Dalam perjalanan, Hana terus bertanya dan bertanya kemana dirinya akan dibawa. Tapi Justin seolah tak berminat untuk menjawab pertanyaannya.
Mobil kini berhenti di sebuah rumah yang lumayan besar. Tak jauh berbeda dengan rumah milik laki laki ini.
"Ini rumah siapa, Om?" tanya Hana saat Justin memaksanya untuk turun dan masuk ke dalam rumah. Lagi lagi pertanyaannya tak mendapatkan jawaban.
Sampai di dalam, ia langsung memasang ekspressi kaget. Ada beberapa orang di sana yang sedang mengarahkan pandangan padanya. Parahnya lagi, di antara mereka semua ada kedua orang tuanya juga.
"Loh, Mama sama Papa kok ada di sini?" tanyanya bingung.
"Aku yang meminta mereka datang ke sini," ungkap Justin.
Hana berniat menghampiri Emil dan Arini, tapi Justin malah tak melepaskan pegangan di tangannya sama sekali. Seakan akan hendak mencengkeram dengan kuat.
"Lepasin aku, Om," pintanya.
"Diam, Han!" bentak Emil pada putrinya.
"Aku sudah bilang, kan, kalau aku meyukaimu. Jadi, sepertinya sebuah ungkapan kata saja tak cukup untuk membuktikan itu semua."
Dahi Hana berkerut mendapat perkataan seperti itu. "Maksudmu apa, Om?"
"Aku mau kamu jadi milikku, seutuhnya."
Demi apa Justin mengatakan hal itu padanya? Sungguh, pendengarannya benar-benar tak sehat lagi. Sepertinya ia harus memeriksakan diri ke THT. Kalau ini semua mimpi, tolong buat dirinya segera bangun. Ini mimpi yang mengerikan.
Hana tertawa receh. "Jangan bercanda, Om. Mau memiliki diriku seutuhnya? Jangan bilang kalau kamu mau menikahiku. Astaga! Jujur, ini benar-benar lucu," jelas Hana masih dengan tawanya.
Hanya ia yang tertawa, tapi tidak dengan yang lain. Bahkan Emil dan Arini saja hanya diam membisu memandang kearahnya.
Tiba-tiba tawanya terhenti seketika itu juga layaknya direm mendadak. Kemudian memandang tajam ke arah Justin yang ada di sampingnya.
"Kamu pikir aku sedang bercanda. Maaf, Hana ... aku bukan orang yang seperti itu. Apa yang ku mau, harus ku dapatkan. Termasuk kamu sekalipun. Aku inginkan sekarang, itupun harus terjadi," jelasnya.
"Pa ... Ma, apa semua ini?" tanya Hana pada kedua orang tuanya.
"Benar, Han ... kamu akan menikah dengan Justin. Sekarang," jelas Arini agar meyakinkan putrinya.
"Kamu sudah membuat keluarga kita dalam masalah yang besar dan hanya Justin yang bisa menghandle semua itu."
Hana menggeleng, berusaha melepaskan pegangan Justin di tangannya. Meskipun ia tak yakin bisa lepas dari pegangan kuat ini.
"Itu sama saja kalian menjualku!" Emosinya pada kedua orang tuanya.
Dua orang laki-laki berbadan kekar mengambil alih pegangan Justin di tangannya. Sudah jelas sekali ia tak akan bisa kabur.
"Aku hanya butuh restu papamu, terserah kamu mau setuju atau tidak," balas Justin santai. Mengarah pada dua orang yang memegangi Hana. "Bawa dia ke kamar," perintahnya.
"Lepasin aku! Aku nggak mau nikah sama kamu! Aku nggak mau!"
Teriakan itu akhirnya hilang dari pendengaran saat pintu itu ditutup rapat. Bahkan sekuat apapun dia berteriak di dalam, tak akan berpengaruh ke luar kamar.
"Yakin dengan keputusan Anda, kan?" tanya Justin pada Emil.
"Mungkin memang ini yang terbaik," balas laki-laki paruh baya itu.
Jujur saja, dalam hati ia tak rela jika Hana jatuh pada Justin. Tapi, ia juga tak ingin bisnis turun temurun keluarganya hancur begitu saja dalam hitungan menit akibat ulah putrinya. Dan lagi ... dilihat sari sikap Justin, dia seperti benar benar menginginkan Hana.
Tak ada yang sulit ia lakukan. Termasuk menikahi Hana saat ini juga. Hanya meminta orang suruhannya menyiapkan semuanya dan beres.
Sementara Hana, ia hanya bisa menangis terkurung di dalam kamar, tanpa bisa berbuat apa-apa. Berniat kabur? Bahkan tak ada jalan yang bisa ia gunakan untuk melarikan diri dari sini.
"Kenapa semuanya jadi begini, sih," kesalnya merutuki semuanya.
Kesalahannya yang hanya salah masuk kamar, hingga harus melebar sampai separah ini. Jujur saja ia tak pernah menyangka kalau semuanya jadi begini. Harusnya ia masih bisa have fun sama teman-temannya, harusnya ia masih bisa jalan bareng sama kekasihnya, tapi semuanya malah berubah.
Satu jam kemudian, pintu dibuka dari arah luar. Ia yang tadinya hanya duduk di sudut tempat tidur, segera bangkit dan menghampiri seseorang yang masuk.
Ingin menghindari, tapi langkahnya ditahan. Ya, siapa lagi pelakunya kalau bukan Justin.
"Lepasin aku!"
"Ayolah, Hana ... mulai detik ini kamu nggak bisa pergi dariku."
Justin memperlihatkan sesuatu yang ada di tangannya, kemudian menyambar tangan Hana. Tak hanya itu, sebuah cincin langsung saja ia pasangkan di jari manis gadis itu.
Melihat benda yang dengan seenaknya dipasangkan Justun di tangannya, tentu saja ia kesal. Berusaha kembali melepaskan, tapi sialnya benda itu tak bisa lepas.
"Lepasin cincin ini dari tanganku!"
Justin memang menyambut uluran tangan Hana, tapi bukan untuk melepaskan cincin, melainkan mencium punggung tangan gadis itu dengan lembut.
Hana melihat ke sekeliing, tapi tak ia dapati lagi kedua orang tuanya di sana.
"Mana orang tuaku?" tanyanya.
"Sudah pergi."
"Apa yang sudah Om lakuin?!"
"Seperti yang ku katakan sebelum mengurungmu di kamar tadi."
"Apa?!"
Justin memperlihatkan sebuah cincin yang sama dengan yang dikenakan Hana. "Kita sudah sah menjadi suami istri, Han," ungkapnya dengan senyuman mengumbar di sudut bibirnya.
"Nggak mungkin," bantahnya.
Yang benar saja, masa iya dirinya sudah menikah dengan Justin. Sepertinya dunia sedang mempermainkannya hingga separah ini. Jangankan menikah, berpikir jika dirinya harus bertemu dengan seorang Justin sepertin ini rasanya tak percaya. Seakan akan ia sedang berada di alam mimpi panjang yang begitu sulit untuk bangun.
"Terserah, kamu mau percaya atau tidak, tapi memang begitulah kenyataannya. Saat ini statusmu adalah istriku. Paham!"
Hana berlalu dari hadapan Justin dan dengan langkah cepat ia pergi dari sana.
Kali ini tak ada perlawanan dari Justin. Ia hanya diam memandangi kepergian Hana sambil tersenyum.
"Kamu menikahinya, tapi kini malah membiarkan dia pergi begitu saja," komentar Arum pada putranya.
"Tetap saja, dia pasti akan kembali padaku," balasnya tenang.
---000---
Bayangkan, ia berlari hingga sampai di rumah. Tapi rasa capek itu sama sekali tak terasa, karena perasaannya kini sedang kacau dan tak tenang. Pernyataan Justin yang mengatakan kalau keduanya sudah menikah dan cincin di jari menjadi tanda tanya besar di benaknya.
"Loh, Hana ... kamu kenapa ada di sini?" tanya Arini saat mendapati putrinya yang malah kembali ke rumah.
Ia menghampiri kedua orang tuanya. "Kenapa dia bilang kalau aku ini adalah istrinya?"
"Han ..."
"Semuanya nggak benar, kan, Ma?" tanyanya pada mamanya. "Aku bukan istrinya, kan, Pa?" Kini ia beralih pada papanya.
"Benar," jawab Emil. "Apa yang dikatakan Justin memang benar. Kamu dan dia adalah suami istri sekarang, Han."
Sedikit tersentak saat mendengar penjelasan papanya. Ayolah, ini bukanlah kebenaran yang ia inginkan.
"Papa sama Mama nggak punya pilihan lain, Sayang. Bisnis keluarga kita sedang terancam. Dia menginginkan kamu, apa salahnya jika kami kabulkan keinginannya."
Lagi lagi hati Hana dibuat retak saat itu juga mendengar penyataan papanya. Bahkan rasanya tak percaya jika yang bicara barusan adalah papanya.
"Tentu saja ini salah, Pa! Aku ini anak kalian dan dengan gampangnya malah menikahkanku dengan orang yang tak ku kenal. Kalian paham nggak, sih, bagaimana perasaannku?!"
"Kami terpaksa, Nak," balas Arini.
"Papa sama Mama tahu, dia itu sudah punya istri. Dan sekarang kalian membuatku jadi istri kedua." Ia tersenyum dengan berat. "Ini gila!"
Hana berniat untuk menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas, tapi dihalangi oleh papanya.
"Pa, aku mau ke kamar," ujarnya.
"Sudah Papa bilang, kan, kalau kamu adalah istrinya Justin. Jadi, kamu akan tinggal bersama dia. Bukan di sini lagi, Hana!"
Hana diam, tangannya mengepal. Ada rasa sakit yang kini ia rasakan saat mendengar penjelasan papanya. Seolah mulai detik ini ia tak berhak lagi untuk menginjakkan kakinya di sini.
"Papa sama Mama benar-benar tega padaku." Air matanya mulai berjatuhan dari kelopak matanya. Dari tadi benda bening itu ia tahan karena masih berharap kalau semua tak seburuk ini, tapi sepertinya sudah tak bisa lagi.
Arini menghampiri putrinya. "Hana, ini semua terpaksa kami lakukan, Sayang. Kamu nggak mau, kan, melihat Papa sama Mama menderita? Kami sudah tua. Harusnya di masa ini kami bahagia, bukan malah mendapatkan masalah. Setidaknya kamu bisa membuat kami bahagia dengan cara begini."