Bab 1: Bisikan dari Taman Eunhwa
Langit sore di Seoul menyala dalam semburat keemasan, membasahi jalanan Seongbuk-dong dengan warna-warna hangat. Di antara deretan kafe kecil dan rumah tua yang tersembunyi di balik bukit, Han Ha-yeon melangkah pelan, merapatkan cardigan tipisnya.
"Kenapa hari ini terasa... kosong?" gumamnya.
Hari-hari seperti ini sudah biasa. Ayahnya sibuk di toko roti mungil yang mereka kelola, dan kakaknya, Min-ji, tenggelam dalam tumpukan skripsi. Tapi entah kenapa, kesepian hari ini terasa berbeda — lebih menusuk, lebih dalam.
Ketika ia melewati gang kecil di dekat perbatasan taman kota, matanya menangkap sesuatu:
Sebuah gerbang tua, terlupakan di antara semak belukar. Besi tuanya berkarat, tapi di tengah-tengahnya, masih terukir samar nama: Taman Eunhwa.
Seketika, angin bertiup lembut, membawa bisikan aneh yang menggetarkan hatinya.
"Masuklah..."
Ha-yeon membeku. Ia menoleh, namun jalanan kosong. Hanya suara daun-daun kering yang berbisik di antara langkah angin.
Rasionalitasnya berteriak untuk pergi. Tapi jantungnya — dan sesuatu yang lebih dalam — menariknya maju.
Dengan tangan bergetar, ia mendorong gerbang itu. Bunyi decitannya menyeruak di antara keheningan sore.
Di balik gerbang, dunia terasa berbeda. Seakan Seoul yang sibuk lenyap, digantikan oleh keheningan yang suci. Rumput liar membelai pergelangan kakinya, bunga-bunga liar bermekaran tanpa aturan, dan di tengahnya — memantulkan sisa cahaya matahari — terhampar danau kecil yang berkilau seakan menahan rahasia ribuan tahun.
Ha-yeon menghela napas panjang. Ada keindahan yang menyesakkan di hadapannya.
Saat ia melangkah lebih dekat, sesuatu bergerak di antara rerumputan. Seekor kelinci putih kecil melompat, berdiri beberapa meter darinya.
Mata kelinci itu... ada sesuatu di dalamnya.
Sebuah duka. Sebuah pengharapan.
Sesuatu yang bukan milik binatang biasa.
Ha-yeon berjongkok, menatapnya dengan lembut.
Dan ketika angin kembali berhembus, ia mendengar suara — bukan dari luar, tapi dari dalam dirinya sendiri.
"Akhirnya kau datang..."
Dalam sekejap, dunia di sekitarnya bergetar — dan Ha-yeon tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.