1. Hari Pertama
Gea Faradhila mendengus jengah ketika menginjakkan kaki di dalam kamar. Lantai berwarna putih ruangan itu dipenuhi oleh barang-barang yang berserakan tak karuan. Ia tidak sempat membereskannya semalam karena kelelahan setelah seharian menjadi permaisuri di panggung pelaminan.
“Jangan sentuh punya saya!”
Perempuan berusia dua puluh dua tahun yang baru saja jongkok untuk mengambil jas putih dari lantai langsung menoleh ke sumber suara. Pada ambang pintu, Bramantyo Deharja, pria yang kemarin pagi mengucapkan ijab qabul menyebut namanya, berdiri sambil memegang tupper ware ukuran sedang berisi air mineral di tangan kirinya.
Bram berjalan mendekat lantas mengambil alih jas di tangan Gea dengan kasar. Jas tersebut kemudian disampirkan di pundak. “Saya tidak suka barang-barang saya disentuh oleh sembarang orang.”
Gea cukup kesal dengan kata ‘sembarang orang’ di saat ia sudah resmi menjadi istri pria itu. Namun kekesalan tersebut tidak berarti apa-apa ketika ia sadar bahwa pernikahan mereka terjadi hanya karena kesepakatan. Perjanjian kedua belah pihak yang sama-sama diuntungkan dengan sebuah pernikahan.
“Kamu masih muda tapi sudah pikun.” Bram mencibir ketus tanpa tandang aling. Tatapannya begitu tajam, seakan tidak memberi ampunan Gea meskipun untuk hal kecil. “Biar saya tekankan sekali lagi. Kalau di dalam perjanjian kita, tidak boleh saling mengganggu meskipun sudah terikat dalam pernikahan. Dalam hal ini, kamu melanggar peraturan karena saya merasa terganggu jika kamu menyentuh barang-barang saya.”
Gea sontak berdiri tegak, memusatkan atensi pada Bram sepenuhnya. Pada setiap gerak dan gesture pria itu saat memungut satu per satu barangnya. Ia tahu bahwa pria yang kini menduduki jabatan sebagai CEO Deharja Land itu memang tampan. Tapi ia tidak pernah memperhatikannya sedetail ini. Mulai dari tubuh atlentis, hidung mancung, alis tebal, bulu mata lentik, serta belahan dagu yang membuat Bram semakin menawan.
“Sama satu lagi, jangan sok berperan menjadi istri sungguhan.” Bram melepaskan handuk warna biru laut yang semula mengalung di lehernya untuk mengusap sisa keringat di dahi setelah olahraga. “Karena sampai kapan pun pernikahan ini tidak akan menjadi nyata untuk saya.”
Kepergian Bram membuat Gea seketika menghela napas panjang. Sepertinya menikah dengan pria itu akan menjadi babak lebih berat dibandingkan masalah keluarga yang ia hadapi. Baru juga sehari menjadi suami istri, Gea sudah mendapatkan beberapa kali kalimat pedas dari pria berumur dua puluh sembilan tahun itu.
***
Setelah membereskan kamar, Gea berjalan ke arah dapur. Langkahnya terhenti ketika melihat makanan yang sudah ia buat dengan susah payah masih utuh, tidak ada tanda atau jejak sang suami menyentuhmya sama sekali. Padahal Gea yakin sudah memberitahu pria itu bahwa ia menyiapkan sarapan. Asupan setelah berolahraga.
Gea cukup kecewa. Tapi mengingat kalimat ultimatum Bram mengenai pernikahan mereka yang beberapa menit lalu terucap, Gea menekan kuat rasa kecewanya. Mungkin memang tidak seharusnya ia mengikuti saran Mama untuk berusaha menjadi istri yang baik. Karena pada akhirnya pernikahan yang sudah resmi secara hukum maupun agama itu tetap tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Ia pun tidak boleh menuntut karena sejak awal dirinya hanya numpang hidup setelah jatuh miskin akibat papanya tertangkap atas kasus korupsi.
“Mentang-mentang punya harta yang tidak akan habis sampai tujuh turunan, makanan disia-siakan kayak gini," gerutu perempuan berkucir kuda itu.
Lantas ia dengan legawa memasukkan sarapan ke dalam kulkas dan meminum oat milk yang ia buat sendiri.
Tak lama setelah itu, bel berbunyi yang menandakan ada tamu di depan. Ia hendak melangkah dari dapur, tapi Bram yang duduk di ruang tamu bersama laptopnya itu sudah lebih dahulu berdiri lalu berjalan menuju pintu.
Kebetulan dapur dan tempat makan bersebelahan dengan ruang tamu. Sehingga Gea bisa melihat adegan dimana sang suami memeluk pinggang mesra perempuan cantik berbalut dress mini bermotif bunga lengan pendek saat hendak duduk di sofa. Perempuan itu terlihat meletakkan bawaannya di meja bundar berwarna cokelat tua depan sofa. Lalu Bram dengan antusias membuka paper bag tersebut yang ternyata isinya makanan.
Hal yang membuat Gea sakit hati adalah saat melihat Bram begitu semangat memakan bawaan perempuan itu sementara hasil masakannya tadi dibiarkan hingga dingin. Sampai tidak sadar kedua tangan Gea mengepal sempurna. Bahkan wajah Bram terlihat begitu bahagia, berbeda sekali saat bersama dirinya yang senyum pun tidak pernah.
“Mesra banget kayak orang pacaran.” Gea mencibir, tapi penasaran siapa sebenarnya perempuan itu. Apakah kekasih Bram yang ditinggal nikah dengannya? Tapi tidak mungkin, Bram belum pernah memiliki kekasih.
Gea pikir adegan romantis mereka hanya sampai suap-suapan, tapi yang terjadi justru diluar dugaannya. Matanya sempat membelalak tidak percaya kala suaminya mencumbu mesra bibir perempuan itu.
“b******k!”
Parah sekali suaminya berciuman dengan perempuan lain di hari pertama mereka menjadi pengantin baru?
Emang harus seterang-terangan ini? Di depan matanya?
Yang benar saja!
Gea yang sudah tidak bisa menahan emosi langsung menghampiri mereka. Ia membuka botol air mineral ukuran sedang yang ada di atas meja, lalu menumpahkan isinya tepat di tengah.
“Maaf, tidak sengaja,” kata Gea sambil menyengir seperti orang tanpa dosa ketika sang suami dan perempuan itu melepaskan ciuman lalu menatap kesal ke arahnya.
“Alah dia pasti sengaja, Sayang.” Perempuan itu mengambil tisu untuk mengelap rambutnya.
Sayang? Gea sontak terheran-heran. Antara jijik dan tidak paham. Bisa-bisanya ada perempuan setidak tahu malu itu mencumbu pria yang jelas-jelas sudah menikah, lalu mengadu seolah-olah korban.
“Maksudmu apa?” tanya Bram.
“Kamu yang maksudnya apa bawa ani-ani ke dalam apartemen?”
Satu tamparan melayang keras ke pipi Gea dari perempuan yang ia tuduh ‘ani-ani’ itu.
“Jangan sembarangan kalau ngomong! Jauh sebelum kalian menikah, aku sudah dekat dengan Bram.”
Gea mengusap pipinya yang memanas karena tamparan. “Oh iya? Cuma dekat, ‘kan? Jangan sombong. Aku malah istrinya.”
Perempuan itu hendak menampar Gea lagi, tapi dicegah oleh Bram. Bram bahkan mendorong pelan perempuan itu ke belakang tubuhnya. Seolah melindunginya dari Gea.
“Dia akan menginap. Kami akan menempati kamar utama malam ini, jadi kamu bisa tidur di kamar tamu.” Tidak memberi kesempatan Gea untuk berbicara, Bram langsung melanjutkan ucapannya. “Jika kamu menolak, silakan keluar karena ini apartemen saya.”
Gea geram setengah mampus. Seharusnya perempuan itu yang tidur di kamar tamu, bukan? Tapi mengapa justru dirinya yang diusir?
Lebih sialnya lagi, intonasi Bram berubah melembut ketika berbalik badan dan berbicara dengan perempuan itu. Saat Gea melihat senyum penuh kemenangan dari perempuan itu, tangan kanannya mengepal kuat.
Meski sudah dilingkupi oleh kebencian, tapi Gea masih bisa berpikir dengan jernih. Termasuk berpikir mengenai alasan mengapa Bramantyo Deharja tiba-tiba memasukkan perempuan ke dalam apartemen, di saat Bunda jelas-jelas memberitahu bahwa Bram tidak pernah tertarik menjalankan hubungan dengan perempuan mana pun.
“Sabar, Ge. Tenang. Bertahanlah. Ini jauh lebih baik daripada jadi gelandangan,” bisiknya pada diri sendiri sambil mengelus d**a usai mereka berlalu.