Bab 7. Kenapa Ga Pacaran Aja?

1238 Words
“Kamu masih mau ambil makanan lagi atau udahan, Sha?” tanya Arjuna setelah menyelesaikan makannya. “Udah, Mas. Udah kenyang juga,” jawab Shasha. “Dikit banget makanmu. Enggak usahlah diet, udah bagus begitu badanmu,” ujar Arjuna. “Siapa yang diet? Aku memang enggak bisa makan banyak sekarang soalnya pakai jarik. Perutku dibebet stagen, Mas,” jelas Shasha. “Oh, aku kira kamu diet.” Arjuna meringis menahan malu. “Gimana jadi mau ketemu Mami sama Papi enggak?” tanyanya kemudian. “Boleh, deh. Enggak enak kalau sama-sama di sini enggak nyapa,” jawab Shasha. “Ya udah, yuk.” Arjuna berdiri lalu mengulurkan tangan kiri pada sang adik tingkat. Shasha menoleh pada Kaisar yang baru minum air mineral gelas setelah selesai makan. “Mas Kai, aku ke sana dulu ya. Nanti malam kalau datang sama Tirta, jangan lupa kabari aku,” pamitnya. “Oke,” jawab Kaisar. Shasha kemudian berdiri dengan hati-hati. Arjuna bantu memegang lengan gadis itu agar tidak terjatuh. Mereka kemudian meninggalkan Kaisar yang hanya bisa menatap punggung keduanya. Dia menghela napas panjang sebelum bangkit dan beranjak dari sana untuk bertemu dengan Arsenio atau siapa pun yang dikenalnya. “Mami, Papi, lihat siapa yang aku bawa ke sini,” ucap Arjuna di area VIP di mana kedua orang tuanya berada. Sontak Bu Ayu dan Pak Bima menoleh ke arah sumber suara. Wanita paruh baya itu berdiri dan langsung tersenyum saat melihat sosok gadis yang bersama Arjuna. “Ya ampun, ini Alesha ‘kan?” tanyanya memastikan. Shasha menganggut sambil tersenyum. “Iya, Tante. Saya Alesha. Tante sama Om apa kabar?” Gadis itu langsung menyalami dengan takzim mami Arjuna. “Alhamdulillah kabar Tante sama Om baik. Lama banget kita enggak ketemu. Tante kangen pengen ngobrol sama kamu lagi.” Bu Ayu memeluk Shasha setelah mereka cipika-cipiki. Shasha hanya menanggapi dengan tersenyum karena tidak tahu harus menjawab bagaimana. Setelah itu dia menyalami Pak Bima, papi Arjuna. “Ayo duduk sini, Sha. Kamu sudah makan apa belum?” Wanita paruh baya itu menarik Shasha untuk duduk di samping kursinya yang kosong. “Saya sudah makan, Tante. Saya duduk di sana saja dengan Mas Juna.” Shasha menunjuk kursi yang ada di tenda untuk tamu undangan. “Silakan Om dan Tante menikmati hidangannya. Saya permisi dulu,” pamitnya karena tak enak mengganggu keduanya yang sedang makan. “Nanti kita ngobrol ya, Sha. Jangan pulang dulu,” pinta Bu Ayu. “Insya Allah, Tante,” sahut Shasha. Dia dan Arjuna kemudian meninggalkan area VIP menuju tenda untuk umum. Tanpa keduanya sadari, beberapa pasang mata melihat kebersamaan mereka. “Di Jogja sampai kapan, Mas?” Shasha bertanya setelah mereka duduk kembali. “Besok malam balik ke Malang,” jawab Arjuna. “Memangnya dari Malang kapan?” tanya Shasha lagi. “Jumat sore dari sana, sampai sini malam. Kalau kamu dinas ke Malang kabarilah, Sha. Tapi jangan mendadak kaya dulu itu,” timpal Arjuna. “Insya Allah, Mas. Tapi aku enggak bisa janji. Dulu itu juga spontanitas. Ternyata kerjaan lebih cepat kelar, jadi ada waktu buat jalan-jalan sambil nunggu jadwal kereta,” terang Shasha. “Memangnya kalau kamu kunjungan gitu enggak sempat jalan-jalan?” Arjuna menoleh pada gadis di sampingnya. Shasha menggeleng. “Biasanya ‘kan seharian kerjanya, Mas. Kelar udah malam, terus langsung ke hotel, tidur.” “Besok lagi ngabarin kalau mau ke Malang. Aku ‘kan bisa main ke hotel terus ajak kamu wisata kuliner atau jalan-jalan ke mana gitu. Sayang ‘kan udah sampai sana enggak sekalian jalan-jalan. Kalau kamu capek tenang saja. Aku ada mobil kok di sana. Jadi, kamu bisa istirahat atau tidur dalam perjalanan,” ujar Arjuna. Shasha tersenyum. “Insya Allah, Mas.” “Alesha,” panggil Bu Ayu yang berjalan sendirian ke arah keduanya. “Tante.” Shasha berdiri begitu melihat mami Arjuna. “Mari duduk sini, Tante.” Dia menunjuk kursi yang ada di sampingnya. Bu Ayu pun duduk di sana sambil memegang tangan gadis itu. “Alesha, tadi yang gandeng Adelia itu kamu atau bukan?” Bu Ayu membuka pembicaraan. Shasha menganggut. “Iya. Itu saya sama Jingga, sepupunya Mas Adi.” “Jadi kamu masih saudara sama suaminya Adelia?” Mami Arjuna menatap gadis yang dia inginkan sebagai calon menantu itu. Sekali lagi Shasha menyengguk. “Bisa dibilang begitu. Adik saya itu nikah sama adiknya Mas Adi,” jelasnya. Wanita paruh baya itu mengernyit mendengar jawaban Shasha. “Adik kamu sudah nikah? Berarti kamu juga?” Shasha menggeleng. “Saya belum nikah, Tante. Saya dilangkahi adik saya,” terangnya dengan senyum di wajah cantiknya. “Alhamdulillah.” Bu Ayu menghela napas lega sambil memegang d**a. Gantian Shasha yang mengerutkan kening. “Tante, kenapa?” Wanita yang masih cantik dan anggun meskipun usianya sudah lebih dari setengah abad itu tersenyum. “Tante senang karena kamu belum nikah. Jadi, masih ada kesempatan buat Arjuna,” ujarnya. “Mami!” tegur Arjuna yang tidak mau maminya terlalu blak-blakan pada gadis yang disukainya itu. Dia ingin mendekati Shasha dengan caranya sendiri. Bukan karena sang mami yang coba mendekatkan mereka. Dia takut adik tingkatnya itu malah menjauh kalau tidak nyaman dengan sikap sang mami. “Kamu sudah punya pacar atau belum?” tanya Bu Ayu pada Shasha sambil melirik pada putra tunggalnya. Shasha mengoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan. “Belum, Tante. Saya juga masih fokus bekerja. Belum berpikir sampai ke sana,” jawabnya. “Kenapa? Kita ini wanita loh, ada batas waktu kalau mau hamil dan melahirkan. Justru punya anak kalau masih muda lebih enak. Kita masih energik. Terus nanti kalau anaknya sudah gede, kita belum terlalu tua dan masih sehat. Bisa mendampingi mereka saat menikah dan juga masih kuat menimang cucu,” timpal Bu Ayu. “Alesha, karir kalau dikejar enggak akan ada habisnya. Kita sebagai wanita tidak punya kewajiban ikut mencari nafkah, itu tugas suami. Bukan berarti Tante tidak setuju wanita bekerja ya. Sah-sah saja wanita bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, asal jangan melupakan tugas utamanya sebagai istri dan ibu,” lanjut wanita paruh baya itu. “Memang kalau bekerja itu bisa membuat kita lebih bebas menggunakan uang sendiri tanpa mengganggu uang belanja dari suami. Tapi ingat! Wanita yang di rumah, bukan berarti tidak bisa menghasilkan uang. Sekarang teknologi sudah maju dan canggih, siapa pun bisa bekerja dari rumah. Tinggal kita bisa memanfaatkan peluang atau tidak,” imbuhnya. Shasha diam, mendengarkan dengan saksama penuturan Bu Ayu. Dia tidak merasa tersinggung sama sekali. Malah senang karena mendapat banyak nasihat. “Mami, ngomong apa sih? Jangan membuat Alesha jadi tidak nyaman,” protes Arjuna pada maminya. Setelah itu dia beralih pada Shasha. “Maafkan Mami ya kalau sudah menyinggung perasaanmu, Sha,” pintanya. Bibir Shasha melengkung, membentuk bulan sabit. “Tidak ada yang salah dengan apa yang dibicarakan Tante Ayu. Saya justru senang diberi banyak masukan. Terima kasih, Tante,” sahutnya sambil memandang mami Arjuna. “Tuh Alesha saja malah senang kenapa kamu yang sewot?” Bu Ayu merasa kesal dengan sikap sang putra. “Aku takut Shasha tersinggung, Mi,” timpal Arjuna pelan. Dia tidak mau hubungan baiknya dengan Shasha renggang karena maminya. “Kamu dengar sendiri ‘kan tadi kalau Alesha malah senang. Kamu ini terlalu berlebihan.” Bu Ayu mengomeli Arjuna. “Iya, Mi. Aku salah, maaf.” Pria tampan dan tinggi itu memilih mengalah daripada mendapat ceramah panjang lebar dari sang mami. Wanita paruh baya itu lalu beralih pada Shasha. “Kamu ‘kan masih single. Arjuna juga single. Kenapa kalian enggak pacaran saja?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD