Netra Shasha membulat mendengar ucapan Bu Ayu. Dia kemudian melirik Arjuna yang tampak kaget dan salah tingkah karena tindakan tidak terduga maminya.
“Mami, apa-apaan sih. Jangan membuat Shasha nanti jadi sungkan sama aku,” protes Arjuna.
“Sungkan kenapa? Apa salahnya ‘kan kalian coba lebih dekat? Tidak harus menikah secepatnya juga kalau pacaran,” timpal Bu Ayu dengan santai.
“Saya sudah menganggap Mas Juna itu seperti kakak sendiri, Tante. Nanti malah jadi aneh kalau hubungan kami lebih dari sekarang.” Shasha akhirnya bersuara.
Bu Ayu beralih pada gadis yang duduk di sampingnya. “Aneh gimana? Kalau kalian berdua memang ditakdirkan berjodoh, apa ya mau ditolak?”
“Kalau memang takdirnya begitu, tentu saja saya akan menerimanya. Maksud saya tadi, pasti nanti ada jalannya sendiri kalau memang kami berjodoh. Tidak harus memaksakan diri untuk dekat atau pacaran,” tukas Shasha.
“Aku sependapat sama Alesha, Mi. Biarkan saja hubungan kami mengalir apa adanya. Yakin saja kalau jodoh enggak akan ke mana. Toh, Alesha juga belum ingin menikah.” Arjuna mendukung Shasha karena dia juga tidak ingin membuat adik tingkatnya itu merasa tertekan dengan usulan maminya hingga membuat hubungan mereka renggang.
Bu Ayu menggelengkan kepala mendengar ucapan keduanya. “Mami tidak memaksa, hanya menyarankan. Diterima ya alhamdulillah, kalau tidak juga tidak apa-apa,” tuturnya.
“Maaf kalau saya salah paham, Tante.” Shasha jadi tak enak hati.
Bu Ayu tersenyum. “Tidak apa-apa. Mungkin penyampaian Tante yang kurang tepat jadi membuat salah paham. Oh ya, nanti siang kamu juga datang ke resepsi ‘kan?” tanyanya kemudian.
“Insya Allah, Tante. Saya soalnya juga jadi panitia menggantikan adiknya Mas Adi yang sedang hamil,” sahut Shasha.
“Tante mau ke Om dulu ya. Kita ketemu lagi nanti malam,” ujar Bu Ayu.
Gadis itu menganggut. Kedua wanita berbeda generasi itu kemudian saling cipika-cipiki. Shasha menyalami mami Arjuna, sebelum wanita paruh baya itu pergi.
“Tolong maafin mamiku ya, Sha. Saking pengennya aku punya pacar sampai ngomong begitu sama kamu,” ucap Arjuna setelah maminya menemui sang papi.
Shasha tersenyum. “Santai saja, Mas. Wajar sih kalau orang tua ingin anaknya punya pasangan apalagi Mas Juna pekerjaannya sudah mapan.”
“Ya, tapi enggak perlu begitu juga. Aku yang jadi enggak enak sama kamu,” keluh Arjuna.
“Woles, Mas,” timpal Shasha.
“Kak Shasha, dipanggil Mama.” Nisa tiba-tiba sudah ada di dekat keduanya.
“Mas, aku permisi ke mamaku dulu ya,” pamit Shasha pada sang kakak tingkat.
“Oke. Aku ketemu sama saudara yang lain juga,” sahut Arjuna.
“Ayo, Nis.” Shasha mengajak adiknya pergi menemui mama mereka. Setelah itu, Arjuna juga pergi, bergabung dengan mami dan papinya.
“Tadi itu polisi temannya Mas Adi, Kak?” Nisa merasa penasaran dengan pria yang tadi bersama kakaknya.
“Bukan. Dia dulu katingku,” jawab Shasha.
“Wah! Kak Shasha keren bisa dekat sama dua cowok sekaligus,” timpal Nisa.
“Hush! Jangan ngomong sembarangan. Mereka semua teman,” sanggah Shasha. Dia tidak mau keluarganya berpikiran yang tidak-tidak.
“Teman apa teman,” goda Nisa.
“Nih anak resek banget sih,” desis Shasha sambil melirik adiknya.
“Kak Shasha, ke mana saja sih? Ditungguin dari tadi mau foto bersama,” protes Rendra begitu Shasha dan Nisa datang.
“Kak Shasha lagi asyik mojok sama cowok ganteng,” celetuk Nisa yang sukses mendapat pelototan dari sang kakak sulung.
“Siapa? Mas Kai?” tebak Rendra.
Nisa mengangkat kedua bahunya. “Mana kutahu. Tanya aja sendiri. Yang jelas bukan polisi temannya Mas Adi.” Lagi-lagi gadis itu membongkar rahasia kakaknya.
“Nisa! Bisa diam enggak!” Shasha kembali melotot pada adik bungsunya.
“Ih takut!” Bukannya berhenti menggoda, Nisa malah meledek Shasha.
“Shasha, Nisa, ayo segera foto. Kasihan Dita sudah capek nunggu kalian.” Bu Dewi akhirnya bersuara untuk melerai kedua putrinya.
Shasha dan Nisa menurut pada sang mama. Shasha tak lagi membalas ledekan sang adik bungsu. Mereka kemudian melakukan foto bersama mumpung mengenakan pakaian seragam. Setelah itu, mereka pulang karena Dita yang sedang hamil sudah lelah dan harus beristirahat. Siang harinya, mereka masih harus menghadiri resepsi pernikahan Adi dan Adelia.
Di gedung yang tidak jauh dari tempat pelaksanaan akad nikah, resepsi pernikahan tersebut dilangsungkan. Adi dan Adelia mengenakan pakaian adat dengan konsep paes ageng kanigaran. Pasangan pengantin itu memasuki ruangan diiringi dengan gamelan Jawa. Di belakang mereka, selain kedua orang tua, anggota keluarga inti juga ikut, termasuk Bu Dewi, Shasha, dan Nisa. Mereka kembali mengenakan seragam dengan warna dan motif yang sama.
Malam itu Shasha bertemu lagi dengan Arjuna dan kedua orang tuanya. Namun, mereka tidak banyak bicara karena gadis itu sudah janji bertemu dengan Tirta. Arjuna tetap bersama Shasha, sementara mami dan papinya bergabung dengan keluarga yang lain.
“Tirta,” teriak Shasha saat melihat teman kuliahnya datang dengan Kaisar.
“Alesha, apa kabar?” Tirta langsung memeluk erat sahabatnya itu. Karena kesibukan masing-masing dan hilang komunikasi, mereka baru bertemu setelah wisuda kelulusan keduanya.
“Aku kangen banget sama kamu,” ucap Shasha yang balas memeluk sang sahabat dengan erat.
“Sama, Sha,” timpal Tirta.
Mereka cukup lama berpelukan, sementara Kaisar dan Arjuna menjadi penonton. Kedua pria itu tersenyum dan bersalaman sebagai bentuk sopan santun meskipun tidak saling bicara. Setelah beberapa saat melepas rindu, kedua gadis itu akhirnya mengurai pelukan. Mereka saling cipika-cipiki sebelum berjalan bergandengan mencari tempat duduk untuk mengobrol. Kaisar dan Arjuna dengan setia mengikuti mereka.
“Kamu kalau pas pulang mainlah ke rumahku, Ta,” pinta Shasha pada sahabatnya itu.
“Ya, nanti diaturlah, Sha. Aku kalau pulang seringnya ke rumah Bapak, jarang ke rumahnya Mas Kai kecuali ada acara di sini,” jawab Tirta.
“Ya, pokoknya besok kontak-kontakan. Kamu ‘kan juga sering keluar kota. Masa aku ke sana, kamunya enggak ada,” sambung Tirta.
“Kamu ‘kan bisa ketemu Mama atau Nisa,” timpal Shasha.
“Iya sih. Aku tuh kangen kue buatan Tante Dewi. Udah lama banget ‘kan aku enggak ke rumahmu. Tante masih ingat aku enggak ya?” tanya Tirta.
“Sempat lupa sih kemarin. Tapi waktu aku bilang yang suka minta resep dan diajarin bikin kue, langsung ingat,” terang Shasha.
Tirta tertawa mendengar penjelasan Shasha. “Jadi malu sendiri, modusnya minta resep dan diajarin aslinya pengen nyicip kue gratisan,” selorohnya.
Shasha ikut tertawa mendengar gurauan sahabatnya itu.
“Wah, Jingga berani juga tampil,” celetuk Tirta saat melihat sepupu Adi itu naik ke atas panggung dan berduet dengan Bara menyanyikan lagu berjudul I foundly found someone yang dipopulerkan oleh Bryan Adams dan Barbara Streisand.
“Kamu kenal sama Jingga?” Shasha menoleh pada Tirta.
“Ya kenal. Kalau tinggal di kampung itu beda sama di kota. Beda kecamatan aja bisa saling kenal, Sha,” terang Tirta.
“Suaranya bagus juga,” puji Shasha yang menikmati duet mereka.
Tirta menganggut. “Jingga memang suka nyanyi. Kalau ada acara 17-an dia selalu tampil. Tapi aku enggak nyangka dia berani unjuk gigi di acara mewah kaya gini.”
Shasha tersenyum. “Siapa tahu ada produser yang datang terus dia diminta rekaman. Ya ‘kan. Relasinya Pak Lukman dan Bu Sarah itu bukan orang sembarangan secara keduanya sama-sama pejabat dan masih kerabat keraton. Banyak tamu VIP siang ini,” ujarnya.
Tirta menggut-manggut mendengar penjelasan Shasha. “Wah, Mas Adi beruntung banget dapat istri dari keluarga terpandang. Pasti yang dulu nolak lamaran Mas Adi bakal kejang-kejang kalau tahu siapa keluarga istrinya. Jauh banget kelasnya dari mereka.”
“Ta, berhenti ngomongin orang!” tegur Kaisar yang sejak tadi menyimak obrolan sang adik dan Shasha.
“Iya, Mas.” Tirta pun menuruti sang kakak untuk tidak mengumbar aib orang lain.
Mereka bertepuk tangan saat duet Jingga dan Bara berakhir. Keduanya mendapat sambutan yang meriah dari orang-orang yang ada di sana. Meski tanpa latihan, Jingga dan Bara bisa membawakan lagu dengan sangat apik, menyenangkan telinga yang mendengar dan melihat duet mereka di atas panggung.
"Sha, kita duet yuk," ajak seseorang pada Shasha.