Bab 6
Daniel
Malam ini aku akan berkunjung ke rumah keluarga Xavier, sudah lama sekali sejak beberapa bulan lalu aku tak ke sana. Mungkin aku tampak seperti anak kecil yang memohon pada Alex tapi tak apalah, karena aku juga punya misi penting selain kerjasama bisnis tentunya. Sebenarnya tujuan ku ke sana karena ingin bertemu dengan si gadis keras kepala itu. Gadis keras kepala itu telah berhasil mencuri hati ku sejak belasan tahun lalu.
Tepat pukul tujuh malam, aku telah tiba di kediaman Tuan Xavier. Setelah aku menekan bel, tak lama pintu di buka dan tebaklah siapa yang membuka pintu itu. Seorang gadis manis yang mengenakan gaun sederhana yang membuat penampilan nya malam itu tampak menawan. Oh sungguh, aku ingin sekali merengkuh gadis itu seperti dulu. Tapi kalau aku melakukannya sekarang bisa-bisa rencana ku gagal semua.
"Kok kau ada di sini?" ucapnya kasar pada ku sambil melotot kesal dan hampir saja membanting pintu di depan ku. Kalau bukan Tuan Xavier yang menegur Calista untuk mempersilahkan aku masuk, sudah dapat dipastikan pintu itu akan tertutup kembali.
Aku hanya tersenyum simpul sedangkan gadis itu tampak mengomel tak jelas di belakang ku. Omelan nya masih dapat aku dengar dan aku hanya bisa tertawa dalam hati mendengar ocehan nya itu. Dari dulu dia memang gak berubah, jika kesal dia akan mengomel hingga suasana hatinya kelana baik. Aku di sambut baik oleh Tuan Xavier dan Calista tampak cemberut di belakang ku. Dan aku bisa melihat Alex tengah memasak di dapur dan istrinya Feli sedang memperhatikan Alex dengan tatapan memuja. Kapan aku bisa seperti pasangan itu? Jujur, aku juga iri melihat kemesraan Alex dan Feli.
"Apakah terjebak macet?" Tanya Tuan Xavier pada ku saat aku baru duduk di ruang keluarga.
Dan aku melihat Calista berada di dapur sedang bicara pada Alex dan dari gerak tubuhnya aku pastikan gadis itu pasti mengomel sembari protes keras. Pemandangan yang lucu.
"Malam ini lalu lintas tak terlalu padat," ucap ku sambil tersenyum simpul.
Aku begitu menghormati kepribadian Tuan Xavier . Tuan Xavier adalah sosok pemimpin yang sangat bijaksana, rendah hati dan juga pemimpin yang loyal pada perusahaannya. Wajar saja jika para karyawan yang bekerja dibawah naungan perusahaan tuan Xavier sangat betah.
Dan satu hal lagi hal yang aku kagumi dari tuan Xavier, biasanya seorang Ayah pasti akan menurunkan bisnisnya pada anak pertama, apalagi ku akui Alex sangat berbakat di bidang bisnis. Dan bisa jadi Alex suatu saat menyaingi ku dalam bidang ini tapi Tuan Xavier membebaskan Alex menekuni hobi memasak nya.
"Dan bagaimana tentang kelanjutan pembicaraan kita waktu itu Tuan?" aku mengharapkan hasil yang memuaskan kali ini.
"Kerjasama membangun hotel itu?" Tanya Tuan Xavier memastikan seperti nya beliau agak lupa tentang kerjasama itu, ya aku maklum saja.
"Iya sekaligus mengembangkan restoran Alex di dalamnya," sahut ku.
"Saya tak ada masalah, nanti kita coba bicarakan pendapat Alex mengenai hal ini. Nah, mari Daniel kita makan malam seperti nya Alex telah selesai memasak," ajak Tuan Xavier pada ku menuju ruang makan.
Aku berusaha menahan senyum ku ketika melihat tatapan Calista yang seolah siap mencakar muka ku saat ini. Aku ingin membawa gadis itu kabur tapi aku masih mempunyai tata krama. Dan sepanjang sesi makan malam itu, aku hanya mengobrol seputar bisnis bersama Tuan Xavier dan sesekali Alex akan ikut mengomentari kalau hal itu menyangkut tentang pembangunan restoran nya.
"Calista sudah selesai, mau ke kamar dulu," pamitnya pada semua orang yang berada di meja.
Aku melirik sekilas Calista yang tampak acuh lalu berjalan menuju kamarnya. Aku mendengar Tuan Xavier bertanya pada Alex dan Alex seolah tak tahu apa yang sedang terjadi pada Calista. Padahal si kakak satu itu tahu benar alasan di balik sikap Calista. Lalu aku dan Tuan Xavier melanjutkan obrolan sambil sesekali mencuri pandangan ke arah kamar Calista.
Sebenarnya Calista itu gadis yang sangat ramah dan akibat keramahannya itu pulalah dia sempat jadi sasaran bully di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Tapi Calista bukan gadis lemah yang akan menerima perlakuan itu secara suka rela, bahkan yang aku pernah dengar gadis itu akan membalas dua kali lipat pada tersangka dan akibat perbuatannya itu pula lah dia sering keluar masuk ruang BK.
Gadis itu juga sering membuat mendiang ibunya juga kewalahan mengahadapi sikap Calista itu.
Hampir setengah jam lamanya Calista tak keluar dari kamarnya dan sungguh aku ingin melihat wajahnya. Wajah cemberut dan menekuk itu benar-benar sangat menggemaskan sekali di mata ku. Sepertinya keberuntungan sedang berada di pihak ku sekarang, Calista keluar dari kamarnya dan aku bisa melihat penampilan nya begitu berbeda. Dia memoleskan sesuatu di wajahnya dan aku tak tahu benda apa yang dipakainya dan membuat dia tampak semakin menawan. Lalu tak lama bel pun berbunyi dan aku melihat Calista dengan riang membukakan pintu. Dan siapakah gerangan yang datang sampai Calista begitu antusias?
Ketika teman Calista telah masuk satu kata yang bisa aku tangkap adalah gay. Aku yakin 100% kalau teman Calista itu gay. Walaupun temannya itu tampak dari luar seperti pria macho dan keren dan orang tak akan tahu kalau orientasi seksual nya belok. Aku tak menggubris ketika teman pria Calista tiba-tiba sudah duduk di samping ku dan tampak merayu ku. Aku hanya terkekeh mendengar celotehan dan adu mulut antara Jimmy dan Calista. Aku sama sekali tak merasa tersaingi dengan kehadiran Jimmy di tengah acara jamuan makan malam ini.
Gadis kecil itu pasti sedang menyusun rencana ingin mengeluarkan ku secepatnya dari rumahnya sampai membawa teman gay nya ini. Tapi sayang sekali rencana itu tak akan berhasil pada ku. Aku sudah terbiasa menghadapi hal-hal seperti ini bahkan ada beberapa yang terang-terangan mengaku kalau mereka menjadikan ku objek fantasi liar mereka. Aku sih tak masalah selama tak mengganggu ku sama sekali.
"Kakak ganteng, enggak apa kan saya duduk di sini daripada di situ dekat singa betina," ujar teman Calista sambil menunjuk Calista.
"Iya, enggak apa," sahut ku kalem karena aku ingin melihat reaksi Calista.
Aku hanya bisa tertawa dalam hati, kelihatan sekali Calista frustasi karena usahanya tak berhasil.
"Calista, jangan bilang ini Jimmy yang pernah datang ke restoran kakak dan malah berhutang setelah makan," ucap Alex tiba-tiba karena dia baru ingat dengan wajah Jimmy yang memang tampak tak asing. Aku menoleh ke arah Jimmy yang tampak seperti anak kecil yang melakukan kesalahan.
"Saya kan tetap bayar kak, enggak boleh nuduh kayak gitu," Jimmy tak terima di tuduh seperti itu.
Alex ini, suka banget mengungkit hal kayak gini. "Jadi sudah berapa lama kalian berteman?" Tanyaku mengambil alih pembicaraan dan aku penasaran kenapa Jimmy ini mau-maunya di suruh Calista.
"Dari awal semester kayaknya, iya kan Annabelle."
"Lebih cantikan gue kali daripada Annabelle," sahut Calista ketus pada Jimmy.
Aku hanya menyimak obrolan mereka berdua. Seenggaknya Calista memiliki teman yang sayang padanya.
"Dia itu galak sama cowok lho kakak ganteng, kakak enggak usah sama dia deh, sama Jimmy aja ya," ucap Jimmy genit.
Aku mau tak mau akhirnya tertawa juga mendengar ocehan Jimmy apalagi julukan Jimmy pada Calista, Annabelle.
"Saya pernah hadapi yang lebih galak daripada itu dan berhasil," ucap ku tenang sambil melirik Calista yang bersungut kesal. "Anaknya enggak galak kan om?" Melirik ke arah tuan Xavier sebentar lalu pandangan mata ku beralih ke arah Calista yang tampak makin cemberut.
"Hanya sedikit keras kepala," koreksi Ayahnya Calista dan aku mengiyakan dalam hati.
"Dan catat, Calista itu tukang pemaksa lho," tambah Jimmy memanasi.
"Hei, yang ada elo selalu maksa gue supaya dekat sama siapa tuh yang elo sebut dadanya itu d**a-able banget"
"Sudah enggak lagi," ucap Jimmy sambil mengedipkan mata pada ku dan lagi-lagi reaksi ku biasa banget. Ketahuilah, aku pernah berada di posisi jauh lebih parah dari prilaku Jimmy saat ini.
"Nah Jimmy, menurut kamu Daniel bagaimana?"
Sesaat setelah Ayah gadis itu bertanya pada Jimmy, Calista sudah menarik tangan ku supaya menjauh dari kerumunan itu. Dan aku mendengar desisan kecewa Jimmy dan tawa Tuan Xavier. Dan tentunya ini suatu kemajuan yang sungguh langka. Sepertinya Calista sengaja mengajak ku keluar, karena ucapan Jimmy pasti enggak bisa di kontrol dan hal itu pasti membahayakan Calista. Gadis kecilnya ini sungguh manis sekali di mataku saat dia sedang kesal. Sungguh aku tak sabar ingin mengurungnya dalam kamar seharian sehingga tak ada yang boleh mengganggu kami. Aku sangat menantikan hari itu tiba.
Ya ampun Daniel, kendalikan fantasi mu untuk saat ini, sisi diriku yang lain mulai memperingatkan.