Bab 8

1214 Words
 “I...iya,”jawab Kinar dengan perasaan tidak enak. “Jadi, ternyata kamu...adalah satu-satunya alasan Bara masih bertahan di kantor itu.” Ikhsan, Papa Bara menimpali. Kinar tercengang. Masih bingung dengan apa yang sedang terjadi. Ia seperti menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa di sini. Mungkin, ini selayaknya kejadian dimana Bara datang ke rumahnya. Tapi, Bara bisa langsung menyesuaikan diri dengan drama yang dibuat oleh Kinar tanpa mengetahui skenarionya. Sedangkan sekarang, sepertinya Bara memiliki skenario tersendiri, yang tak bisa terikuti oleh Kinar. Bahkan, tidak bisa ia tebak. Asri tertawa.”Kayaknya Kinar enggak tahu apa-apa deh, Pa.” “Iya, Tante...saya bingung.” Mau tidak mau Kinar mengakui kebodohannya kali ini. “Jadi, selama ini Papa nyuruh aku keluar dari kantor itu. Itu kan kantornya orang. Sedangkan kami memiliki usaha sendiri. Tapi, aku enggak mau, maunya di situ aja...supaya ketemu kamu terus.” Bara mengedipkan sebelah matanya. Kinar meneguk salivanya, apa yang dilakukan Bara barusan itu sangat seksi. “Tapi, setelah kalian menikah...kamu bisa kan segera resign dari sana, Bar?”tanya Ikhsan penuh harap. “Iya, Pa,”jawab Bara dengan lembut. “Kinar, kamu suka warna apa?”tanya Asri. Sejak beberapa detik yang lalu,wanita paruh baya itu sibuk dengan ponselnya. “Warna...hmmm warna peach,”jawab Kinar. Ya, ia suka warna peach. Begitu lembut dan menenangkan. Asri mengangguk-angguk. Kemudian ia menunjukkan layar ponselnya.”Kamu suka model yang mana?” Kinar melotot, di sana ada gambar cincin dengan mata berlian.”I...ini?” “Karena waktunya sangat mepet, kamu pilih dari sini saja ya. Nanti ukurannya bisa dikirim juga. Ini ada kok. Ayo silahkan dipilih.” Asri membiarkan ponselnya dipegang oleh Kinar. Tangan Kinar gemetaran, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa menggeser-geser layar sambil meneguk salivanya. Deretan gambar cincin itu begitu menggiurkan. Wanita mana yang tidak suka ditawarkan berlian. Tapi ia bingung menentukan pilihan. Semuanya bagus. “Pilih aja, sayang,atau mau aku pilihkan?”bisik Bara. Kinar menggeleng.”Ini kayaknya mahal-mahal banget.” “Kalau kamu masih bingung, kita pilih warna dan model gaun aja ya.” Asri mengambil ponselnya kembali. Kemudian menunjukkan beberapa gambar gaun pernikahan. Kedua wanita itu tampak sibuk sendiri. Sementara Bara dan Sang Papa pun terlibat pembicaraan masalah pekerjaan sambil menikmati makan siang mereka. Asri dan Kinar sudah mengambil keputusan untuk gaun mana yang akan dikenakan Kinar saat resepsi pernikahan nanti. Begitu juga untuk gaun keluarga. Setelah itu mereka memilih cincin. Kinar tidak sadar bahwa selama itu, Bara memperhatikannya sambil senyum-senyum sendiri. Kinar terus mengatakan bahwa ini cuma main-main. Tapi, pada kenyataannya Wanita itu terlihat antusias membicarakan perihal rencana pernikahannya bersama sang calon Mama mertua. Jam makan siang berakhir. Kinar dan Bara harus kembali ke kantor lagi. Kinar cukup puas dengan acara siang ini. Tentu saja senang, ia baru saja mendapatkan berlian, walau masih diserahkan nanti, saat pernikahannya dengan Bara. “Kayaknya seneng banget,”kata Bara saat mereka sudah di jalan pulang. “Iya dong, habis dibelanjain ini itu sama Mama,”balas Kinar. “Syukurlah kalau begitu.” Bara tertawa dalam hati. Mungkin Kinar sedang tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan barusan, saking bahagianya. Wanita itu menyebut 'Mama'. Mobil terus melaju ke kantor. Kinar pun buru-buru keluar dari mobil dan langsung menuju ruangannya. Bara menggeleng-gelengkan kepalanya, ia biarkan wanita itu masuk terlebih dahulu. “Bara!” Bara menoleh ke sumber suara.”Kenapa?” Asha si pemilik suara mendekati Bara.”Kamu tadi makan di mana? Kok enggak ketemu di tempat biasa?” “Oh iya, tadi pergi ke restonya Mama,”jawab Bara sambil berjalan. “Kok ke sana?” Bara tertawa.”Ya nggak apa-apa kan...Mama yang nyuruh aku bawa Kinar ke sana.” “Tunggu deh!” Asha menghentikan langkah Bara.”Kamu beneran pacaran sama Kinar?” “Iya.” “Sejak kapan?”tanya Asha serius.”Selama ini enggak pernah bawa pasangan.” “Enggak pernah bawa pasangan bukan berarti enggak punya pacar kan? Masalah hubunganku dengan Kinar itu privasi, Sha.” Bara tersenyum, ia mulai tidak nyaman urusan pribadinya diusik. “Bukan settingan?”tanya Asha tak puas. “Asha, kamu harus tahu batas berbicara,”ucap Bara sambil menatap Asha dengan tatapan yang seolah mengatakan 'jangan terlalu mencampuri urusan pribadiku'. Asha mengangguk-angguk dengan kecewa. “Oke!” Bara tersenyum.”Bagus. Aku duluan.” Pria itu berjalan ke ruangannya sambil merogoh kantong celananya. Sementara itu, Dita dan Yuni kini berdiri di hadapan Kinar, meminta penjelasan mengenai hubungannya dengan Bara. “Kok...Kak Bara bilang kalian pacaran? Selama ini kamu sembunyikan dari kita, Kin?”tanya Yuni. “Bukan gitu, aku...”Kinar bingung harus menjelaskan dari mana. Pasalnya ia juga tidak mengerti mengapa semua ini terjadi. “Gini deh, Yun, ya itu haknya Kinar mau cerita apa enggak soal hubungannya dengan Kak Bara....” Dita menengahi. “Iya, tapi...aku kan jadi ngerasa nggak enak, selama ini bilang Kak Bara ganteng, ya kayak memuja Kak Bara banget. Aku malu!” Yuni menutup wajahnya. Kinar meringis, ia semakin bingung harus berkata apa.”Iya udah enggak apa-apa kok. Ini memang semua salahku. Soalnya hubunganku dengan Kak Bara juga enggak jelas...jadi nggak tahu apa yang bisa aku ceritakan sama kalian.” “Jadi, selama ini sebenarnya kalian melakukan pendekatan ya. Cuma Kak Bara itu kadang ada kadang enggak?”tebak Dita. “Ya kira-kira begitulah,”balas Kinar. Sebenarnya ini akan semakin rumit karena ia tidak menceritakan kejadian sebenarnya. Ia hanya belum siap dan tidak mau membuat keadaan semakin rumit. “Iya...iya aku ngerti. Makanya Kinar enggak bilang ke kita juga, Yun, soalnya Kak Bara juga dulu belum ngasih kejelasan hubungan mereka.” Dita berspekulasi sendiri. “Oke...oke.” Yuni mengangguk. “Sorry...aku enggak maksud bohongin kalian, cuma keadaannya begitu.” Kinar merasa tak enak hati. “Ish, nggak apa-apalah, cuma kan kita bisa ikut senang kalau kamu punya pacar, Kin,”kata Yuni. “Iya, mana kemarin galau banget. Kalau tahu begini, kan kita bisa bantu kasih tahu ke Kak Bara kalau kamu udah disuruh nikah.” Dita terkekeh. “Makasih,kalian perhatian banget” Kinar tersenyum haru. Lalu ponselnya berbunyi. Kinar buru-buru mengambil ponselnya. Bara menghubunginya.”Iya kenapa, Kak?” “Enggak, cuma bilang aja...kalau aku ...kangen. bye!” Bara memutuskan sambungan. Kinar menganga dengan mata terbelalak. Dita dan Yuni sampai mengerutkan kening mereka karena heran. “Gila ini orang!” “Siapa yang gila, Kin?” “Kak Bara!” “Hah?!!” Kinar terkekeh.”Bukan apa-apa. Ya udah yuk kerja.” Mereka kembali disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Satu jam berlalu, ponsel Kinar kembali berbunyi. Melihat sederetan nomor yang tertera, ia hanya bisa memutar bola matanya. “Ada apa, Kak?” “Mmmuuuahhh!!” Sambungan langsung terputus. Kinar mematung di tempat, menatap ponselnya dengan bingung. Bara menghubunginya di jam kerja seperti ini hanya untuk menciumnya. Pria itu memang gila, pikirnya. Kinar pun segera menyimpan kontak Bara dengan nama 'Si Gila'. Ia meletakkan ponselnya, dan kembali bekerja. Setengah jam kemudian, Bara menghubunginya lagi. Kinar menempelkan ponsel ke telinga kirinya. Kali ini ia tidak berkata apa-apa. Di seberang sana pun tidak ada suara selama beberapa detik. Kinar mengerutkan kening, dan hampir saja memutuskan sambungan. Tapi, tiba-tiba terdengar suara alunan lagu. “Kucari kamu dalam setiap malam ,dalam bayang masa suram... Kucari kamu dalam setiap ruang, dalam ragu yang membisu...”(Kucari Kamu-Payung Teduh)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD