Bab 11

1174 Words
Kinar menarik napas panjang.”Prank kalian berhasil. Aku maafin,tapi, aku enggak mau itu video tayang. Kalau tayang, aku bakalan tuntut kalian!” “Iya, Mbak.” “Ya udah, terima kasih atas pembelaan kalian pada Bara. Kalian pulang aja, udah malam,”kata Kinar. Keempat pria itu pun pamit. “Sayang....” Bara mencolek tangan Kinar. “Apa?” “Maaf ya...tadi aku prank.” Bara tersenyum tanpa merasa bersalah. “Makan itu prank!” Kinar pun pergi meninggalkan Bara sendirian. “Eh, kamu mau kemana.. kalau mau pulang pamitan dulu, sayang...”Bara mengejar Kinar. Langkah Kinar terhenti, kemudian berbalik arah menuju ruangan sang Mama. Bara menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil ikut masuk ke dalam ruangan. “Kin...kamu pulang aja ya. Istirahat,kita juga mau istirahat,”kata Bima. “Kinar mau jagain, Kak.” “Kita gantian aja ya jagain Mama. Kamu kan capek habis kerja, biar malam ini kita yang jaga.” Kinar mengangguk. “Bara, tolong antarkan Kinar pulang ya,”kata Bima. “Iya, Mas,”jawab Bara. “Ya udah, sana, Kin...” Kinar mengangguk, kemudian ia keluar dari ruangan. Berjalan cepat menuju parkiran. Bara membukakan pintu untuk Kinar, wanita itu masuk dengan wajah juteknya. “Sayang, jangan marah lagi dong,”bujuk Bara.”Suasananya kan lagi enggak enak. Kita baik-baik aja ya.” “Makanya jangan ngerjain orang. Apa itu prank-prank segala!”omel Kinar. “Lagi musim, sayang.” Bara tertawa. “Aku mau makan sekarang!” Bara tersentak kaget.”Udah malam gini? Enggak takut gemuk?” “Biarin aku gemuk, biar kamu cari cewek lain aja sana!”kata Kinar. Bara tertawa.”Ya enggak dong, kamu yang paling cantik di dunia setelah Mamaku. Ya udah kamu mau makan apa?” “Martabak telur yang banyak!” “Siap, sayang!!” Bara melajukan kendaraannya meninggalkan area rumah sakit itu menuju ke kawasan kuliner malam untuk memenuhi keinginan sang calon isteri. ** Pagi ini, Kinar bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Ia berencana ambil cuti hari ini, tapi sayangnya tidak bisa mendadak. Untungnya besok sudah weekend, jadi ia tidak perlu khawatir. Kinar buru-buru pamit pergi, ia ingin mampir dulu ke rumah sakit untuk melihat kondisi sang Mama. Di depan rumah, ternyata Bara sudah menunggu. Kinar mengerutkan keningnya.”Ngapain, Kak?” “Mau jemput kamu, biar kita barengan ke kantor.” “Tapi, aku mau ke rumah sakit dulu lihat Mama sebentar. Masih sempet kan?” Bara mengangguk.”Ya udah yuk.” Mobil menelusuri jalanan yang ramai, menuju rumah sakit dimana tempat Mama Kinar dirawat. Bima, Leon, dan Rani masih di sana. Mereka berdua masuk ke dalam ruangan. Bima memberi kode pada Leon dan Rani agar keluar dari sana. Ia memang tahu bahwa Ibu mereka ingin bicara dengan Kinar dan Bara. “Ma,Mama udah enakan kan? Semalam Kinar ke sini...Mama tidur.”Wanita itu duduk di sebelah Anaya dan memeluk lengannya. “Iya, Bima udah bilang begitu. Mama...baik-baik aja,”jawab Anaya. “Mama, semoga cepat sembuh,”kata Bara. “Terima kasih,Bara...kalian ke sini sama-sama?” Bara mengangguk.”Iya,Ma. Bara jemput Kinar ke rumah. Soalnya Kinar kan enggak ada mobil jadi dijemput aja.” “Syukurlah kalau kamu begitu perhatian pada Kinar. Dan...Mama yakin kamu pasti juga sayang sama Kinar.” “Iya, Ma. Saya sangat sayang Kinar,”ucap Bara yang membuat Kinar berdebar-debar. Anaya menoleh ke arah anak bungsunya.”Kin, Mama boleh minta sesuatu sama kamu?” “Apa itu, Ma?” Wanita paruh baya itu terlihat begitu lemah, namun berusaha tersenyum pada sang anak bungsu.”Kamu segera menikah sama Bara.” “Iya, Ma...kan memang kita mau segera menikah. Besok kan lamarannya.” Kinar menggenggam tangan Anaya. “Besok kamu menikah, ya, Kin? Bara...bisa, kan?” pinta wanita paruh baya itu dengan penuh harap. Bara terlihat kaget karena tiba-tiba disuruh menikah. Karena ia belum ada persiapan apa pun. Ia juga harus memberi tahu orangtua dan keluarga besarnya perihal ini. Tentunya membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama.”Bisa, Ma, kalau memang sudah disepakati seperti itu, saya langsung hubungin orangtua saya.” Anaya tersenyum lega.”Waktu Mama enggak lama, Kinar....” Kinar menggeleng kuat.”Enggak, Ma. Mama jangan mendahului Tuhan begitu. Mama pasti sembuh. Kinar yakin itu.” Bara mengusap punggung Kinar.”Jangan panik,”bisiknya.”Biarkan pikiran Mama tenang.” Kinar mengangguk.”Pokoknya...Mama tenang aja, Mama harus cepat sembuh. Nanti Kinar bakalan nikah, bahagiain Mama.” “Bara, kamu beri kabar sama orangtua kamu ya. Besok kamu menikah, koordinasi dengan Bima dan Leon. Tidak perlu ada acara,cukup menikah saja. Yang penting Mama bisa menyaksikan akad nikah kalian. Waktu Mama enggak lama lagi.” Air mata Kinar mengalir deras. Ia tidak sanggup lagi menahan rasa sedih saat mendengar Anaya mengucapkan kalimat itu berkali-kali. Itu artinya, mungkin saja Mamanya akan pergi meninggalkan mereka semua untuk selama-lamanya. Bara tertegun, ada sedikit rasa berdenyut di hatinya. Ucapan Anaya tidak main-main. “Baik, Ma. Mama jangan khawatir, besok saya akan nikahin Kinar.” Anaya tersenyum tipis,”syukurlah kalau begitu. Maafkan kondisinya harus begini ya.” “Jangan dipikirkan, Ma. Kita jalani saja semuanya,”balas Bara dengan tenang. “Ya sudah kalian berangkat sana. Nanti terlambat,”kata Anaya memperingatkan. Kinar bangkit, mengecup kening sang Mama, mencium tangannya kemudian pergi dengan berat hati. Di dalam mobil, tangisan Kinar mulai berhenti. Bara tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa membiarkan Kinar menangis, meluapkan segala apa yang ia rasakan. Setelah air matanya kering, ia melirik ke arah Bara. “Kakak enggak apa-apa kalau disuruh nikahin aku besok?” Bara mengangguk.”Iya, aku siap kok. Aku hanya perlu memberi pengertian pada Mama sama Papa perihal waktu pernikahan kita yang dipercepat jadi besok.” “Maksudnya...kita...menikah?” Kinar menatap Bara. Pria itu pun mengurangi kecepatan mobilnya. “Kita, iya ...kita dua manusia yang dulunya asing. Tapi, tidak untuk sekarang. Memangnya kenapa dengan aku, Kin? Enggak pantas jadi suami kamu?”Kini Bara menatap Kinar dengan begitu lembut. Lagi-lagi, hati Kinar meleleh dibuatnya. Perasaannya menghangat dan rasanya ingin bersandar di pundak Bara. Kinar menghela napas panjang.”Oke...” “Kamu siap, kan?” Kinar menoleh.”Siap untuk apa?” “Jadi isteriku, seumur hidup!” Jantung Kinar berdegup kencang,isteri. Tentunya pernikahan bukanlah hal yang mudah dan simple. Menikah artinya begitu luas dan bermakna. Ia juga akan hidup bersama Bara, melayani pria itu sebagai suaminya. Tentunya juga untuk urusan ranjang. Wajah Kinar langsung merona, ia dan senior Bara akan berpelukan, berciuman, saling mencumbu. Wajah dan telinga Kinar terasa panas membayangkan itu. Bara tersenyum penuh arti seakan ia bisa membaca pikiran Kinar. Pria itu cukup puas dengan situasi saat ini. Setidaknya Kinar perlahan mulai menerima. Takdir memang begitu misteri, waktu membawanya kembali pada Kinar. Mereka berdua pun sampai ke kantor. Mereka berjalan beriringan, tapi kemudian langkah bara terhenti saat bertemu dengan Hardi di depan resepsionis. “Aku bicara sama Hardi ya. Kamu masuk aja sana,”kata Bara. Kinar mengangguk, tersenyum pada Hardi sekilas kemudian beranjak menuju ruangannya. Dita dan Yuni spontan menoleh ke arah pintu yang baru dibuka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD