Bab 9

1110 Words
Kinar tercengang, tubuhnya membatu dan Kini ia sudah seperti balok es di bawah terik sinar matahari, meleleh. Jam kantor berakhir, Kinar menggeliat. Ia segera keluar karena Leon sudah menunggu di depan sana. Ia segera masuk ke dalam mobil sang kakak. “Kak,”panggil Kinar. “Ya!” “Nggak apa-apa, Kinar ngantuk.” “Ya udah tidur.” Leon mengusap puncak kepala Kinar. Adiknya itu langsung tertidur. Sampai di rumah, Kinar langsung mandi dan kembali tidur. Ia tidak peduli dengan apa yang sedang terjadi di rumah, yaitu kesibukan kakak-kakaknya mempersiapkan penyambutan keluarga Bara. Besok adalah lamaran Kinar. Itu menjadi berita yang sangat baik di keluarga ini. Sampai akhirnya, Qiana membangunkan Kinar dengan paksa. “Kenapa sih, Kak. Kinar ngantuk!”protes Kinar saat kakaknya itu membangunkannya. “Ada Bara tuh di depan.” “Biarin aja, kan kita enggak ada janjian,”jawab Kinar sambil memeluk gulingnya dengan erat. “Jangan begitu sama calon suami, bangun!” Qiana menarik Kinar. “Astaga....” Kinar terlihat kesal. Kemudian ia segera bangkit dan menuju ruang tamu tanpa mencuci muka terlebih dahulu. Biar saja Bara ilfeel, begitu pikirnya. “Nah itu...anak gadis baru bangun!” Bima saat ini sedang menemani Bara ngobrol. `           “Iya ngantuk, Kak,”kata Kinar manja. “Jangan begitu di depan calon suami, belum cuci muka ya?”tegur Bima dengan tatapan membunuh. Kinar menggeleng.”Enggak apa-apa. Kak Bara menerima Kinar apa adanya kok.” Bara tersenyum melihat tingkah calon isterinya itu.”Iya, itu benar.” “Huuu dasar pabrik gula,”kata Leon pada Bara. Calon adik iparnya itu hanya membalas ucapan Leon dengan tertawa jenaka. “Kin, Ayo kita jalan,”ajak Bara. “Kemana?”tanya Kinar malas. “Ke acara nikahannya temen. Kan kita juga sebentar lagi mau menikah, jadi...kita juga harus menghadiri resepsi pernikahan orang lain kan.” Jawaban Bara memang selalu tepat sekali. Rasnaya tidak akan pernaha da alasan untuk membantah. “Betul itu, Kin,kamu harus bergaul. Supaya nanti pas acara kamu jadi ramai,”kata Citra. “Tuh, Bara udah rapi. Kamu ganti baju sana cepetan,”perintah Qiana. “Memangnya boleh?” Kinar menatap Bima. Bima mengangguk.”Iya boleh.” Kinar menarik napas panjang dan kemudian melirik ke arah Bara dengan sebal, pria itu ternyata sudah memiliki tempat di keluarga ini sampai semuanya mendukung. Mau tidak mau Kinar harus menuruti keinginan mereka. Kinar segera bersiap-siap, tentunya 'dimandorin' oleh Qiana dan Diana. Mereka memilihkan pakaian dan make up yang sesuai. Mereka membuat Kinar terlihat berbeda dari biasanya. Kinar disulap menjadi wanita yang terlihat begitu istimewa malam ini. Ia tampak glamour, hal itu membuat Bara berdecak kagum.  Sepanjang acara berlangsung di sebuah hotel ternama di kawasan pusat kota, tatapan Bara tak lepas dari calon isterinya itu. Kinar menyadari tatapan Bara, tapi ia pura-pura tidak tahu saja. “Bara!” Kinar dan Bara menoleh bersamaan. Seorang pria mengenakan kemeja berlengan pendek yang pas ditubuhnya, bewarna pink pastel, memakai dasi kupu-kupu. Penampilan yang aneh di mata Kinar. Bara dan Pria tak dikenal itu berpelukan. Lalu pria berkemeja pink itu tampak berbisik pada Bara. Kemudian pergi begitu saja tanpa menganggap Kinar ada. “Sayang, kamu di sini sebentar ya. Aku ada urusan,”kata Bara. Kinar mengangguk, lalu ia duduk saja menikmati santapannya. Ia menatap kemana arah Bara pergi. Sepuluh menit berlalu, Kinar mulai bosan. Sepertinya mereka juga sudah terlalu lama di sini. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari Bara dan mengajak pria itu pulang. Kinar mengelilingi sudut ruangan itu, tidak ada tanda-tanda Bara ada di dalam sana. Kinar pun keluar, mungkin saja Bara ada di luar. Kinar mendecak sebal. Tiba-tiba ia menangkap bayangan Bara dan pria tadi sedang berjalan di lorong kamar. Kinar berjalan cepat mengejar mereka. Tapi, sepertinya langkah mereka lebih cepat. Kinar mencari-cari jejak mereka. Sampai tiba di sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka. Kinar mengintip dari celah pintu. Ia menyipitkan matanya untuk melihat ke dalamnya. Mata Kinar terbelalak, Bara dan Pria itu berpelukan mesra dan tampak berciuman. Napas Kinar tertahan. Ia menggebrak pintu dengan keras, ternyata di dalam tidak hanya ada mereka berdua. Tetapi ada tiga pria lainnya. Seisi kamar menoleh ke arah Kinar. Mata Kinar merah,mendadak ia sangat benci pada Bara. Jadi, seperti ini kelakuan pria itu sebenarnya. “Hei...” Bara menghampiri Kinar. Kinar tidak bisa berkata apa-apa lagi, mau marah pun rasanya sudah tidak berguna. Ia langsung pergi dari sana dengan langkah lebar. Bara pun menyusul Kinar. “Kinar!” Bara cepat-cepat menghentikan langkah Kinar. “Aku mau pulang!”kata Kinar dengan penekanan. “Iya, pulangnya harus sama aku.” Bara menarik lengan Kinar menuju parkiran. Kinar menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha tenang masuk ke dalam mobil. Ia tidak perlu marah-marah pada Bara, karena akan memberi ruang pada pria itu untuk beralasan. “Udah cepetan jalan!”kata Kinar dingin. “Kamu kenapa? Maaf ya...aku tinggal sebentar. Aku ada urusan sama temen-temenku tadi,”kata Bara merasa bersalah. Kinar tersenyum.”Nggak apa-apa. Aku nggak marah kok. Mungkin kalau kamu adalah pria normal, aku akan marah. Tapi, ternyata semua enggak seperti yang aku pikirkan. Its okelah.” “Apa? Kamu bilang aku enggak normal?” Bara menunjuk dirinya sendiri. “Iya, enggak normal! Tadi pelukan sama cowok itu, apa lagi coba!”kata Kinar. Tadinya sudah menahan supaya tidak marah, ternyata tidak bisa. “Kalau aku enggak normal, kenapa aku harus tegang pas lihat kamu pakai baju seksi begini. Nih!” Bara meraih tangan Kinar dan menempelkan pada miliknya. Kinar melirik, merasakan sesuatu yang begitu keras. Dengan spontan ia menepukkan tangannya di sana. “Apa-apaan sih, Kak!” “Sakit, sayang! berteriak kesakitan sambil memegangi miliknya. “Rasain, ngapain coba melakukan hal enggak berfaedah tadi.” Kinar mendengus. “Kan kamu nuduh aku enggak normal. Ya aku buktiin aja,”ucap Bara sambil meringis, masih kesakitan.”Ini sakit banget tahu!” “Biar tahu rasa, lain kali jangan sembarangan!” Kinar melipat kedua tangannya di dada.”Aku enggak mau punya suami penyuka sesama jenis. Lagi pula itu tegang kan karena kamu ciuman sama pria jadi-jadian itu!!” “Enggak ,sayang. Aku itu suka wanita,”bantah Bara. “Pokoknya kita batalkan aja rencana pernikahan kita. Keluargaku pasti bisa ngerti kok. Tenang aja...aku akan berusaha enggak menjatuhkan kamu.” Mata Kinar merah karena menahan tangisnya. “Ya jangan dong, aku nggak seperti itu, Kinar....” Bara memegangi miliknya, masih kesakitan. Sementara Kinar mulai merasa 'bodo amat'. Yang terpenting sekarang adalah ia sudah tahu siapa Bara. Ia bisa mengatakan pada keluarganya kalau ternyata Bara pecinta sesama jenis, supaya prosesnya cepat. Dengan demikian, tidak akan ada masalah jika pertunangan ini dibatalkan. Kebetulan yang manis sekali, begitu pikir Kinar. Baru saja wanita itu merasakan 'kemenangan',ponselnya berbunyi.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD