Bab 9. Kaisar Kepo

1200 Words
Shasha menoleh ke samping kirinya di mana Arjuna duduk. "Aku enggak pede, Mas. Tamunya banyak banget orang penting.” Arjuna mengernyit. “Kenapa? Suaramu ‘kan bagus. Enggak kalah sama yang tadi maju. Ayolah, Sha.” Pria itu membujuk adik tingkatnya. “Udah sana naik. Aku kangen dengar suara emasmu. Udah lama kita enggak karokean.” Tirta ikut mendukung Arjuna. Shasha akhirnya mengangguk. “Ya udah. Ayo, Mas. Tapi nanti aku di-back up ya kalau fals." “Apa sih yang enggak buat kamu, Sha,” sahut Arjuna sambil tersenyum. "Mas Kai, Tirta, aku tinggal sebentar ya," pamit Shasha pada Tirta dan kakaknya sebelum beranjak dari tempat duduknya. Tirta menggangguk sambil mengacungkan jempol. "Oke, Sha. Sukses ya duetnya." Shasha dan Arjuna kemudian berjalan ke arah panggung. Berbicara pada band yang akan mengiringi mereka bernyanyi. "Pria itu benar senior kalian, Ta?" tanya Kaisar. "Iya, Mas. Kenapa memangnya?" Tirta mengernyit pada kakaknya. "Dia suka ya sama Shasha?" Kaisar bertanya lagi tanpa mengalihkan pandangan dari Shasha dan Arjuna. Sebagai sesama pria tentu saja dia bisa melihat gerak-gerik Arjuna yang ingin mendekati Shasha. "Kelihatannya sih begitu, Mas. Mereka memang akrab dari dulu. Tapi Alesha selalu menganggap Mas Juna seperti teman atau kakak saja," terang Tirta. "Sejak kapan Mas manggil Alesha jadi Shasha? Terus kenapa jadi kepo sama temanku itu? Mas Kai, suka ya sama dia?" Tirta memicingkan mata, curiga pada kakaknya. "Sejak Adi ngenalin aku sama Shasha. Adi enggak tahu kalau ternyata aku sudah kenal sama temanmu itu.” Kaisar menghela napas. “Aku hanya ingin tahu hubungan Shasha sama senior kalian, Ta. Apa enggak boleh?" Kaisar menoleh pada adiknya. "Boleh. Bebas mah kalau sesama jomlo mau kepo apa saja." Tirta tertawa setelah menjawab kakaknya. "Memangnya Mas Kai sudah bisa move on dari adiknya Mas Adi? Dita yang itu kan, yang duduk dipeluk sama suaminya." Tirta menunjuk ke meja di depan mereka dengan dagunya. Kaisar menyengguk. Dia menghela napas panjang. “Aku sudah ikhlas, Ta. Aku senang melihat Dita bahagia sama suaminya. Aku ingin coba membuka hati saja,” ujarnya. "Kalau Mas Kai punya niat dekati Alesha, jangan sampai untuk pelarian! Aku enggak rela sahabatku jadi tempat pelarian. Aku bakal marah sama Mas Kai kalau itu sampai terjadi!” Tirta memperingatkan kakaknya. "Siapa yang mau menjadikan dia pelarian, Ta? Aku enggak ada niat sama sekali. Kakaknya Dita malah yang mau comblangin aku sama dia. Makanya kemarin Shasha bisa hubungi kamu karena dia minta nomormu pas kami dikenalkan. Beberapa kali ngobrol sama Shasha, aku merasa cocok dan nyaman," ungkap Kaisar. “Shasha orangnya santai dan cuek. Beda sama cewek lainnya yang jaim, apalagi yang suka dekati aku. Mereka terlalu agresif. Aku jadi malas sendiri,” imbuhnya. “Alesha memang gitu, Mas. Orangnya apa adanya. Enggak neko-neko. Baik, pekerja keras, sayang keluarga, enggak sombong,” papar Tirta yang memuji sahabatnya. Kasiar mengangguk. “Makanya aku jadi nyaman ngobrol sama dia.” "Dijalani berteman dulu saja, Mas. Alesha bukan cewek yang gampang didekati meskipun teman cowoknya banyak. Rata-rata mereka suka sama Alesha tapi dianya biasa aja," saran Tirta pada Kaisar. “Eh, Mas. Kalau Mas Kai mau dekati Alesha, apa enggak jadi aneh? Alesha itu kakak iparnya Dita loh, mantan cinta pertamanya Mas Kai. Jangan sampai karena ingin terus dekat sama Dita terus dekati kakak suaminya. Aku enggak mau Mas Kai kaya gitu,” lontar Tirta sambil menoleh pada kakaknya. “Kamu ini kenapa suuzan terus sama aku, Ta?” Kaisar melirik adiknya seraya mengerutkan kening. "Mas Juna kayanya bakal jadi saingan berat Mas Kai tuh." Tirta mengalihkan pandangan ke arah panggung di mana Shasha dan Arjuna sudah siap akan berduet. Band yang mengiringi keduanya sudah memainkan musik. Kaisar mengikuti arah pandang adiknya. Kini matanya tertuju pada wanita yang sedang berdiri di atas panggung dengan membawa mikrofon. Shasha dan Arjuna menyanyikan lagu Lucky yang dipopulerkan oleh Jason Mraz dan Colbie Calliat. Lagu yang liriknya menggambarkan kebahagiaan dan rasa syukur karena beruntung jatuh cinta dengan teman baiknya. Meskipun terpisah, mereka tetap dekat dan saling mendukung. Duet Shasha dan Arjuna mendapat sambutan yang tak kalah meriah dari para tamu. Perpaduan suara dan gestur keduanya saat bernyanyi begitu harmonis. Setelah bernyanyi keduanya turun dari panggung. Kerabat Arjuna yang berpapasan dengan mereka, banyak yang menggoda. Menganggap Shasha sebagai pacar Arjuna. Namun, Shasha hanya menanggapi dengan tawa, tidak terlalu memedulikannya. "Mas, enggak mau duet sama Alesha?" goda Tirta. "Siapa tahu duet Mas Kai dan Alesha lebih fenomenal." Tirta mengikik sambil memandang kakaknya dengan tatapan menggoda. "Tunggu saja besok," ucap Kaisar penuh percaya diri. "Kenapa harus besok? Sekarang aja, Mas." Tirta mengompori kakaknya. "Kenapa jadi kamu yang lebih bersemangat?" Kaisar menoleh pada adiknya. "Aku enggak rela aja kakakku kalah dari Mas Juna." Tirta tergelak saat mengatakannya. "Dasar adik durhaka kamu malah meledek kakaknya." Kaisar menyentil kening Tirta. "Auch, sakit Mas. Tega benar sama adiknya," protes Tirta sambil mengusap-usap keningnya. Shasha dan Arjuna kembali duduk. Bergabung dengan Kaisar dan Tirta. “Keren banget duetnya, Sha.” Tirta mengacungkan dua jempol pada sahabatnya. “Buruan, bikin album berdua.” “Bikin album foto?” timpal Shasha dengan canda. “Boleh juga tuh. Bikin album foto pernikahan. Eaa,” lontar Tirta seraya melirik kakaknya. “Please deh, Ta. Jangan mulai ngomong yang aneh-aneh.” Shasha memutar bola matanya. “Mas Juna, setuju ‘kan?” Tirta beralih pada sang kakak tingkat. “Setuju apa?” Arjuna mengernyit. “Bikin album foto pernikahan dengan Alesha,” ucap Tirta yang membuatnya sukses mendapat cubitan kecil dari Shasha. “Aduh! Sakit tahu, Sha,” teriak Tirta sambil mengelus paha yang dicubit sahabatnya. Arjuna tersenyum. “Kalau itu sih terserah Alesha,” timpalnya kemudian. Kaisar diam, sama sekali tak berminat menanggapi obrolan mereka meskipun dia juga mendengar. Pandangannya kembali fokus ke atas panggung di mana Dita dan suaminya ada di sana. Rendra terus memeluk pinggang istrinya dengan posesif. Seakan menunjukkan kalau Dita, yang siang itu berdandan sangat cantik, adalah miliknya. Sesudah mengucapkan selamat dan mendoakan kedua pengantin, Rendra mempersembahkan lagu ‘Sempurna’ untuk para wanita yang tetap setia mendampingi pasangannya dalam keadaan apa pun, terutama untuk sang mama, ibu mertuanya, Dita, dan juga Adelia. Kaisar sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari panggung. Dengan hati yang besar, dia melihat Rendra yang terus bersikap romantis pada Dita selama bernyanyi. Bahkan di akhir lagu, Rendra mengucapkan ‘I love you’ pada istrinya, yang membuat beberapa wanita menjerit karena iri. Setelah itu, dia mencium punggung tangan, kening dan juga perut istrinya yang sudah terlihat membuncit. Well, Rendra sukses menunjukkan pada semua orang kalau Dita adalah istrinya, miliknya. Kaisar terus melihat semua itu karena ingin mengetes perasaannya pada Dita. Apakah masih ada rasa cinta yang tersisa di hatinya? Ataukah sudah berubah menjadi rasa sayang seorang kakak pada adiknya? Dia harus tahu sebelum mulai membuka hatinya untuk wanita lain, yaitu Shasha. Kalau nanti takdir ternyata menyatukan mereka, Kaisar harus memastikan hatinya hanya untuk sang istri dan tak ada sisa cinta pada Dita. Shasha adalah kakak ipar Dita, yang pasti akan membuatnya sering bertemu dengan gadis yang perrnah menguasai hatinya itu. Maka dia harus memastikan perasaannya terlebih dahulu. “Mas Kai, istri orang jangan dipelototi seperti itu.” Tirta tiba-tiba berbisik di telinga kakaknya begitu sadar kalau Kaisar terus memperhatikan Dita. “Gimana Mas Kai bisa move on dan mendekati Alesha kalau kaya gini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD