Bab 14

1137 Words
 Ponsel Bara di atas nakas berbunyi berkali-kali. Pria itu mengerjapkan matanya, kemudian melihat layar ponsel, sekilas ia melihat jam menunjukkan pukul empat pagi. Ia segera menggeser layar ponsel untuk menerima panggilan. Pria tua terdiam beberapa saat, kemudian ia menarik napas dalam-dalam, berusaha tenang. “Baiklah, saya segera ke sana, Kak,”ucapnya dengan nada sedih. Ia segera memutuskan sambungan. Bara bergegas mandi. Setelah itu, ia segera membangunkan Kinar. “Kin, bangun yuk,”panggilnya lembut. Diusap-usapnya punggung sang isteri. Kinar menggumam, kemudian terlihat tidur kembali. Bara kembali membangunkan Kinar.”Kinar....” Kinar menyipitkan matanya, menoleh ke sekeliling. Beberapa detik kemudian ia baru sadar bahwa ia sudah menjadi isteri orang. Bahkan semalam ia baru saja melakukan malam pertama dengan sang suami.”Jam berapa ini, Kak? Kinar masih ngantuk.” Kinar memejamkan matanya lagi. Bara menatap sang isteri dengan sabar. Sedang ada kejadian yang begitu gawat dan tentunya sangat penting untuk Kinar, tapi ia harus membuat keadaan tetap tenang.”Jam empat pagi, mandi yuk. Kita pergi...” “Kemana? Nanti aja, Kak...kok pagi banget,”kata Kinar dengan nada malas. “Mandi pagi itu sehat loh, lagi pula...kita kan habis malam pertama, harus mandi supaya bersih kan? Ayo....” Bara menarik Kinar. Kinar melangkah dengan malas. Mau tidak mau ia harus mandi sepagi ini. Ia segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin, sebab ia kurang suka mandi dengan air hangat.  Wanita itu keluar dari kamar mandi sambil mengigit kedinginan. Bara buru-buru menghampiri dan membantu mengeringkan wajah serta rambut Kinar dengan handuk yang ia pakai tadi. “Aku enggak punya pakaian,Kak,”kata Kinar. Sementara itu gigi atas dan bawahnya saling beradu. Bara mengecup kening Kinar.”Sudah aku siapkan. Cepat pakai ya. Kita ke rumah sakit sekarang.” Tubuh Kinar membatu seketika, ia menatap Bara dengan serius.”Ada apa sama Mama?” “Kamu pakai baju dulu ya, sayang. Yang penting kita ke sana sekarang,”kata Bara. Kinar memakai bajunya dengan cepat. Menyisir rambut seadanya. Di perjalanan ia sungguh khawatir, tidak berani menerka-nerka apa yang sedang terjadi saat ini. Sepertinya sangat gawat sampai-sampai Bara tidak memberi tahunya. Sesampai di rumah sakit, Kinar berlari sekencang-kencangnya, tidak peduli Hara memanggilnya. Bara berusaha tidak membuat keadaan semakin mencekam, namun sepertinya Kinar memang memiliki firasat tersendiri. Wanita itu sepertinya sudah merasakan sedang terjadi sesuatu yang tidak baik dengan sang Mama. “Mama!” Kinar histeris saat melihat semua anggota keluarga ada di dalam ruangan sedang menangis. Mata Kinar membulat, menatap sang Mama yang kini sudah terbujur kaku. “Mama...?” Kinar menatap Bima, meminta penjelasan. Bima memeluk Kinar dengan erat. Lalu, pria itu terisak,”Mama meninggal, Kin.” Kinar menggeleng.”Mama...Mama....” Kemudian tangisnya pecah. Pagi itu, rumah sakit masih begitu hening. Tetapi tidak dengan ruang rawat itu,dipenuhi dengan tangisan kesedihan. Mereka kehilangan orangtua mereka yang tersisa. Sang Mama sudah pergi untuk selama-lamanya. Kinar seakan tidak percaya, seolah ia baru saja di ujung jurang. Andai ia tidak menikah dengan Bara kemarin, dan...hari ini Mamanya meninggal,tentu hal itu akan menjadi penyesalannya seumur hidup. Kinar menangis pilu, ia pikir setelah ini Mama akan baik-baik saja. Di depan pusara sang Ibu, Kinar bersimpuh, menangis dan terus menangis. Bara menghampiri dan memeluk Kinar. “Sayang, ini sudah sore...mau hujan juga. Kita pulang ya?”kata Bara sembari mengusap-usap lengan Kinar. Kinar menggeleng.”Mama, Kak...” “Iya, iya...besok kita ke sini lagi lihat Mama ya?” Kinar menatap Bara, matanya bengkak akibat menangis sejak subuh tadi.”Aku tinggal dimana habis ini, Kak? Di rumah sudah enggak ada Mama.” “Hei...” Bara mengusap puncak kepala Kinar.”Aku ini suami kamu kan? Tentunya kamu ikut aku. Tapi, untuk tiga hari ini...kamu boleh tinggal di rumah Mama dulu kok,hangan khawatir ya.” Kinar mengangguk, kemudian ia mengikuti Bara yang kini menggenggam tangannya meninggalkan pemakaman. Mobil yang mereka tumpangi melaju, kembali ke rumah.   **   Tiga hari berlalu, Kakak-kakak Kinar kembali ke rumah mereka masing-masing. Hal itu membuat Kinar semakin sedih, ia merasa tidak memiliki siapa-siapa lagi. Tapi, bagaimana pun situasi ini pasti akan terjadi. Cepat atau lambat semua akan dilewati. Ia harus benar-benar sadar, bahwa hidup terus berputar. Kinar membuang pandangannya ke luar jendela. Hari ini, ia sudah pindah ke rumah Bara. Rumah keluarga suaminya itu sangat besar. Sepertinya mereka memang berasal dari keluarga berada. Karena ia memang tidak begitu mengenal Bara, tentu Kinar tidak tahu menahu seberapa kekayaan keluarga Bara. Bara dan Kinar tinggal di rumah utama bersama kedua orangtua Bara. Lagi pula kedua orangtua Bara jarang sekali di rumah. Mereka menghabiskan waktu untuk melakukan perjalanan bisnis dan juga liburan. Oleh sebab itu, segala tanggung jawab di rumah ini diserahkan pada Bara dan Kinar. “Kin...” Bara baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah. Kinar melirik, kemudian kembali membuang pandangannya.”Kenapa, Kak?” “Besok Aku mulai kerja,”kata Bara. Kinar pun berjalan menghampiri Bara.”Aku juga....” Bara menatap Kinar dengan lembut.”Kamu masih mau kerja?” Kinar mengangguk.”Iya. Boleh kan?” Bara mengangkat kedua bahunya.”Sebenarnya tidak boleh.” Kinar memanyunkan bibirnya.”Kenapa enggak boleh? Aku cuma mau kerja.” “Nanti kamu capek. Biar aku aja yang kerja ya,”kata Bara sambil memakai kaus hitamnya. “Aku masih mau kerja. Aku nggak tahu harus ngapain di rumah,”kata Kinar dengan sedikit memaksa. “Oke, besok kita pergi bareng-bareng ya. Udah jangan nangis!” Bara mengusap-usap kepala Kinar. “Siapa yang nangis?” Kinar melotot. “Anak kucing tetangga.” Bara naik ke atas tempat tidur dan kemudian berbaring. “Mau tidur?” Bara mengangguk.”Iya...yuk sini.” “Ngapain?” “Ya tidur, kamu pikir apa?”tatap Bara menggoda. Kinar mendengus.”Apa sih, aku tidur di karpet aja.” Kinar meraih bantal dan meletakkannya di atas karpet di lantai. “Yakin mau tidur di karpet? Kamu enggak tahu betapa empuknya kasur ratusan jutaku ini,”kata Bara. “Kenapa harganya bisa ratusan juta? Dibeliin kerupuk dapat berapa truk itu?”tanya Kinar berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tahu kemana arah pembicaraan Bara sebelumnya. “Ya dapat sepabriknya lah, sayang. Sini ah...” Bara turun dari tempat tidur dan membopong paksa Kinar, memindahkan ke atas tempat tidur.”Kamu tuh jangan begini. Kalau ada apa-apa kan aku jadi enggak enak sama Kakak kamu. Nanti mereka pikir kamu enggak bahagia nikah sama aku.” “Bukannya memang enggak bahagia ya?”tanya Kinar serak. Bara menatap Kinar dengan serius.”Aku bahagia nikah sama kamu, Kin. Hmmm...banyak hal yang memang belum kuceritakan. Meskipun kamu yang melamar aku...tapi, percayalah bahwa...jauh sebelum itu aku sudah ingin melamarmu.” Kinar menatap Bara dengan takjub.”Benarkah?” Bara memainkan kedua alisnya.”Iya.”Ia menyelimuti Kinar, lalu ia ikut berbaring di sebelahnya. “Besok...gimana kalau temen-temen nanya ya?” Mata Kinar menatap langit-langit kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD