Bab 7

1196 Words
 Suasana di kantor hening. Tiga dara di ruangan itu sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Lalu ketenangan mereka terusik saat getaran ponsel Kinar berkali-kali terdengar. Kinar menoleh ke layar ponselnya, sebuah nomor tidak dikenal menghubunginya. Wanita itu mengabaikan telepon itu. Ia memang tidak suka mengangkat telepon dari nomor yang tidak ada di kontaknya. Jika ada sesuatu yang penting, pasti orang itu akan mengirimkan pesan, begitu pikirnya. “Kin, hape kamu berisik banget sih, diangkat dong!”kata Dita. Kinar menggeleng.”Nggak tahu siapa, takutnya ntar orang iseng lagi.” “Kali aja penting, Kin,”kata Yuni. “Oke deh, nanti kalau nelpon lagi,”balas Kinar sambil meneruskan pekerjaannya. Suasana menjadi hening lagi, sebab mereka kembali fokus. “Sayang, ayo makan siang!” Tiba-tiba Bara muncul di balik pintu. Kinar, Yuni, dan Dita menoleh ke arah pintu bersamaan. Kemudian suasana hening dan mereka bertukar pandang, siapa yang dimaksud Bara? Bara masuk dan menghampiri Kinar.”Kamu ini udah jam makan siang kok belum keluar juga sih. Aku nungguin. Tadi aku telpon-telpon enggak diangkat.” “Jadi, itu kakak?” Kinar tercengang. Dita dan Yuni menganga. Mereka melayangkan tatapan meminta penjelasan pada Kinar. Kinar hanya bisa tersenyum. “Iya. Makanya disimpan ya nomornya. Mas anomor pacar sendiri nggak disimpan sih.” Bara mengusap puncak kepala Kinar. “I-Iya.” Kinar melongo, begitu juga dengan Dita dan Yuni. “Ayo, sayang..udah jam makan siang,”ajak Bara tak sabar. “Kak,kenapa enggak makan aja sama yang lainnya,”kata Kinar pada Bara. “Enggaklah, sekarang aku maunya makan sama pacar aku.” Bara tersenyum sambil melayangkan tatapan mesranya pada Kinar. “Kalian pacaran?”tanya Dita. “Hmmm...kita itu...” Kinar kebingungan. “Iya. Kita pacaran. Jadi, hari ini Kinar makan siang sama saya dulu ya,”kata Bara pada Yuni dan Dita. “Iya, Kak.” Dita dan Yuni mengangguk bersamaan. Kinar buru-buru bangkit karena Bara menarik lengannya. Kini pria itu memeluk pundaknya dan membawa keluar. “Kak, dilihatin orang,”bisik Kinar sambil menunduk. “Mereka punya mata, ya tentulah ngelihatin.” Bara terus berjalan sambil mengeratkan pelukan di pundak Kinar. “Tapi, kan...enggak enak, kak. Ini wilayah kantor.” “Sesekali enggak apa-apa,”balas Bara santai. Sementara itu, Hardi, Gian,dan Asha tampak berdiri di dekat resepsionis. Mereka semua mematung saat melihat Bara datang bersama wanita. Ini menjadi pemandangan yang tak biasa sebab Bara memang tidak pernah bersama wanita mana pun di kantor ini kecuali Asha. “Ngapain kamu bawa dia?”tanya Asha dengan nada jutek. Bara menatap ke arah Kinar, tatapannya berbinar,”Aku makan siang sama dia.” “Aku enggak mau ada orang lain ya.” Asha masih saja angkuh dan posesif seperti kemarin. “Kami mau makan berdua aja. Kalian...ya pergi aja.” “Oh...oke-oke! Sukses bro!” Gian mengacungkan jempolnya dan berjalan keluar. “Kamu nggak ikut sama kita?” Asha seperti tidak percaya. “Iya. Aku mau makan sama pacarku.” “Pacar?” Langkah Gian dan Hardi terhenti, mereka berbalik arah.”Wah, tiba-tiba udah punya pacar aja.” “Yoi! Ya udah kita duluan ya,”kata Bara. Kinar melemparkan senyuman pada semua yang ada di sana. Namun, hanya Gian dan Hardi yang membalas. Asha terlihat tidak suka. “Nggak usah gitu!” Gian menyenggol lengan Asha. “Ya masa gara-gara cewek dia enggak ikutan makan siang sama kita,”protes Asha. “Kan nggak ada keharusan juga Bara harus makan siang sama kita. Santai aja kali....” Hardi memeluk pundak Asha dan membawa wanita itu keluar dari kantor. “Bara lagi mainin drama apa sih!”kata Asha setelah mereka di dalam mobil. Hardi tertawa.”Kau ini kenapa eh? Sewot banget.” “Dia enggak rela,bro, kalau Bara udah punya pacar,”sahut Gian. “Sha,Sha...terima dong. Nanti kamu juga bakalan punya pacar. Kau harus ikhlas. Tapi, kau ini tetap teman kami kok,”kata Hardi menghibur. “Atau...kaunya suka sama Bara ya?”tebak Gian. “Bukan gitu, kan selama ini Bara enggak pernah bilang kalau dia punya pacar. Terus sekarang...tiba-tiba aja gitu ada pasangannya. Jangan-jangan dia cuma bercanda.” “Kalau pun dia punya, nggak mesti diumumkan juga kan, Sha. Itu privasi dia loh.” Gian memperingatkan. “Berarti kita enggak dianggap temen,”balas Asha. “Aku enggak merasa seperti itu. Pertemanan kita masih baik-baik saja. Kau merasa begitu karena memang kau itu enggak rela aja,”balas Gian. “Ah, tahu ah!” Asha terlihat kesal. Tidak ada gunanya memperdebatkan hal seperti ini dengan lelaki. Mereka akan tetap tidak berpihak. Tapi, sayangnya ia juga tidak punya teman wanita. “Kita mau makan dimana?”tanya Bara pada Kinar yang sedari tadi hanya diam. Sekarang mobil yang mereka tumpangi sudah melaju di jalan. “Terserah, kakak.” Kinar sedang tidak mood. “Aku nggak tahu dimana restoran atau tempat makan terserah, sayang...” “Kak, jangan panggil sayang,”protes Kinar. “Kenapa enggak boleh?”tanya Bara. Kinar membuang pandangannya ke arah luar jendela.”Karena...kayaknya hubungan kita enggak bener deh, soalnya ...aku mengawalinya dengan kebohongan. Aku enggak bener-bener aja Kakak menikah.” Raut wajah Bara sedikit berubah.”Nggak bisa diputusin gitu aja dong, ah...pokoknya sudah teruskan saja semua ini. Aku seneng-seneng aja kok.” “Masa sih? Kok bisa?” Bara tersenyum misterius. Kinar jadi curiga, jangan-jangan Bara ada maksud lain.”Aku sudah menyetujui semua persyaratan dari kakak kamu. Kalau aku main-main, nggak mungkin aku mengeluarkan banyak untuk biaya resepsi pernikahan kita sesuai dengan keinginan Mama kamu...” “Tapi, kita cuma sekedar tahu nama aja, kak, selama ini. Aku tuh...sebenarnya merasa enggak enak.”Kinar jadi serba salah.”Kakak seharusnya bisa menolak untuk mengeluarkan sejumlah uang untuk biaya pernikahan.” “Itu kan memang kewajiban aku sebagai calon mempelai pria. Lagi pula, kenapa kamu mempersulit diri sendiri? Kamu sudah menemukan pasangan, kamu enggak akan ditekan oleh keluarga kamu. Aku juga setuju dengan hubungan ini. Aku sudah lamar kamu. Kenapa kamu masih berpikir ini akan menjadi sesuatu yang buruk?” “Aku takut...” “Kamu bisa cek profile aku di google kan? Siapa aku, semua ada di sana,”kata Bara yang kemudian mengarahkan mobilnya ke sebuah tempat makan.”Yuk turun, Mama sama Papa udah nunggu.” “Apa? Mama siapa?” Kinar buru-buru turun dan mengejar Bara yang sudah keluar duluan.”Nggak romantis banget main duluan aja.” Wanita itu mengomel dalam hati. Bara menghampiri meja yang sudah dihuni oleh sepasang suami isteri. Mereka adalah orangtua Bara. Langkah Kinar melambat saat sampai di meja itu. “Ma, Pa, ini...pacar Bara, yang nanti...bakalan kita lamar pas weekend.” Bara memperkenalkan Kinar. Kinar mencium tangan mereka sembari tersenyum ramah. “Akhirnya...kalian menunjukkan diri,”ucap Asri, Mama Bara. “Menunjukkan diri?”ucap Kinar tanpa sadar. “Selama ini...kalian pacaran diam-diam kan? Maksudnya...tidak pernah menunjukkan hubungan kalian di depan kami. Padahal...Mama sama Papa enggak apa-apa loh.” Kinar menatap Bara bingung, sebenarnya apa yang sudah Bara katakan pada kedua orangtuanya? Bara mengusap punggung tangan sang Mama.”Iya, Ma. Maaf...sekarang kita kan sudah terbuka. Maksudnya kemarin kan kita belum ada niatan menikah. Makanya kita tertutup. Nah, sekarang kita sudah siap. Iya kan, Sayang?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD