Bab 13

1170 Words
“Iya, pasti, Ma. Tapi, berhubung Mamanya Kinar masih sakit, mungkin kita tunda dulu ke rumah,”kata Bara. Kinar mengembuskan napas lega. Setidaknya untuk beberapa hari ke depan ia merasa aman. “Ya udah, tapi...Mama siapkan kamar kalian ya. Mama mau ubah supaya Kinar nyaman di sana.” Kinar tersenyum.”Iya, Ma. Terima kasih...” “Ya sudah, Mama mau nemuin kakak kamu dulu.” Asri pamit. Kini tinggallah Bara dan Kinar berhadapan. Mereka saling diam, bertatapan. Kinar meneguk salivanya. “Ke...kenapa?” Bara menggeleng.”Kamu sudah makan?” Kinar menggeleng. “Yuk makan dulu...” Kinar mengangguk dan hanya bisa tersenyu malu saat Bara menggenggam tangannya. Malam sudah tiba, Kinar dan Bara masih di rumah sakit bersama sanghota keluarga yang lain. Orangtua dan keluarga Bara sudah kembali sejak sore tadi. “Kalian enggak berniat istirahat gitu?”Leon menatap Bara dan Kinar. Kinar dan Bara bertatapan.”Maksudnya?” “Muka kamu masih penuh make up, kamu juga, Bar,masih pakai celana buat akad tadi. Kalian juga capek kan?”tanya Leon. “Iya, kak,”jawab Kinar lesu. “Ya udah kamu pulang ke rumahnya Bara,”perintah Leon. “Nggak!”kata Kinar spontan. “Kenapa nggak?” Tiba-tiba Bima datang. Kinar spontan menutup mulutnya. “Maksud Kinar ...kita enggak ke rumah, Kak. Melainkan hotel yang di ujung jalan sana. Biar deket,”sahut Bara. Kinar melirik sebal,Bara menjadikan kelemahannya sebagai keuntungan untuk dirinya sendiri. “Ya udah, kalian langsung berangkat aja. Biar soal Mama...kita yang urus.” Bima menatap Kinar tajam. Kinar mengangguk pasrah kalau Bima yang bicara. Lagi pula, ini adalah sandiwara yang ia buat sendiri. Mau tidak mau, ia harus melaksanakan semuanya. Masalah bagaimana hubungannya dengan Bara ke depan nanti, itu urusan belakangan. Ia bisa bernegosiasi dengan pria itu saat di hotel nanti. Setelah berpamitan, mereka segera menuju hotel. “Pesan dua kamar,ya, Kak,”pinta Kinar saat mereka sampai di resepsionis. Bara menatap Kinar dengan tatapan mengejek.”Mana ada pengantin baru tidur di kamar terpisah.” “Ya udah, aku pesan sendiri,”kata Kinar kesal. “Bayarnya pakai apa?”ejek Bara. Dalam hati, ia menertawakan isterinya itu. Ia sengaja tidak mengingatkan sang Isteri perihal dompet dan tasnya. Dengan begitu, malam ini tidak akan ada gangguan. Jika memang ada keperluan sangat penting, pihak keluarga pasti akan menghubunginya. “Oke, fine. Kamu menang!” Kinar mengembuskan napas dengan kasar. Ia cukup membodohi dirinya sendiri sebab melupakan benda yang selama ini tak pernah ia lupakan saat pergi ke mana pun juga. “Ayo, isteriku,”ajak Bara dengan wajah yang dibuat semanis mungkin. Kinar memutar bola matanya, kemudian ikut kemana pun Bara melangkah. Mereka tiba di kamar, Bara langsung mandi karena ia sudah merasa tubuhnya lengket. Sementara Kinar menatap dirinya di depan cermin. Wajahnya berminyak, rambutnya sudah tak beraturan. Wanita itu mengembuskan napas berat. Kemudian ia pergi ke tepi jendela. Dibukanya tirai lebar-lebar. Dari situ, ia bisa memandang rumah sakit dimana Mamanya dirawat. Sebenarnya ia tidak ingin pergi dari sana, tapi sayangnya Bima mengharuskan ia ikut dengan Bara. Ia sekarang sudah menjadi isteri, harus menurut pada suami,begitu katanya. Kinar tersenyum kecut, ia tidak tahu apakah pernikahan ini adalah jalan yang benar sebab ia melakukan ini hanya untuk membuat sang Mama sembuh. Ia juga masih belum tahu bagaimana perasaan Bara sebenarnya. Bisa saja pria itu tidak mencintainya. Ya tentu saja, bagaimana bisa perbincangan mereka yang mendadak bisa membuat mereka jatuh cinta seketika. “Mikirin apa?”bisik Bara tepat di telinga Kinar. Kinar tersentak, ia langsung membalikkan badannya dan melangkah mundur. Aroma sabun dari tubuh Bara begitu jelas, ia yang bau menjadi tidak percaya diri berada di dekat Bara. Kinar menatap Bara dengan rambutnya yang basah, tak lupa bulir-bulir air yang masih menempel di tubuh kerempeng Bara. Sebenarnya itu terlihat seksi. “Kamu bau, mandi sana!”kata Bara. Kinar langsung memanyunkan bibirnya, ia melesat ke kamar mandi dengan cepat. Ternyata Kinar membutuhkan waktu yang begitu lama untuk mandi saja. Pintu kamar mandi terbuka, Bara yang sudah berbaring di tempat tidur menoleh. Pria itu tersenyum sambil memiringkan tubuhnya.”Kamu habis cuci baju ya di dalam?” Kinar menggeleng bingung.”Enggak kok.” “Terus...kok lama banget?” “Ya lama bersihin make up-nya,”kata Kinar berbohong. Padahal ia sengaja menghabiskan waktu di dalam sana. “Oh ya udah, sini tidur,”kata Bara. “Kenapa kamu masih pakai handuk?” Mata Kinar melirik ke arah bagian bawah Bara. Secara tidak sengaja ia menangkap bayangan benda yang terjiplak di handuk itu. “Lupa bawa pakaian tadi,”jawabnya santai. “Aku juga. Coba telponin kak Leon minta tolong bawakan pakaian aku ke sini,”kata Kinar sambil mendekat. Bara menyodorkan ponselnya. Kinar semakin berjalan mendekat untuk meraih ponselnya. Tapi, ternyata Bara mempermainkannya. Ia menyembunyikan ponselnya. “Ih, kenapa?” Bara menarik tangan Kinar hingga wanita itu jatuh ke dalam pelukannya.”Sebab kita enggak perlu pakaian. Ini malam pertama kita kan?” “Terus?” Kinar pura-pura tidak mengerti saja. “Ya ...kamu harus layani aku sebagai suami,”kata Bara dengan gamblang. “Besok aja.” Kinar berusaha bangkit. Bara mengeratkan pelukannya hingga Kinar tidak bisa bergerak. Mata mereka beradu. Kinar sungguh tidak bisa memalingkan pandangannya dari mata Bara. Lalu perlahan ia merasakan bibir mereka saling bersentuhan. “Aku sayang kamu, Kin,”bisik Bara. Jantung Kinar berdegup kencang. Perlahan pelukan Bara mengendur. Kinar menatap manik cokelat tua Bara, menyelaminya begitu dalam. Ucapan suaminya itu terdengar tulus. “Bagaimana kakak bisa mencintaiku dalam satu hari?” Suara Kinar bergetar. “Tidak satu hari, Kinar...” Bara merapikan rambut Kinar yang mulai mengering. “Lalu?” “Sudah lama...” Tubuh Kinar membatu.”Sudah lama?” Bara mengangguk.”Ya. Sangat lama...tapi, aku enggak berani bilang.” “Kenapa?” Bara memeluk tubuh Kinar.”Kapan-kapan aja aku ceritakan. Bukan saatnya, Kinar...” Kinar tersenyum tipis.”Oke.” “So...boleh kah?”tanya Bara dengan sangat hati-hati. “Apa itu?” “Kita...melakukan itu?” Kinar tidak menjawab, ia membalas pelukan Bara. Rasanya begitu tenang. Bara melepaskan pelukannya, ditatapnya Kinar lekat-lekat. Dengan perlahan ia mencium bibir Kinar. Kinar merasakan sekujur tubuhnya seperti disengat aliran listrik. Ia tidak pernah bersentuhan dengan pria mana pun. Ini adalah untuk pertama kalinya. Tubuh Kinar melemah, ia mulai pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Bara padanya. Lagi pula ia tidak perlu khawatir sebab Bara adalah suaminya. Bara membaringkan tubuh Kinar dan membuka handuk kimono sang isteri. Kinar tampak menahan napas saat seluruh tubuhnya ditatap oleh sang suami.  “Kamu pernah melakukan ini?” Kinar menggeleng dengan wajahnya yang merona. “Good.” Bara mengecup bibir Kinar sekilas. Kemudian tangannya bergerak menyentuh milik sang isteri. Sepertinya Kinar sudah siap untuk ini dan mereka pun melewati malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri. **   Suasana kamar pengantin baru begitu hening. Pakaian mereka bertebaran di lantai. Dua insan manusia yang semalam b******a sedang terbaring di balik selimut. Wajah mereka terlihat sangat lelah sekaligus bahagia. Sprei dan selimut terlihat sedikit kusut sebagai tanda betapa indahnya malam mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD