihat raut tak baik-baik saja di wajah itu. "Ikut pulang denganku, ya?" pinta Justin pada Hana. Hana tak langsung menjawab. Jujur saja, ia kesal dan marah pada cowok ini, tapi rasanya kok jadi tak tega untuk menolak. Apalagi dengan kondisi dia yang seperti ini. Berasa kejam sekali ia jika malah meninggalkan Justin di jalanan. "Hanya karena kondisimu tak baik," ujarnya. "Mana kunci mobil," pintanya. Justin menyodorkan kunci mobil ke tangan Hana, dengan satu tangannya yang masih bergelayut di lengan gadis itu. "Rasanya aku ingin pingsan saja," gumamnya semakin mengeratkan pegangan di lengan Hana. "Katamu barusan nggak kenapa-kenapa," komentar Hana. Baru juga bicara, tiba-tiba tubuh Justin langsung ambruk begitu saja. Tentu, itu membuat Hana panik dan cemas. Ia segera menghubungi supir untuk menjemput. Tak ingin panik, tak ingin cemas dan berharap tak ingin menghiraukan keadaan Justin. Entah kenapa rasanya kok sulit sekali ia lakukan. Bahkan rasanya seolah tak ingin beranjak sebelum laki-laki ini sadarkan diri. Setidaknya ia akan ada di sini hingga Alice datang. Duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Justin, kini matanya justru memandang kearah cincin yang melingkar di jari manisnya. Kemudian beralih pada cincin yang ada di jari cowok yang masih belum sadarkan diri. Berniat menyentuh tangan itu, tapi dorongan pintu membuatnya tersentak kaget. "Justin! Kamu kenapa? Apa yang terjadi sama kamu, sih?" Hana sampai menutup kedua telinganya saat mendengar rentetan panjang dengan volume level tinggi itu. Ya, siapa lagi yang punya mulut serombeng itu kalau bukan Alice. Kini fokus Alice beralih pada Hana dan berjalan mendekat. "Kamu ... pasti semua gara-gara kamu. Benar, kan? Apa yang kamu lakukan pada Justin?! Dasar gadis penggoda! Perusak rumah tangga orang. Harusnya kamu tak datang ke dalam kehidupan kami!" Tangan Alice sudah siap melayang dan mendarat di pipi Hana, tapi syukurnya itu tak terjadi karena Justin yang sudah aadar, lebih dulu menahan serangan itu. "Jangan pernah menyentuh apalagi berbuat kasar padanya. Jika tidak, urusanmu denganku, Alice!" Setelah mengatakan itu, Justin langsung menghentakkan tangan Alice dengan kasar tanpa rasa kasihan apalagi rasa cinta. "Om, sudah nggak nggak kenapa-kenapa, kan?" tanya Hana dengan raut khawatir. Begini begini, ia juga masih punya perasaan. "Iya, aku baik-baik saja," jawab Justin berusaha bangun dari posisi tidurnya. "Jangan sok perduli pada suamiku! Kamu hanya benalu bagi kami!" Bentak Alice penuhbrasa emosi dan benci.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD