Episode 2 : Ketemu Malaikat

3842 Words
Satu minggu sudah berlalu sejak Dodol dan Budi Bala-Bala mulai magang di kantor notaris. Dodol semakin rajin dalam bekerja, apalagi jika membantu Ibu Anisa, supervisor HRD yang menarik hatinya itu.  Untuk urusan sekolah, mereka tetap masuk seperti biasa. Dodol sudah mulai sekolah kembali sejak diskors 1 minggu yang lalu, sehingga mereka berdua itu menyesuaikan jadwal magang mereka menjadi jam 2 siang sampai jam 5 sore. Tetapi jika Ibu Anisa lembur, sudah pasti yang bersedia menemani hanya si Dodol karena Budi Bala- Bala tidak mau. Semakin lama, Dodol juga sudah mulai akrab dengan staf kantor yang lainnya. Dodol memang hobinya bacot terus dan kelakuannya ini sudah mulai dikenal oleh orang-orang di kantor notaris itu. Seringkali dia itu sesumbar kalau dia itu serng membantu pekerjaan para pedagang kaki5 yang berada di depan rumahnya, sehingga ia punya uang lebih tiap hari. Dengan royalnya, dia berani mengajak traktir makan beberapa orang di kantor itu, tentunya termasuk Ibu Anisa dengan bercerita kalau dia dapat rejeki yang harus dibagi karena dia sukses membantu pekerjaan pedagang kaki 5 depan rumahnya itu. Lama kelamaan, hal ini menjadi kebiasaan sehingga kadang-kadang Ibu Anisa diajak makan berdua saja oleh Dodol dan Ibu Anisa mau. Dodol selalu terlihat senang jika berhasil ajak makan berdua saja dengan Ibu Anisa, padahal Ibu Anisanya bersikap biasa. Tentu saja sepertinya Ibu Anisa sadar kalau Dodol tertarik dengannya, makanya dia seperti kebanyakan orang pada umumnya, akhirnya menjadi memanfaatkan situasi dan kondisi. Ibu Anisa tentu saja tidak akan balas tertarik dengan Dodol karena dia merasa statusnya lebih tinggi. Dia adalah supervisor di kantor itu, sedangkam Dodol hanya magang saja. Tetapi kenyataan ini sayangnya tidak disadari oleh Dodol yang sudah terbuai. Watak Dodol yang terlalu lemah di hadapan wanita yang cantik, sehingga membuat dia tidak menyadari akan kenyataan dan terbawa arus permainan dari orang yang memanfaatkan situasi kepadanya. Hal ini tidak luput dari pengamatan Budi Bala-Bala. Rata-rata orang di kantor itu jadi memanfaatkan situasi semua ke Dodol. Sedikit sedikit minta traktir. Ada juga yang pinjam uang. Gila.Mereka berdua kan hanya anak magang disitu, sedangkan orang-orang yang pada minta traktir atau pinjam uang itu adalah karyawan. Mereka terima gaji. Tetapi mereka tidak tahu malu dan memanfaatkan Dodol yang selalu keliatan punya uang. Tetapi ada satu orang lagi yang berbeda dengan yang lain. Seorang wanita yang bernama Rika. Dia adalah seorang staf junior yang baru masuk. Dia hanya tamat SMP saja, tetapi dia pintar dalam hal program komputer sehingga diperbantukan dalam divisi keuangan. Umurnya baru 19 tahun. Rika ini juga diam-diam merasa kasihan kepada Dodol. Hanya Rika dan Budi Bala-Bala yang tidak memanfaatkan situasi kepada Dodol. Mereka berdua sudah berusaha memberitahu kepada Dodol, tetapi Dodol tidak mau mendengar karena mata dan hatinya sudah bebal. Budi Bala-Bala sangat bersimpati kepada Rika, karena wanita ini beda dari yang lainnya dan dia pernah melihat kalau Rika ini sudah beberapa kali memancing Dodol untuk berbicara secara pribadi. Tetapi si Dodol memang dodol orangnya karena dia cuek saja. Budi sangat mengerti kenapa Dodol bisa cuek dengan Rika. Karena Rika berperawakan gendut dengan muka sangat lebar dan sangat tidak menarik bagi lelaki manapun yang melihatnya. Apalagi Dodol yang berkarakter cupat dan dangkal Suatu saat Rika menghampiri Budi Bala-Bala yang sedang mengcopy beberapa dokumen di mesin photocopy. Kejadian ini tidak dilihat oleh Dodol. “Mas Budi, maaf ya ganggu waktunya sebentar.” Sapa Rika ke Budi. “Aduh engga apa-apa mba Rika. Atau mba Rika mau pakai mesin fotocopynya dulu? Gak apa-apa saya belakangan mba.” Kata Budi senang melihat wanita ini menghampirinya. Wanita ini sangat baik dan berbudi. Tidak seperti yang lainnya. “Oh bukan soal itu. Saya Cuma mau bicara sedikit tentang….Dodol.” dengan agak malu-malu Rika berkata. “ Oh..emang kenapa Dodol mba? Kalau dia agak gak sopan sama mba nanti biar saya pelentir telinganya mba.” Kata Budi yang jadi tegang. Jangan-jangan temannya ini pernah kurang sopan dengan mba Rika karena wataknya yang cupat. “ Oh sama sekali bukan soal itu. Sebaliknya saya malah kasihan dengan Dodol. Sempat saya melihat dia agak kebingunan waktu kemarin diajak makan sama Bu Anisa. Keliatannya dia sedang tidak ada uang. Tetapi karena dia kayaknya …selalu mau ..keliatan ada…akhirnya dia tetap jalan makan dengan Ibu Anisa.” Kata Rika dengan muka agak sedih. “Saya tahu ini bukan urusan saya sih, mas. Tetapi saya merasa kasihan dengan Dodol. Kira-kira mas mau ga bilangin dia? “ kata Rika. “Nah itu dia, saya udah selalu berusaha bilang ke dia tetapi dia Cuma ngomong..udah elo ga usah ikut campur urusan pribadi gue. Selalu ngomong gitu dia mba.” Kata Budi dengan wajah penasaran. “Coba dibujuk lagi mas…aku merasa…kasihan dengan dia….soalnya siapa lagi kalau bukan mas yang paling lama berteman dengannya.” Sahut Rika. Hhmmmm….Budi juga tertegun dengan omongan Rika. Sepertinya Rika ini tertarik dengan Dodol ya. Kenapa dia sampai sebegini perhatiannya. “Ok mba saya nanti coba bujuk lagi Dodol.” Akhirnya Budi menjawab. Sambil mengucapkan terimakasih, Rika meninggalkan Budi yang jadi sedikit termangu-mangu di depan mesin fotocopy. ×××××××××× Sore hari itu sudah jam 5 lewat 15, semua karyawan sudah pulang termasuk Rika dan Ibu Anisa. Tinggal Dodol dan Budi yang sedang bersiap keluar dari kantor. Mereka berdua hari itu sedang tidak menggunakan kendaraan karena kendaraan Dodol sedang dipakai oleh teman ibunya. Mereka naik transportasi umum. Mereka berjalan berdua tanpa bicara menuju ke halte bis. Dodol akan naik metromini sedangkan Budi akan naik kopaja karena Budi memang bermaksud mampir ke rumah adiknya dulu sebelum pulang ke rumah. “Eh gue mo ngomong sebentar donk sama elo Dol.” Tiba-tiba Budi bicara ke Dodol. “ Oh iya lanjut aja Bud..kenapa ya? Serius amat kayaknya.” Kata Dodol. Dia lagi melamun soal rencana makan besok dengan Ibu Anisa. “Elo sadar ga sebenarnya elo tuh udah jadi omongan orang di kantor?” kata Budi kemudian. Suaranya agak tinggi. “Maksudnya omongan gimana sih? Gue kayaknya biasa-biasa aja sama semua yang dikantor.” Seru Dodol menjadi agak tinggi juga melihat temannya ini bernada tinggi. Kenapa nih orang. Galak amat mendadak. Pikirnya. “Elo itu udah diomongin sama orang satu kantor, kalau orang yang royal dan suka traktir seluruh kantor. Gue tahu elo pingin dapet pengakuan dari orang kantor, terutama Ibu Anisa.Paham gue. Tapi elo sadar gak, kalo mereka semua malah memanfaatkan elo. Elo itu cumin jadi bahan bulan-bulanan aja di kantor. Di depan elo mereka manis, dibelakang ngetawain..sadar ga Dol?” Budi Bala-Bala berkata dengan mata yang penasaran. “Oh soal itu lagi..kan ini udah berkali-kali elo singgung ke gue…dan udah berkali-kali juga gue ngomong, tolong jangan ikut campur urusan gue…kenapa sekarang elo singgung lagi?” ujar Dodol juga penasaran. Mereka berdua sudah sampai di depan halte bis. Mereka sekarang sedang berdiri bersitegang. “Iya betul..sori nih sekarang gue singgung lagi..” kata Budi Bala-Bala agak turun nadanya. Dia sudah tahu tidak mudah untuk bicara dengan orang keras kepala kayak Dodol. “Tadi sore, gue disamperin Rika waktu gue lagi fotocopy dokumen Bu Anisa. Dia sengaja samperin gue disitu ternyata cuma mau ngomong kalo di aitu …kasian sama elo. Coba bayangin? Rika yang orang dari divisi keuangan, beda divisi sama bagian kita, sampe bisa tau gitu loh. Saking sudah populernya kasus elo di kantor Dol” kata Budi agak pelan supaya Dodol tidak naik pitam. Maksudnya agar temennya ini bisa jadi sedikit sadar kalau dia itu sudah menjadi bahan omongan satu gedung. “Gile, siapa itu Rika? Gue kenal juga engga, ngapain dia urusin urusan orang lain?” teriak si Dodol. “Dia itu baik, Dol..walaupun dia ga kenal sama elo…tapi dia perhatian sama elo…sebenarnya lo berdua pernah ketemu kok, tapi mungkin elo nya yang lupa dan tidak peduli karena…dia hanya wanita dengan penampilan biasa saja Dol…elo kan Cuma bisa inget sama yang cantik aja…” teriak Budi. Mereka berdua sudah semakin tegang dan bersuara tinggi, sehingga mulai menjadi perhatian orang-orang yang sedang menunggu di halte bis tersebut. “Gue tuh temen gue sendiri, tapi kerjaan elo cuma nyampurin urusan gue aja…sekarang malah tambah rame sekongkol sama orang yang gue ga kenal sama sekali…siapa itu Rika…harusnya elo dukung gue bro…bukannya malah neken gue bro…” teriak Dodol. “Justru gue ini karena temen lo..makanya gue pingin nolongin elo dari masalah yang elo buat sendiri bro…gue cuma ingetin..supaya elo ga terbawa arus permainan orang-orang di kantor…” teriak Budi. “Ya udahhh…deh percuma disini teriak-teriak…ngomongin urusan gue…nanti semua orang di dunia tau urusan gue terus ikut campur pula….” Teriak Dodol yang sudah mulai melihat kalau orang-orang disitu sudah mulai memperhatikan mereka berdua. Malu juga dia. Teriak-teriak depan halte bis. Saat itu Dodol melihat ke belakang dan melihat Metromini jurusan ke rumahnya sudah mendekat…lalu dia berkata lagi ke Budi Bala-Bala, “ udah deh percuma ngomong sama elo…gue ingetin ya..ga usah bahas masalah urusan gue mau traktir siapa, mau bertemen sama siapa…itu urusan gue sendiri…elo jangan ikut campur lagi…” kata Dodol yang sudah marah sekali. Tanpa menunggu jawaban dari Budi Bala-Bala yang nampak bengong, Dodol langsung saja menaiki Metromini itu dari pintu depan. Kebetulan ada metromini yang lain dengan nomor yang sama, jurusan yang sama berusaha menyalip metromini yang sedang dinaiki oleh Dodol. Melihat metromini lain yang berusaha menyalip untuk berebut penumpang disebelah depan halte yang sudah mulai banyak orang, supir metromini itu segera tekan gas sehingga mendadak metromini itu melaju dengan cepat untuk menghalangi metro mini yang akan menyalip. Dodol yang sedang merasa kesal tidak begitu memperhatikan gelagat ini, dan hanya berjalan dengan kaki kanannya berusaha menginjak lantai di pintu masuk metromini…tiba-tiba dia kaget…karena metromini itu mendadak melaju cepat…sebelum kaki kanannya berhasil menginjak lantai pintu..sehingga dia otomatis bereaski berusaha melompat…namun tidak berhasil …dan kakinya kebentur pintu metromini dan terlempar keluar kembali dengan kepala mengarah ke tiang kecil di depan halte… Duukkkk… kepala Dodol terbentur tiang itu dan tersungkur di jalan tidak bergerak…pingsan. Dodol membuka matanya dan dia mendapatkan dirinya berada di sebuah kamar yang dindingnya sangat menyilaukan mata. Saking silaunya dia sampai mengangkat kedua tangannya untuk menghalangi sinar cahaya yang sangat menyilaukan mata, yang memantul keras dari dinding sekelililng kamar itu. Akhirnya matanya mulai terbiasa dan dia bisa melihat kalau warna dinding kamar itu berwarna putih semua. Tidak ada warna lain sama sekali, sampai pintunya pun berwarna putih. Kok ini kayak di dunia lain ya. Pikir Dodol. Jangan-jangan dia sudah mati. Ini du dunia atau ….mendadak meremang bulu diseluruh tubuhnya memikirkan ini. Tiba-tiba pintu di depan ruangan itu terbuka dan nampak masuk seorang pria yang bertubuh tinggi ke dalam ruangan itu. Pakaiannya seperti pakaian dokter dengan jas warna putih. Setelah menutup pintu, orang itu membalikkan badan dan langsung menatap ke arahnya. Dodol terkejut. Muka orang ini seperti muka bandit. Mata lebar menyorot tajam, kumis dan jenggotnya tumbuh tidak beraturan, tidak terawat. Rahangnya keras dengan dagu runcing. Mulutnya yang lebar itu cemberut dengan mata melihat tajam ke arahnya sambil melangkah mendekat ke arah dirinya. Dodol yang saat ini berada di ranjang langsung tanpa sadar bangun terduduk dari ranjangnya dan menggeser badannya mundur di ranjangnya. Badannya menyentuh pinggiran tempat ranjang yang merapat ke dinding dibelakangnya. Dia melihat orang itu melangkah semakin dekat dan tiba-tiba ….melesat dan langsung berdiri di depannya. Saking takutnya Dodol hanya terngaga saja tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Orang itu nampak mengulurkan tangan kanannya ke arah atas kepalanya. Dodol ingin menangkis..tapi anehnya dia tidak bisa menggerakan tangannya. Tangan orang itu dengan bebas langsung memegang ubun-ubun kepalanya. Dodol langsung merasa kepalanya seperti berputar dan dia merasa hawa hangat masuk ke kepalanya dari ubun-ubunnya. Dia merasa pusing sekali dan samar-samar di tengah kepusingannya, dia mendengar suara orang itu yang bernada berat “ Lebih bijak dalam melihat dan menilai sesuatu, jangan disesatkan oleh khianatnya mata ,….mulai sekarang kamu akan melihat dengan mata hati mu.” Kepalanya terasa panas sekali seperti dibakar…dan dia langsung berteriak keras “ tolong jangan bunuh saya…tolong…ada orang jahat …siapa saja diluar…toooolooongggg!!!!!” Dodol berteriak terus dan tiba-tiba dia merasa pundaknya terguncang keras sekali, sampai akhirnya…dia membuka matanya…dan melihat pundaknya ternyata diguncang oleh Budi Bala-Bala temanya. “Dol…sadar..sadar…elo mimpi buruk ya?” tenang elo sekarang di rumah sakit..aman..ga ada penjahat yang mau bunuh elo…disini rumah sakit bro…tenang..tenang ya..” Budi Bala-Bala berkata menenangkan dirinya. Ooo..ternyata dia barusan bermimpi. Ternyata dia di rumah sakit. Barulah dia tersadar dan mulai teringat semua kejadiannya. Dia sedang emosi dengan Budi dan naik ke metromini tetapi metromini itu mendadak ngebut dan kakinya belum sempurna berada di lantai pinggiran bis sehingga dia terlontar keluar bis dan sepertinya kepalanya terbentur tiang dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi. “Tenang ya Dol, tadi elo tuh kepental keluar dar bis gara-gara supirnya gila..trus elo jatuh kepala kebentur ke tiang.Untungnya ga ada yang retak, cuma agak luka luar saja.Kata dokter tidak masalah. Untung aja Dol. Elo masih dilindungi Allah SWT.” Kata Budi Bala Bala dengan suara bersyukur. Budi temannya ini ternyata bener-bener teman sejati. Dia yang sepertinya menolongnya dan membawanya ke rumah sakit. Kalau tidak ada Budi, entah bagaimana nasibnya. Dengan terharu, Budi langsung memegang bahu temannya ini “ makasih banyak ya bud. Elo udah care banget sama gue, tapi gue malah marahin elo tadi. Kayaknya gue langsung dihantem sama Allah nih Bud…makasih banyak ya bro..” serunya. “That’s what a friend a for …, bro…kayak judul lagu…hehehehe…” seru Budi sambil tertawa. Pintu kamar terdengar dibuka orang, dan masuklah seorang pria yang berpakaian seperti dokter. Dodol jadi teringat dengan mimpinya. Dengan tegang, dia memandang dokter itu. Hatinya lega. Ternyata perempuan tapi rambutnya pendek. Umurnya sudah 60 tahun. Tapi hidungnya ditindik. Walaupun mukanya seperti nenek nenek tua renta, tetapi badannya masih keliatan bugar dan dokter tua tapi “gaul” ini melangkah mendekat. “Selamat siang.Bagaiaman rasa kepalanya dek?” dokter itu bertanya ramah. Tapi aneh. Suaranya sama sekali tidak enak didengar. Entah kenapa Dodol langsung tidak simpati kepada dokter ini. Tetapi dia menjawab juga “sudah mendingan dok.” “Bagus..tadi obat yang saya kasih berarti cocok. Nanti 1 jam lagi kamu sudah boleh pulang ya. Sekarang perban di kepala kamu diganti dulu..ga lama..setelah itu boleh pulang ya..” kata dokter itu tersenyum. Setelah berbicara sebentar, akhirny dokter tua gaul itu keluar meninggalkan mereka berdua. Dengan girang Budi berkata kepada Dodol “ Alhamdulillah ya Dol. Ternyata elo ga pa pa. Bentar lagi boleh pulang. Untung aja. Udah mana dokternya dapet yang gaul lagi. Keren dan cantik banget..hihihi..gue sempet naksir tuh sama dokter elo..” seru Budi girang. “Cantik? Keren? Elo mabok atau gimana ya?” orang itu tadi dokternya tua gitu..mana hidungnya ditindik lagi..kayak anak muda aja…ga pantes amat. Masa nenek nenek masih sok gaul gitu? Ditindik …hadeuhhh…elo becanda ya? Atau ngigau?” seru Dodol agak bingung. Sekarang giliran Budi yang bengong. Dia melihat Dodol lama banget. Dodol jadi risih..” elo kenapa sih? Aneh amat lo bengong kayak apaan aja…” “Elo itu sebenarnya masih ada gangguan kepala atau engga ya?” udah jelas jelas tuh dokter barusan masih muda. Wajarlah kalo masih ngikutin mode. Paling juga 30 tahunan. Masa elo bilang umur 30 tahun nenek nenek sih.” Seru Budi agak penasaran. “Hah?” 30 tahunan?” dengan terkejut Dodol mengulangi omongan Budi. “Elo kayaknya masih syok nih. Ya udah elo istirahat aja dulu sambil nunggu suster yang mau ganti perban di kepala elo. Gue mau cari makan dulu ya. Laper gue. Elo istirahat aja dulu ya” seru Budi. Dodol yang masih bingung mengikuti saja saran temannya ini. Begitulah, Dodol beristirahat dan Budi menuju ke kantin untuk makan. Tidak lama kemudian, suster mengganti perban di kepala Dodol dan akhirnya mereka berdua meninggalkan rumah sakit. Budi Bala Bala mengantar Dodol sampai di rumahnya. Ibu Dodol sempat panik dan menangis melihat anaknya kembali ke rumah dalam keadaan diperban. Dodol menenangkan ibunya dibantu oleh ayahnya yang sempat juga panik sebentar. “Kamu itu udah dikasih kendaraan oleh ayah. Tetapi malah memilih naik kendaraan umum. Lihat ini akibatnya.” Seru ayahnya. “Maafkan saya,….Yah..karena tadi kendaraan sempat dipakai oleh Irsan, sepupu karena dia harus urus surat kehilangan karena ktpnya hilang kemarin. “ Dodol berkata apa adanya. “Saya akan bicara dengan adik saya soal ini. Irsan kan ada kendaraan di rumahnya. Kenapa dia pinjam ke kamu kalau dirumahnya ada? Bisa jadi kebiasaan saja kalau ga ditegur nih…” seru ayahnya kesal. Dodol mencoba menyabarkan ayahnya dan ibunya juga turut membantu. “ “Sebaiknya itu nanti saja dibahas.” Kata ibu Dodol ke suaminya. “Anak kita sudah kembali dengan selamat, hanya terluka sedikit saja. Kita harus bersyukur, pah..” ibu Dodol menyabarkan suaminya. Setelah dibujuk-bujuk akhirnya ayah Dodol mengalah dan menurut kepada istri dan anaknya. Mereka sangat berterima kasih kepada Budi Bala Bala yang sudah membantu anak mereka. Mereka segera menjamu Budi Bala Bala untuk bersantap malam bersama. Sekitar jam 10, Budi Bala Bala pamit dan kembali ke rumahnya. Selama 2 hari Dodol tidak masuk sekolah dan kerja magang di kantor notaris sesuai dengan rekomendasi dokter. Di hari ke-2, Dodol sudah kembali ke aktivitas normal dan berangkat ke sekolahnya. Setelah pulang sekolah, dia langsung membuat janji ketemu dengan Budi Bala-Bala dan mereka berdua segera berangkat ke kantor notaris menggunakan kendaraan Dodol. Setiba mereka di kantor notaris, seperti biasanya Dodol dan Budi berjalan dari area parkir menuju ke lobi gedung kantor itu. Mereka berjalan tanpa bersuara dan seperti biasanya orang-orang berlalu lalang disamping mereka, termasuk wanita-wanita staf yang sudah berdandan rapih dengan pakaian kerja yang beranekaragam. Budi Bala-Bala agak heran dengan sikap Dodol sekarang. Biasanya Dodol selalu berkomentar tentang wanita-wanita yang memang cantik-cantik yang berlalu lalang di sekitar mereka, jika mereka akan memasuki kantor atau keluar dari kantor, tetapi sekarang Dodol diam saja. Sama sekali tidak bersuara. Ada apa ya? Aneh nih temen gue. Ga seperti biasa. Pikirnya. Budi Bala-Bala akhirnya tidak kuat menahan keinginan tahunya dan dia lalu bertanya kepada Dodol “Dol, tumben lo agak diem hari ini, kenapa Dol? Lagi mikirin apaan?” tanya Budi Bala-Bala ingin tahu apa yang ada di pikiran Dodol. “Oh, ga apa-apa Bud, gue lagi mikir nanti kira-kira kita ngerjain apa di kantor? Gue takut lupa aja soalnya kan 2 hari ga masuk…” jawab Dodol sambil berjalan tenang dan memandang lurus ke depan. Budi Bala-Bala melihat pandangan Dodol lurus aja ke depan, seperti tidak melihat wanita-wanita cantik yang sedang berjalan mendekat lewat disamping mereka atau yang berjalan melewati mereka. Aneh ya. “Elo tumben ga komen soal cewe-cewe yang ada disekitar elo? Biasanya elo kan komen mulu…itu cakep…itu manislah…yang sana itu bagian apa….biasanya elo tuh matanya jelalatan kanan kiri depan belakang…sekarang tumben…anteng aja…ngeliat juga lurus ke depan….hahahaha..” seru Budi. “Udah insaf kilat nih kayaknya…hahahaha..” lanjut Budi komentar. “Duh…kok elo mendadak bawel amat ya…kalo gue komen nanti elo ngamuk-ngamuk katanya gue dangkal…sekarang gue diem…elo protes juga….hihihi…” seru Dodol. “Btw..gue bukannya ga ngeliatin orang dari tadi…gue udah perhatiin cewe-cewe yang ada disekeliling kita dari tadi….tapi gue heran ……” sambung Dodol. “Heran, kenapa?” tanya Budi agak bingung. “Gue heran, kita nih sebenarnya salah masuk lokasi atau engga ya..tadinya gue mau nanya sama elo…jangan-jangan elo nyasar gara-gara lupa ga ke kantor 2 hari…tapi gue liat nama gedungnya udah sama..nama kantornya sama….makanya gue jadi heran …bingung..” lanjut Dodol sambil setengah merenung sambil berjalan memasuki pintu lobi. “Heran..sekarang bingung…kenapa sih Dol? Kenapa lo nyangkanya kita nyasar?” Budi Bala-Bala tambah bingung dan penasaran melihat keanehan sahabatnya ini. “Soalnya dari tadi gue ngeliat cewe-cewe sama cowo yang lewat disini semuanya….udah pada tua-tua bro…ga kayak situasi di kantor seperti sebelum gue kecelakaan…ini semuanya tua-tua..udah pada keriput..peot…tapi dandannya kayak anak-anak muda gitu….makanya gue jadi bingung…” Dodol berkata sambil memasuki lift. Mereka berdua memasuki lift dan kebetulan sebelum pintu lift tertutup, Budi Bala-Bala melihat seorang wanita muda umur 26 tahunan yang berwajah manis dan putih ingin memasuki lift juga. Dengan sigap, Budi Bala-Bala menahan pintu lift biar wanita muda itu bisa masuk.Cakep nih cewek. Kayaknya baru liat nih. Kulit putih leher panjang, perawakan tinggi semapai, rok dan blusnya juga serasi. “Mba, mau ke lantai berapa?” tanya Budi Bala-Bala. Lumayan biar bisa tahu bagian apa nih cewek. Dengan ramah, wanita itu menjawab,”oh saya ke lantai 3, bagian dokumen control.” Dengan sigap, Budi langsung memencet angka kotak nomor tiga di lift itu. Wanita itu langsung berkata,”terimakasih.” “Sama-sama.” Seru Budi Bala-Bala sambil tersenyum. Wanita itu juga membalas dengan tersenyum. Aduh..manis banget. Teriak Budi dalam hatinya. Kemudian, setelah wanita itu keluar dari lift, mereka berdua masih di lift karena HRD di lantai 4, Budi Bala-Bala menoleh ke arah Dodol. Pasti si Dodol lagi nyegir kuda nih. Pasti komen nih orang. Masa ga komen ngeliat cewe cakep barusan. Tapi begitu ngeliat Dodol, dia langsung kecelik. Budi Bala-Bala jadi yang bengong. Dodol sama sekali ga noleh ke arah dia. Matanya malah asyik ngeliat lampu di lift. Ga sabaran kayaknya ingin keluar dari lift. “Lama amat ya nih lift..”seru Dodol. “Woiii…Dol..barusan cewe yang tadi keluar di lantai 3, elo ngeliat ga?” dengan sewot akhirnya Budi Bala-Bala berkata. “Iya, ngeliat lah gue. Emang gue buta apaa…badan segede itu ga liat…” seru Dodol acuh tak acuh. “Nah….itu tadi boleh dibilang cakep buangeeetttt bro…nilai 9…kok elo ga ada reaksi apa-apa ya?” kata Budi. Sekarang giliran Dodol yang menoleh ke arah Budi sambil melihat dengan pandangan aneh. “NIlai 9 kata elo?” ga salah liat elo? Tua bibir gede kayak gitu elo bilang 9? Buat gue mah 6,5 itu..alias biasa aja..ngapain gue komen…” kata Dodol sambil melangkah keluar dari lift. Dodol menoleh, kok Budi ga ada disamping gue ya. Dia menoleh kebelakang. Ternyata Budi masih ada di lift, tidak keluar mengikutinya. Budi memandang kepadanya dengan pandangan mata terbelalak. “Udah sampe di lantai 4 bro, elo ga mau keluar lift?” tanya Dodol. Dengan mata masih terbelalak ke arah Dodol, akhirnya Budi keluar dari lift sambil berkata kepada Dodol,” “wah kayaknya ada yang ga beres di kepala elo dol…” seru Budi sambil melewatinya. “Aneh kenapa Bud?” Elo masih penasaran sama nilai 9 dan 6,5?” kata Dodol sambil tertawa. Budi Bala-Bala males berkomentar, akhirnya mereka berdua masuk ke bagian HRD yang menjadi ruang kerja dan tempat magang mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD