Dol..gimana kondisi kamu? Udah sehat?” tanya Ibu Anisa ke Dodol.
Saat itu Ibu Anisa sedang mengetik di meja kerjanya dan Dodol sedang merapihkan dokumen yang ada di rak dokumen tempat Dokumentasi Bagian HRD.
“Iya Bu, saya sudah merasa sehat hari ini..” ujar Dodol.
“Kalau kamu udah sehat…mau engga nanti pulang dari kantor, kita makan di Soto Babat Bang Mamat yuk…udah lama ga makan disitu ..Dol..” seru Ibu Anisa sambil mengerjakan ketikannya dan melihat ke arah Dodol.
Dodol membalikkan badannya dan memandang pula ke arah Ibu Anisa. Mereka berdua saling berpandangan penuh arti.
Biasanya kalau sudah dilihat seperti ini, Dodol pasti akan langsung tersenyum dan menghampirinya. Pikir Ibu Anisa sambil tersenyum. Dia juga sudah menayangkan wajah tersenyum yang semanis-manisnya yang bisa dibuat, pasti Dodol langsung kesengsem, tetapi…….Dodol sekarang malah berpaling dan melanjutkan kembali pekerjaannya merapihkan file. Sekarang giliran Ibu Anisa yang bengong. Kok aneh ya. Dodol tidak keliatan tertarik kepadanya.
“Oh …makan di Soto ya Bu, aduh..maaf kebetulan hari ini saya ada yang harus dikerjakan untuk tugas sekolah..besok-besok aja ya Bu..” kata Dodol sambil melanjutkan pekerjaannya.
Terkejut Ibu Anisa mendengar ini. dia ditolak ajakannya oleh Dodol. Seumur-umur dia adalah si wanita cantik yang selalu dituruti oleh semua pria mana pun, yang selalu berusaha memenuhi keinginannya. Apalagi cuma seorang pria seperti Dodol. Seorang anak kecil yang dangkal. Tetapi memang aneh tapi nyata. Kenyataannya dia ditolak ajakannya oleh seorang pria tidak berarti seperti Dodol.
Dengan muka yang berubah menjadi merah dan bibir langsung cemberut, Ibu Anisa menjawab singkat saja, “ Oke.”
Selama 2 jam di ruangan itu, Dodol dan Ibu Anisa hanya berbicara sedikit-sedikit saja. Entah kenapa, saat Dodol melihat Ibu Anisa, setelah 2 hari dia tidak melihatnya, wajah Ibu Anisa seperti tidak biasanya yang dia lihat.
Wajah itu begitu terlihat tebal make upnya. Terkesan sangat menor. Lipsticknya bertebaran di bibirnya secara tidak beraturan. Matanya terlalu lebar. Wajah yang terlihat seperti badut, yang kesemuanya berlebihan. Kempot di kedua pipinya juga terlihat, walaupun sudah di make up dengan bedak yang terlihat terlalu tebal.
Melihat wajah ini, Dodol menjadi hilang keinginannya untuk dekat dengan Ibu Anisa.
____________________________________________________________________________
Tidak terasa jam 5 sore. Seluruh karyawan sudah merapihkan meja kerjanya masing-masing. Dodol dan Budi Bala-Bala sudah mengerjakan tugasnya hari itu, dan bersiap-siap meninggalkan kantor pula.
Mereka berdua langsung masuk lift bersamaan dengan karyawan lainnya, dan lift pun turun. Lift berhenti di lantai 2, tempat bagian Divisi Keuangan. Terbukalah pintu itu, dan Dodol mendadak bengong melihat pemandangan dari pintu lift.
Terlihat olehnya seorang wanita yang masih sangat muda dan berperawakan sedang saja memasuki lift. Wajahnya cantik sekali, dengan raut yang seperti pualam dipahat. Kulit sangat putih dan halus, tidak ada make up yang menor. Seperti tidak ada make up sama sekali. Bibirnya tipis dengan lipstick yang sedikit tetapi sangat sesuai porsinya. Pipnya terlihat berwarna kemerahan segar. Matanya melihat ke arahnya dengan pandangan lembut dan simpatik.
Dodol belum pernah melihat wanita ini sebelumnya. Anehnya beberapa pria yang ada di lift itu, begitu melihat wanita ini, langsung buru-buru menjauh menjaga jarak dan memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada wanita ini untuk masuk ke dalam lift.
Wanita itu tersenyum kepada Dodol dan Budi. Dodol pun membalas dengan senyuman, dan Budi Bala-Bala menyapa dengan halus kepada wanita itu, “Sore Bu Rika. Bagaimana kabarnya?”
Wanita itu yang ternyata bernama Rika menjawab dengan halus,” Sore Mas Budi. Baik sehat.”
Kemudian lift itu turun dan akhirnya tiba di ruang lobi. Orang-orang yang berada di lift segera berjalan keluar dari lift dan wanita yang bernama Rika itu pamit kepada Budi Bala-Bala dan Dodol, “Duluan ya”
Budi langsung menjawab,” baik Bu. Hati-hati di jalan.”
Wanita itu langsung berjalan dengan cepat meninggalkan mereka dan nampak semua orang terutama yang pria langsung menyingkir jika melihat wanita ini lewat. Nampak satpam yang menjaga di pintu depan lobi, langsung tersenyum ramah dengan wanita ini, dan wanita itu pun langsung menghilang dibalik kerumunan orang yang berlalu lalang diluar lobi kantor.
“Bud, tadi elo kenal sama cewe yang barusan?” yang dari divisi keuangan?” tanya Dodol penasaran.
“Ya kenal lah. Kan gue gaul sama semua orang di kantor..” lanjut Budi menjawab bangga.
“yah..tolong kenalin gue dong Bud…cakep tuh cewe …baik lagi ramah, ga belagu..” kata Dodol.
Budi Bala-Bala berhenti melangkah, dan memandang kepada Dodol. Matanya penuh selidik.
“Elo mau kenal sama Rika? Ga salah Dol…?!” dengan bingung Budi berkata.
“Rika orangnya kayak gitu..gendut, muka lebar….sekarang elo kayaknya udah ga bisa lihat ya?” sambung Budi.
“Engga ah, ga gendut segitu sih..sesuai kok antara muka dengan badannya….bukan muka lebar seperti yang elo bilang…” Dodol berkata dengan penuh nada protes. Dia tidak habis pikir. Kenapa wanita yang menurut matanya sangat cantik seperti Rika, dibilang gendut dan muka lebar oleh sahabatnya ini. Jangan-jangan si Budi yang tidak mau kasih kenalan ke dia, gara-gara dia juga suka dengan Rika.
Dodol langsung saja menyambung perkataannya,”atau elo jangan-jangan tertarik juga sama dia…terus engga mau ngenalin ke gue..takut saingan sama gue ya…hehehe…santai aja Bud…bersaing kalau sehat sih sah-sah aja kaliii….” Dodol berkata sambil tertawa.
Dia maklum saja kalau sahabatnya ini suka juga dengan Rika. Siapa sih yang engga suka dengan wanita yang seperti itu penampilannya? Semua cowok pasti suka kalau normal..hehehe. Pikirnya.
“Eiitttt….jangan salah sangka bro….gue sih engga tertarik sama dia…memang sih orangnya baik banget Dol….ramah dan ga belagu…tidak seperti kebanyakan orang, tetapi kalau dibilang tertarik dan naksir…hihihi..engga deh…hihihih…hahahaha…” jawaban si Budi ini malah mengagetkan Dodol.
Mereka berdua sudah berada di parkiran kendaraan dan sekarang mereka melanjutkan pembicaraan di kendaraan yang sudah melaju meninggalkan kantor itu.
“Elo engga tertarik sama Rika? Bagusss….kalau gitu gue jadi lebih gampang..ya udah elo kasih kenalan sama gue yak…” kata Dodol.
“Tapi elo jangan main-mainin dia yak…walaupun penampilannya seperti itu…tapi orangnya baik, bro. Elo jangan sampe nyakitin perasaannya. Kalau cewek lain yang ga sebaik dia…terserah elo deh…tapi yang satu ini…jangan ya…” kata Budi menjadi serius banget.
“Enggaklah…gue kan mau mencari banyak temen aja bro…seperti yang elo bilang..dia kan orangnya baik banget…jadi gue mau kenal sama doi bro…please..please kenalin yak…besok..hihihi..” akhirnya Dodol mencoba merayu Budi supaya Budi mau ngenalin dia ke Rika.
Budi Bala-Bala berpikir. Nih orang sejak kecelakaan kayaknya mengalami sedikit trauma. Tapi pasti ga akan lama traumanya. Biarin aja deh si Dodol ini kenalan sama Rika. Paling juga Dodol 1-2 hari lagi juga langsung bosan. Dia sudah sangat mengenal karakter sahabatnya ini yang sangat lemah jika bertemu dengan wanita yang cantik. Dengan Rika yang mukanya lebar dan badannya gemuk gitu, ga akan lama ini orang bisa bertahan. Apalagi juga Rika. Pasti Rika juga tidak akan menyukai orang kayak Dodol yang karakternya dangkal, pasti juga si Rika akhirnya bakal ga peduli juga sama Dodol. Gue kenalin aja deh nih si Dodol sama Rika. Paling juga ga lama juga bubar modar….pikir Budi.
“Okehhh…besok gue kenalin…tenang aja…” sahut Budi akhirnya.
“Nah gitu donk…gue traktir Bala-Bala satu piring deh yang deket rumah gue…biar hepi elo…ini baru temen sejati namanya…” dengan tertawa-tawa girang Dodol langsung mengebut kendaraannya biar sampai dengan cepat ke rumahnya.
Demikianlah, akhirnya besok Budi Bala-Bala langsung dengan sengaja menunggu di depan ruangan lantai 2 Bagian Keuangan. Dodol mengatur posisinya dekat ruangan toilet lantai 2, sengaja bersembunyi biar tidak terlihat dari pintu ruangan Bagian Keuangan. Dodol mengamati sahabatnya dari jauh. Saat itu jam 1 lewat. Mereka sengaja datang lebih awal biar bisa atur strategi bertemu dengan Rika setelah waktu makan siang.
Pintu lift terbuka, dan benar saja..Rika dan 2 orang temannya berjalan keluar dari lift itu menuju ke arah pintu ruangan Bagian Keuangan.
Dengan tersenyum selebar-lebarnya, Budi Bala-Bala langsung mencegat 3 orang itu dan langsung menyapa Rika dengan ramah, “ maaf Bu Rika…saya mau ada pertanyaan mengenai satu dokumen di Bagian HRD..kata Bu Anisa tolong ditanyakan ke ibu katanya…” Budi Bala-Bala segera bermodus ria dengan narasi yang sudah dipersiapkan olehnya dengan Dodol semalam.
Benar saja. Rika langsung berhenti dan berkata kepada kedua temannya, “kalian duluan aja ke dalam, saya mau bicara sebentar dengan Mas Budi…daripada nanti si Boss nanya-nanya di dalam ya…” serunya kepada kedua temannya.
Kedua temannya mengiyakan dan meneruskan berjalan ke arah pintu. Setelah pintu tertutup, baru kemudian Budi berkata kepada Rika,”maaf bu menganggu waktunya sebentar…saya tadi agak berbohong kepada ibu karena sebenarnya bukan karena disuruh Ibu Anisa saya kesini bu…” dengan agak takut Budi berkata. Memang strategi ini sudah dipersiapkan, tetapi tetap saja dia khawatir kalau-kalau Ibu Rika marah kepadanya.
“Yaah…ampun emang ada apa mas? Kok sampe bohong segala? Ada apa sih?” tanya Rika dengan halus tetapi ada nada tidak senang di dalam suaranya.
Dengan buru-buru, langsung Budi berkata,” yah…ini tadi soalnya saya tidak mau orang kantor yang lain mengetahuinya…mengenai permintaan ibu yang kemarin..soal Dodol yang dikerjain mulu sama Ibu Anisa …bu..” Budi berkata cepat.
“Ooohhh…iya-ya…terus gimana perkembangannya, mas? Udah dikasih tahu ke Dodolnya?” sahut Rika.
“Dodol sudah saya kasih tahu bu….tapi dia tidak percaya…karena merasa belum….kenal dengan Ibu Rika….makanya…saya mau ada permintaan…tapi kalau ibu Rika tidak keberatan…” dengan hati-hati Budi berkata.
“Oh…emang permintaan apa mas?” tanya Rika.
“Begini..saya ada rencana…bagaimana kalau Bu Rika ketemu langsung saja dengan Dodol…tapi jangan sampe keliatan diatur. Ini sebenarnya rencana saya sendiri. Jadi nanti sepulang kantor, kalau Ibu ga keberatan…mampir di Blok S…tempat makan bakso super….ibu belagak mau bungkus aja…nanti saya akan ajak Dodol makan disitu juga…nah terus..saya akan berpura-pura kaget melihat ibu…dan nanti kita bisa langsung makan disitu aja….selanjutnya kan …bisa ngobrol-ngobrol disana bertiga…” sahut Budi.
“Dodol kan ga tau …jadi nanti seolah-olah kebetulan aja ketemu…” Budi melanjutkan.
“Ohhh…aduh ribet amat ya…kalau dia dibilangin ga percaya sih ga pa2 mas…itu kan masalah dia…sebenanya saya sih cuma kasian saja….tapi kalau harus disiasatin seperti itu…saya agak keberatan mas…” kata Rika sambil mengerutkan alisnya.
Melihat reaksi Rika seperti ini, Budi langsung buru-buru mengangkat tangannya, “ maaf bu…sebenarnya saya juga kasian sama dia…malah kemarin itu dia kecelakaan jatuh dari bis..karena dia marah sama saya setelah saya kasih tau soal omongan itu…tetapi saya tidak menyebutkan nama ibu sih…soalnya setelah kejadian kecelakaan kemarin…saya juga bingung mau ngomong pakai cara apalagi, bu…” Budi langsung berkata dengan muka dibuat “pasrah”.
Melihat sikap Budi yang keliatan pasrah dan susah kehabisan daya ini, Rika menjadi kasihan. Segera dia berkata, “ ya udah deh….tapi jangan sekarang ya..saya masih banyak urusan di kantor…nanti aja hari jumat..kebetulan juga saya mau ke arah tendean mau mampir ke teman saya di kuningan….nanti kita ketemuan jumat aja di Blok S sekitar jam 5.30an ya..”
Dengan girang Budi langsung membungkuk-bungkuk kayak orang yang lagi terkena penyakit diare. Dia merasa girang sekali dia berhasil membuat Ibu Rika janjian bertemu dengan mereka berdua. Rencana ini berhasil baik. Pikirnya.
“Terimakasih banyak bu. Ibu memang seorang yang baik ….nanti akan saya bantu ibu kalau ibu butuh bantuan saya mengenai kerjaan di kantor. Mau minta tolong fotocopy, minta tolong bawain file, saya pasti akan kerjakan, Bu.” Kata Budi Bala-Bala setulusnya. Memang dia berkata sebenarnya. Dia sungguh sangat menghargai Ibu Rika yang walaupun hanya kenal seperti itu saja, tetapi mau saja menolongnya karena kasihan dengannya.
“ Ya, santai saja mas. Ya udah nanti jumat ya..” dengan tersenyum Ibu Rika berkata sambil melangkah masuk ke dalam ruangan.
Dodol yang mendengar pembicaraan ini dari ruang toilet, langsung menghampirinya dengan muka girang, “ mantap bro…elo emang cerdassss…cocok jadi pemain sinetron bro…” dengan girang dia menepuk-nepuk bahu Budi.
“Udah..jangan rame…nanti ketahuan satpam di dalam…abisss kita…ya udah kita langsung naik..” serunya kepada Dodol dan mereka pun segera melangkah ke arah lift yang kebetulan sudah terbuka dan masuk untuk segera naik ke lantai HRD.
-----------------------------
Suasana di blok S pada sore hari itu cukup ramai pengunjung. Terlihat beberapa titik keramaian disekeliling lapangan sepak bola di area blok S.
Dari ujung jalan masuk dari arah senopati disebelah kanan jalan, terlihat parkir beberapa kendaraan dengan orang-orang yang berkerumun di beberapa titik jajanan makanan yang beranekaragam.
Ada yang ramai di tempat siomay, kemudian ada yang ramai berkumpul di tukang sate, yang berada disamping kanan jalan. Kemudian jika kita berjalan lagi dan belok ke kanan, disitu ada tukang jualan bakso super yang paling ramai dengan pengunjung.
Disitulah tempat Dodol dan Budi Bala-Bala memilih tempat bertemu dengan Rika. Sejak jam 4 sore, mereka sudah ada disitu, sengaja berangkat lebih awal dari kantor tempat mereka magang. Saat sampai disana, tempat jualan bakso super masih sepi, sehingga mereka dengan leluasa memilih tempat duduk yang paling strategis, yaitu tempat yang bisa membuat mereka melihat ke arah parkir kendaraan, supaya mereka bisa memantau kedatangan Rika.
Sejak tadi Dodol melihat ke arah parkiran, memantau dengan keras, semua pengunjung yang mulai berdatangan ke tempat itu. Matanya hampir tidak pernah berkedip jika melihat ke arah para pengunjung yang datang.
“Oiii…hati-hati, mata lo nanti loncat keluar…” seru Budi Bala Bala menggoda temannya.
“ Tenang aja bro…Rika past dateng…gue jaminn deh..” sambung Budi Bala-Bala.
“Jamin sama hidung elo kali…emangnya elo siapa…Rambut Bakwan ….” Balas Dodol sambil bercanda.
Dodol menghirup kopi s**u yang hangat di mejanya sambil matanya mencari-cari ke arah beberapa orang yang terlihat sedang berjalan mendatangi tempat mereka. Dan tiba-tiba dia memandang terbelalak…
“Wow… indahnya…!” tanpa terasa Dodol bergumam.
Melihat reaksi Dodol, Budi Bala-Bala melihat juga ke arah orang-orang yang berdatangan mendekat ke arah mereka. Ternyata Rika sudah datang. Dia berjalan dari arah sebelah kanan, agak dibelakang dari beberapa orang yang sedang berjalan mendekat pula.
“Apanya yang indah, Dol?” tanya Budi bingung.
Dia melihat Rika biasa banget. Rika memakai baju biru tua, dengan celana panjang putih. Model baju Rika itu kemeja yang sangat longgar, dan ukurannya besar untuk menutupi badannya yang memang lebar. Budi melihat Rika yang sedang berjalan, seperti melihat bola besar yang sedang menggelinding mendekat. Apanya yang indah? Pikirnya.
“Masa lo ga bisa lihat sih?” Badan bagus, tinggi kurus, semampai, muka manis senyum ramah..duh..belum pernah nih lihat yang begini…Bu Anita lewattt…deh” seru Dodol dengan suara kagum.
Melengak si Budi mendengar omongan Dodol. Betul-betul Dodol. Masa lo ga bisa lihat sih?” Badan bagus, tinggi kurus, semampai, muka manis senyum ramah..duh..belum pernah nih lihat yang begini…Bu Anita lewattt…deh” seru Dodol dengan suara kagum.
Melengak si Budi mendengar omongan Dodol. Betul-betul Dodol. Kayaknya sekarang tambah semakin dodol. Udah rusak apa otaknya nih orang. Pikir Budi Bala-Bala. Setelah kepalanya terbentur tiang tempo hari, sahabatnya menjadi semakin aneh. Terutama dalam hal penglihatan.
“Halo, mas…” sapa Rika ke Budi.
“Halo juga mba, kenalin ini teman saya, Dodol…” kata Budi seraya tertawa. Rika sudah melihat mereka dan langsung menghampiri meja tempat duduk Dodol dan Budi.
“ Iya senang kenalan dengan mba..” kata Dodol sambil menjulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.
Mereka bersalaman sejenak, dan Rika kemudian mengambil tempat duduk yang sudah dipersiapkan. Kebetulan tempat duduk yang ditempati Rika, adalah bangku panjang ukuran 2 meter sehingga bisa diduduki pula oleh orang lain yang sedang makan disitu tetapi berlainan meja.
Saat Rika mulai duduk disitu, memang sudah ada orang yang duduk di bangku itu di ujung bangku sebelah kanan. Sedangkan Rika mengambil tempat duduk di ujung sebelah kiri.
“Jalanan lancar ya mba….” Sapa Dodol mulai berbasa basi.
“ Iya lancar…alhamdulillah…” sahut Rika.
“ Nah, berhubung sekarang sudah ketemu nih…mba boleh deh ceritain soal orang-orang di kantor ….mengenai Dodol…” akhirnya Budi membuka pembicaraan.
Dodol juga langsung bertanya ke Rika..” maaf ya mba kemarin saya belum tahu mengenai omongan yang katanya beredar di kantor soal saya….kalo boleh tahu, omongannya seperti apa mba? “
“Sebenarnya ini bukan urusan saya sih, Mas…tetapi saya sering mendengar sendiri omongan mereka ..jadi saya juga bisa diam-diam saja…maaf ya…” sahut Rika dengan muka sedih.
Melihat ini, Dodol langsung berkata dengan suara menghibur, “ justru ga apa-apa banget mba…mba udah begitu baik sehingga mau kasih tahu soal ini ke Budi..saya pribadi sangat menghargai sikap mba…tetapi saya juga perlu tahu soal omongannya ya mba…mumpung sekarang kita juga sudah berkenalan..”
“Oke baiklah, Mas. “jawab Rika.
Dengan hati-hati dan suara perlahan sehingga tidak sampai terdengar oleh orang-orang yang mulai ramai disana, Rika bercerita kepada Dodol. Budi mendengarkan saja karena sebagian besar dia sudah tahu. Rika bercerita bagaimana dia tidak sengaja mendengar obrolan Bu Anisa dengan beberapa orang di kantor saat forocopy di ruangan HRD.
“ Itu sih Dodol sok banget yaa..minta pengakuan mulu tiap hari….bener-bener deh tuh orang …” kata Bu Anisa ke Dewi, salah satu staf di HRD.
“Kenapa emang, mba?” tanya Dewi.
“Tadi aku lagi cerita ke Mahmud mengenai tempat makan enak di depan Tanah Abang…mendadak dia nyamber…saya sering makan disitu katanya…kalau mau makan disitu nanti dia traktir….” cerita Bu Anisa.
“Gue nyahut aja….yuuuukkkk… siapa takut….terus dia bilang besok yaa…sekalian besok kan gue dapet setoran dari bisnis dia kerjasama dengan pedagang makanan di depan rumahnya….ciihhhh…” sambung Bu Anisa.
“Oh Dodol ternyata punya bisnis sampingan….” Sambung Dewi.
“ yahhh…enggaklah…mana ada dia bisnis sampingan…gue kan cari tahu lokasi rumahnya …emang dia tuh sebenarnya anak orang kaya…bapaknya pejabat di departemen pemerintah. Makanya dia pastinya dapet uang sakulah…mana ada punya bisnis sampingan…” celoteh Bu Anisa.
“ Bapaknya pejabat ternyata…” dengan kaget Dewi menanggapi.
“Makanya…nih anak selalu aja sesumbar kalo dia punya uang dari bisnis sampingan…terus doyan traktir anak-anak makan…dia selalu bilang kalo punya uang lebih….” Kata Bu Anisa.
“Biarin aja mba…kan enak ditraktir mulu jadinya…nanti mau gue angkat-angkat aja deh…biar dapet traktiran…hihihi…” sambil ketawa Dewi berkata.
“ Yah bener Wi… gue juga sering tuh sekarang muji-muji dia…dia kan langsung senang tuh… kayaknya dia juga suka sama gue deh…” sambil ketawa Bu Anisa menjawab.
“Ya ampunn…hahahaa…siapa sih yang engga suka sama elo….kemaren aja si Bowok anak orang kaya di bagian Purchasing aja ngejer mulu ya ..Nis…” Dewi menanggapi.
“ Hihihi…makanya mau gue kerjain aja si Dodol nih…biar dapet makan…hahaha…” sambung Bu Anisa sambil mengeluarkan gaya genit menjulurkan lidah ke Dewi.
“Dasar lo mba…hahaha…” kata Dewi. Mereka berdua meninggalkan ruangan fotocopy tanpa menyadari kalau di sudut ruangan, kebetulan Rika sedang menunggu untuk fotocopy juga.
“Begitulah salah satu obrolan yang saya denger dari Bu Anisa dengan Dewi. Masih banyak lagi obrolan-obrolan mengenai Mas yang membuat saya menjadi tidak enak. Makanya saya akhirnya tidak tahan dan menceritakan semua ke Mas Budi.” akhirnya Rika berkata.
Dodol mendengarkan cerita Rika dengan terbelalak. Dia tidak menyangka sama sekali ternyata Bu Anisa yang selama ini dianggap cukup baik dan ramah kepadanya, ternyata menjadi seorang yang menghina dibelakangnya. Bener-bener tidak layak dijadiin teman. Apalagi pacar. Udah mana sekarang mukanya jadi tua gituh. Pikir Dodol kesal.
“Biar ini menjadi pelajaran aja Dol. Mulai sekarang, elo tuh harus hati-hati dalam memilih teman. Jangan melihat hanya dari tampilan luar saja, tetapi yang penting hatinya, Dol.” Sambung Budi Bala-Bala menasehati temannya.
“Iya Bud..gue bakalan berhati-hati, terutama sama orang kantor kayak Bu Anisa dan yang lainnya. Memang gue juga salah sih, berharap gue bisa dekat dan banyak teman. Ternyata mereka seperti itu.” Kata Dodol.
Kemudian Dodol mendadak berkata sambil tersenyum, “ tapi untungnya gue masih punya teman hebat kayak elo ya…biar pun rambut kribo kayak bakwan…tapi hatinya muannntappp berkualitas….kayak ustad..barusan elo mendadak jadi dewasa 10 tahun lebh tua buktinya…hahahaha…”
Dodol yang tadinya agak kecewa mendengar cerita Rika, sekarang sudah bisa tertawa-tawa lagi. Dia betul-betul merasa bersyukur bisa mempunyai teman seperti Budi, apalagi sekarang bisa mendapatkan teman baru yang baik hati dan cantik seperti Rika. Bagaimana hatinya sekarang tidak menjadi senang.
Melihat reaksi Dodol, Rika dan Budi juga ikut tertawa. Mereka bertiga langsung menjadi akrab. Ternyata Rika dan Dodol sangat “nyambung” komunikasinya. Mereka bicara tidak terputus, dan Budi pun juga bisa menimpali dengan sama.
Saking asyiknya mengobrol, akhirnya tanpa terasa hari sudah mulai menjadi gelap. Tanpa terasa, sudah 1 jam lebih mereka nangkring disitu, dan akhirnya azan magrib terdengar. Tempat Bakso super sudah mulai sesak dengan orang.
“Yuk…kita cari masjid dulu…udah magrib…” kata Rika.
Duh. Udah mana cakep, baik, sekarang ingat ibadah pula. Begitu sempurna dirimu. Pikir Dodol sangat kagum.
“ Yuukkk… mba biar kita aja yang bayarin yaa…” kata Budi seraya bangkit berdiri.
“ Eh…jangan gitu mas…” kata Rika seraya mengangkat badannya dari bangku. Tetapi tidak jadi, karena sudah keburu ditahan oleh Dodol.
“ Engga pa-pa mba..kan ini usulan kita berdua ngumpul…biarin kita aja yang bayarin..tenang-tenang…” seru Dodol.
“ Oh..ya sudah makasih ya. Nanti kalo ngumpul lagi, biar saya aja yang bayarin..” kata Rika seraya menurunkan badannya lagi ke tempat duduk.
Begitu Rika duduk ke tempat duduknya, mendadak bangkunya itu naik ke atas, dan tubuh Rika tidak bisa menahan keseimbangan badannya, dan……akhirnya Rika terjatuh terjengkang ke belakang dan bangku itu naik ujung kanannya ke atas.
“Traakkkk…dukkkk”..terdengar suara keras ketika ternyata bangku itu retak di bagian tengahnya.
Orang yang duduk di ujung kanan bangku itu, juga kaget mendengar suara ini. Dia tadinya bangun dari tempat duduknya karena ingin membayar makanannya, tetapi tiba-tiba….bangku yang tadi didudukinya naik ke atas… untung saja dia berhasil menghindar sehingga ujung bangku itu tidak sampai terkena badan dan mukanya.
Orang itu, Dodol dan Budi yang kaget melihat Rika terjengkang, dan melihat bangku yang tadi diduduki patah retak, segera berlari mendatangi Rika yang terjerembab ke belakang.
“Mba, ga pa-pa kan?” orang yang tadi ikut makan disamping tempat duduk Rika berkata.
“Mba…ada yang luka ga?” sambung Dodol yang sudah menghampiri tidak mau kalah.
Rika yang sempat terkejut, segera berkata sambil tertawa terpaksa, agak malu-malu, “ Iya engga apa-apa, mas”
Mereka bertiga segera membantu mengangkat badan Rika. Anehnya, Dodol merasa badan Rika agak berat.
“Maaf ya mba….” Nampak orang yang nampaknya yang mempunyai tempat bakso itu ikut mendatangi sambil mengangkat tangannya.
“Ini bangkunya mendadak patah…biasanya tidak pernah kejadian seperti ini, mba..” seru orang itu berusaha membela diri.
“ Iya engga apa-apa, Pak. Mungkin karena badan saya yang terlalu berat kayaknya..” sambung Rika sambil tertawa getir.
“Bang, gimana sih bangku kok bisa patah? Kalau pakai bangku tuh jangan yang asal-asalan, pake yang bagus kualitasnya…gimana orang mau duduk kalo belum apa-apa udah patah…” Dodol mendadak dengan suara gusar memprotes keras.
Dengan muka agak pucat, orang yang mempunyai tempat bakso itu langsung berkata, “ maaf mas…saya bener-bener tidak tahu, bangku sudah biasa diduduki banyak orang…dan ga kenapa-napa….”
“Khusus buat mba dan mas, ga usah bayar makanannya ya…saya selaku yang punya warung mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya.” sahut orang itu. Dia memang terlihat sangat menyesal sekali.
“Janganlah, pak.Kita tetap akan bayar kok..bener kan Dol? Sahut Rika dan menatap langsung ke Dodol.
“Kasian kan Bapak juga harus ganti bangku juga.” Seru Rika kepada orang itu.
Mendengar perkataan Rika, Dodol langsung turun amarahnya dan terganti dengan perasaan kagum kepada Rika. Orang ini luar biasa baiknya.
“Ya udah, kita tetep bayar. Bapak harus berterimakasih kepada teman saya ini.” Sahut Dodol yang langsung mengeluarkan uang untuk membayar.
Akhirnya dengan ucapan terimakasih, orang itu menerima uang pembayaran dari Dodol dengan badan terbungkuk-bungkuk. Mereka bertiga segera meninggalkan tempat itu dengan cepat. Ketika melewati beberapa orang yang sedang duduk makan disana, yang tadi ikut menyaksikan peristiwa jatuhnya Rika, Dodol sempat mendengar suara beberapa orang wanita disitu berkata
“Gile..patah bangku…gendut banget sih orangnya…” sambil terdengar suara ketawa cekikkan.
Dodol segera melotot kea rah tiga orang wanita yang mengeluarkan suara tertawa tadi. Begitu dipelototi oleh Dodol, mereka langsung berlagak tidak melihat dan melanjutkan makan mereka.
“Heran ya…dasar cewek usil jelek…” teriak Dodol.
“Kenapa sewot, Dol? “ seru Budi.
“Itu tuh cewek-cewek tante-tante norak barusan menghina Rika..katanya dibilang gendut..makanya bangku patah…” kata Dodol.
Budi Bala-Bala diam saja. Dia tidak mau berkomentar. Untung saja Rika tidak mendengar omongan Dodol barusan.
Mereka bertiga segera berpisah dan masing-masing masuk ke kendaraan untuk melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Sejak kejadian pertemuam antara Dodol dengan Rika, mereka akhirnya menjadi semakin dekat.
Dodol seperti sudah lupa dengan Ibu Anisa yang tadinya membuat dia tergila-gila sampai membuat dia kadang lupa waktu, karena baginya Ibu Anisa sudah tidak menarik hatinya karena terlihat tua dan berkerut di matanya.
Sekarang di mata Dodol hanya ada Rika. Baginya Rika sangat sabar, humoris, dan selalu perhatian ke dirinya.
Rika pun juga merasa semakin lama semakin merasa dekat dan cocok dengan Dodol.
Tetapi jika mereka terlihat berdekatan di kantor, terlihat semua orang memandang dengan terheran-heran. Terutama Budi Bala Bala. Bagaimana tidak heran?
Dodol sudah sangat terkenal hanya mau dekat dan ngobrol dengan orang-orang cantik. Tetapi ternyata Dodol jadi tidak suka dengan orang-orang cantik dan sekarang malah keliatan dekat dengan Rika, orang yang badannya gemuk dan sangat tidak menarik, yang sama sekali tidak pernah keliatan dekat dengan pria.
Rika sudah sangat dikenal sebagai wanita penyendiri, yang tidak pernah bergaul dengan semua orang di kantor baik pria atau wanita.
Suatu hari, setelah pulang kantor, Dodol dan Rika nampak sedang duduk di pinggiran jalan dekat kantor, tempat jualan bakso dan siomay.
Budi Bala Bala sudah pulang duluan sedari tadi.
“ Rik, gimana baksonya enak ga?” Dodol bertanya setelah selesai makan.
Rika yang juga sudah selesai makan, langsung menjawab sambil mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya, “ “Enak banget, gurih, Dol.” Sahutnya sambil tersenyum.
“Kok tau aja ada tempat bakso enak kayak gini?” Rika balik bertanya.
“Tau karena dulu gue dan Budi bersama dengan teman sekolah sering makan disini juga.Dulu disamping tukang bakso ini ada Tukang Soto Mi. Enak juga tuh. Pake tetelan sapi dan sumsum. Empuk banget. Tapi sekarang udah pindah.” Dodol menjelaskan.
“ Ooohhhh...aku memang jarang keluar kalau pulang kerja soalnya...langsung aja pulang ke rumah...jadi ga pernah tau tempat-tempat makan yang enak disekitar sini.” Sahut Rika sederhana.
“ Oh iya..denger-denger katanya Rika kos ya. Emang asalnya dari mana? “ Dodol lanjut bertanya.
“Aku dari Bandung, Dol.” Sahut Rika.
“ Dulu sekolahnya emang dari Bandung ? tanya Dodol tertarik.
“iya, makanya aku engga tahu soal tempat-tempat makan yang enak disini..” sahut Rika seadanya.
“Oh iyalah...nanti aku kasih tahu tempat-tempat yang lainnya ya. “ Dodol langsung bersemangat menjawab.
“ Selain bakso suka makan apa lagi di Banfung? Tanya Dodol.
“ Kalau disana hampir sama juga seperti disini. Kayak Bakso super juga ada. Doyan juga saya sama pempek-pempek, sate ayam; bubur ayam . “ Rika menjawab.
“ Kalo di bandung, ada batagor juga yang enak ga? “
Batagor bungsu atau Riri ya? Kalo ga salah..
“ Oh iya ada...tapi kalo batagor saya tidak begitu suka..” sahut Rika.
Demikianlah mereka berdua semakin lama semakin dekat.
Kedekatan mereka lama kelamaan sudah tidak bisa disembunyikan dari teman-temam sekliling mereka. Sering kali mereka terlihat makan di kantin kantor ditemani juga dengan Budi Bala Bala.
Budi sering melihat Rika sangat memperhatikan Dodol. Kadang kalo Dodol bajunya tidak rapih, dia sering mengingatkan dengan cara yang halus.
Dodol belum pernah ketemu dengan teman yang seperti Rika ini. Sangat berbeda dengan Ibu Anisa, atau teman-teman kantor lainnya atau teman-teman sekolah yang dikenalmya.
Dengan kepribadian Rika yang seperti itu, Dodol menjadi semakin tertarik. Sebaliknya Budi Bala Bala dan Ibu Anisa yang biasanya suka sekali didekati oleh Dodol, menjadi semakin bingung dan terheran-heran.
Bagaimana mungkin Dodol yang tadinya dikenal sangat dangkal menjadi sangat bijaksana dalam menilai kepribadian wanita. Rika dikenal sangat baik kepribadiannya tetapi juga sangat jarang sekali lelaki yang mau dekat dengannya karena rupanya tidak menarik. Tetapi Dodol kok menjadi sangat tertarik.
Ini yang membuat mereka bingung dan akhirnya menjadi mempunyai pandangan yang berbeda terhadap Dodol. Yang tadinya sangat merendahkan menjadi lebih menghargai.
Kadang mereka makan bertiga bareng dengan Budi Bala Bala. Kadang mereka jadi kumpul berempat dengan Ibu Anisa. Ibu Anisa juga akhirnya bergaul mulai akrab dengan Rika juga. Padahal tadinya tidak pernah ngobrol sama sekali.