Bab 10

1162 Words
 Kinar melihat nama Leon, kemudian ia menggeser layar.”Iya, Kak?” “Kamu dimana?” “Di jalan, Kak. Sebentar lagi mau pulang kok,”kata Kinar. “Kin,kamu ke rumah sakit sekarang ya,”kata Leon dengan nada lemah. “Ada apa, Kak?” “Ada yang gawat, kamu datang aja dulu ya.” Tubuh Kinar membatu, tangannya gemetaran. “Iya, Kak.” “Oke.” Leon memutuskan sambungannya. Kinar menelan ludahnya kelu, lalu menoleh ke arah Bara.”Kita ke rumah sakit sekarang, Kak.” “Ada apa?” “Nggak tahu, cuma disuruh cepat aja. Ada yang gawat,”kata Kinar tercekat. Bara mengangguk. Kemudian ia mengabaikan rasa sakitnya, lalu melajukan mobil ke rumah sakit yang disebutkan oleh Kinar. Rumah sakit itu adalah rumah sakit dimana biasanya Kinar dan keluarga berobat. Kinar berlari kecil menuju unit gawat darurat. Di sana sudah ada Bima, Leon beserta isteri, Qiana beserta suami,dan Citra beserta suami. Wajah mereka terlihat tegang. “Siapa di dalam?”Kinar bertanya pada semuanya. “Mama.” “Mama kenapa?”mata Kinar berkaca-kaca. Bima menggeleng.”Tiba-tiba drop. Masih diperiksa.” Kaki Kinar terasa lemas, ia terduduk di lantai. “Kok bisa?” Bima meraih adik bungsunya itu, membawa ke kursi yang tak jauh dari sana. Bara berdiam diri di dekat Leon. Tak lama, perawat memanggil. Qiana sebagai anak perempuan tertua langsung masuk ke dalam. Dokter memutuskan Anaya harus dirawat. Mereka semua menunggu pihak rumah sakit menyiapkan ruangan. Hati Kinar hancur saat menatap sang Ibunda terbaring lemah. Sore tadi, beliau masih baik-baik saja. Bagaimana mungkin sekarang terbaring lemah tak berdaya. “Kin, kita mau ngomong.” Bima mengajak Kinar keluar ruangan. Kinar mengangguk, semua keluar kecuali Rani yang ditugaskan menjaga Anaya untuk sementara. Sebab mereka ingin membicarakan sesuatu yang penting pada Kinar. “Mama enggak sakit parah,kan, Kak?”tanya Kinar dengan lirih. “Jadi, Kin...Mama itu memang sudah tahu kalau waktunya sudah dekat,”ucap Bima dengan berat. “Maksudnya?” “Dua Minggu yang lalu Mama hubungin kita semua, bilang kalau hidupnya enggak lama lagi. Mama merasa sudah waktunya 'pulang'. Mama sangat khawatir sama kamu yang belum menikah dan...ingin melihat kamu menikah sebelum Mama...pergi.” suasana begitu hening, sesekali terdengar isakan pilu dari Qiana dan Citra. “Ini ...enggak mungkin.” Kinar menggeleng. “Tapi, ini serius, Kin. Makanya...seserius ini ambil cuti, menemani Mama. Dua Minggu yang lalu kita sudah menangis di rumah masing-masing, rasanya enggak mau ini terjadi. Tapi, ini pasti akan terjadi pada semua orang. kita benar-benar nekat jodohin kamu kalau kamu enggak bawa siapa pun ke hadapan Mama.Melihat kamu menikah, Itu adalah permintaan terakhir Mama.” “Kin,Mama cuma mau lihat kamu menikah. Maka,Mama bisa pergi dengan tenang.”Tangis Qiana kemudian pecah. Citra mengusap-usap punggung sang Kakak, ia juga menangis. Tentunya semua sedih dengan kejadian ini. “Kenapa...aku enggak diberi tahu soal ini?” “Mama yang minta. Mama takut kamu kaget dengan kabar ini.” “Ya jelas aja Kinar kaget, Kak. Kinar enggak mau kehilangan Mama.”Tangis Kinar akhirnya pecah, ia setengah berteriak. Leon langsung memeluk sang adik. “Dek, sabar...kita semua juga enggak mau kok.” Leon mengusap-usap punggung Kinar. “Tapi, Kinar belum mau menikah, Kak!!”kata Kinar. Bima menarik napas dalam-dalam. Kemudian ia mengangguk.”Ya sudah, itu adalah pilihanmu. Tentu kamu tidak bisa memaksa. Tapi, semoga kamu enggak nolak kalau Mama yang minta ya?” Kinar mengangguk, ia berharap Mamanya segera sembuh dan tidak memintanya segera menikah. Sebab, Bara bukanlah pilihan yang tepat. “Ya udah, Mama sudah mendapat perawatan. Ini sudah malam...biar aku sama Leon dan Rani yang jagain Mama,”kata Bima pada semuanya. “Tapi, aku pengen nungguin Mama, Kak,”isak Qiana. “Tapi, Lana enggak tahu kalau kamu di sini, Qi. Besok pasti bakalan nyariin kamu kalau bangun,”kata Bima. Semua anak-anak di rumah bersama Diana. Qiana mengangguk.”Ya udah, kalau terjadi apa-apa, cepetan kabarin ya,Kak.” “Iya. Kalian istirahat, jangan sedih-sedih kalau di depan Mama.” “Kin,ayo pulang,”ajak Citra. “Duluan aja, Kak. Kinar masih mau di sini,”balas Kinar. Mereka semua mengangguk, lalu pulang ke rumah. “Kenapa belum pulang?” Leon mengacak-acak rambut Kinar.”Mau diantar sama Bara ya?” “Nggak!”jawab Kinar dengan nada kebencian. Leon menatap Bara.”Pabrik gula, ini adek kenapa?” “Cuma ada sedikit salah paham tadi, Mas. Terus kita bertengkar,”jawab Bara. “Salah paham apanya!”nada suara Kinar meninggi. “Eh, jangan berisik. Leon, ayo kita masuk. Biarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya.” Bima mengajak Leon masuk ke dalam melihat kondisi sang Mama. “Kamu masih marah?”tanya Bara. “Nggak marah, soalnya aku enggak cinta sama kamu!”ucap Kinar ketus. Bara tersenyum penuh arti. Kemudian ia menghubungi seseorang di seberang sana. “Ke sini sekarang, bawa videonya. Alamatnya udah aku kirim!” Hanya itu yang diucapkan Bara, lalu ia menyimpan kembali ponselnya. Kinar melirik Bara dengan heran, sebenarnya pria itu sedang bicara pada siapa. Malam semakin larut, mereka duduk berdampingan tetapi tidak saling bicara. Sampai akhirnya empat pria datang menghampiri. Kinar menyipitkan matanya, mendadak ia emosi melihat pria berbaju pink yang ia temui di acara tadi. Tentunya pira itu yang berciuman dengan Bara. “Ini, Bar!” Pria itu menyodorkan sebuah ponsel pada Bara. “Lama banget!”protes Bara.”pertanyaan kamu tadi, bisa dijawab di ideo ini, sayang.”Bara menunjukkan sebuah video pada Kinar. Kinar menatap Bara dan keempat pria lainnya di sana dengan dingin. Ia tidak meraih ponsel itu, melainkan membuang mukanya. Ia tidak sudi mendengarkan penjelasan apa pun. “Dilihat dulu, Kin,baru kamu boleh marah atau benci sama aku,”kata Bara yang kemudian menyalakan videonya. Kinar menoleh perlahan, lalu muncul suasana di pesta pernikahan tadi. Tampak Bara dan keempat temannya itu berdiri menghadap kamera. Mungkin ini diambil setelah Bara pergi. Lalu tampak pria berbaju pink itu bicara,”kita akan prank gadis cantik itu.” Kamera mengarah pada Kinar yang sedang duduk sambil menikmati makanan. “Namanya Kinar, calon isteri aku...dan rencananya mau prank, kita mau bikin seolah-olah aku ini pecinta sesama jenis.Mari kita mulai,”kata Bara. Kinar membelalakkan matanya, ia menonton video sampai habis. Bahkan sampai mereka ada di dalam kamar. Adegan pelukan dan ciuman itu tidak sepenuhnya benar. Mereka memang berpelukan tapi, adegan itu mereka ulang berkali-kali sebab Bara bergidik ngeri. Adegan ciuman itu, ternyata bibir mereka dibatasi oleh buah apel. “Ini prank buat apa?” “Konten vlognya dia nih,”tunjuk tiga pria yang menjadi perekam dan penonton pada pria baju pink. Pria itu cengengesan.”Iya, Maaf ya...tapi, ini idenya Bara. Sumpah. Maaf ya...” Kinar melirik tajam ke arah Bara.”Awas aja kalau ini sampai tayang ya. Aku kutuk kalian jadi kutu cacing!” “Maaf,ya, Mbak. Kitanya juga keberatan, soalnya kan enggak kenal. Tapi, Bara maksa.” Pria berbaju hitam meminta maaf. Dan semua pun mengamini apa yang dikatakannya. Dan kini, Bara menjadi tersangka utamanya.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD