Bab 5. Makan malam

1404 Words
Bab 5 Makan Malam Calista menatap gemas pada sosok lelaki di depannya ini. Entah terbuat dari apa pria bernama Daniel Kusuma ini. Lihatlah sekarang, pria itu dengan santainya mengobrol dengan Ayahnya tentang bisnis saat makan malam bersama keluarganya, seharusnya begitu tapi semua pupus sudah. Calista memandang Alex juga tampak semangat membahas tentang rencana pembangunan sebuah hotel dan seperti nya Alex ingin mengembangkan restoran nya lagi. Ditambah Ayahnya juga entah kenapa begitu antusias sekali, tak cukup kah perusahaan mereka ada di mana-mana dan ini mau menambah lagi dan oh siapapun bisakah membantu Calista mengusir Daniel dari rumahnya?! Gadis cantik itu menatap tajam ke arah Alex yang langsung cepat-cepat mengalihkan pandangannyacke arah Feli yang tampak manja ingin disuapi. Dia geram sekali dengan situasi seperti ini. Serius dia diabaikan?! Seorang Calista tak pernah diabaaikan sebelumnya oleh sang Ayah dan termasuk kakaknya sendiri. "Calista sudah selesai, mau ke kamar dulu," pamit Calista sambil meletakkan sendok dan garpu nya lalu bangkit dari tempat duduknya seraya membawa piring kotornya.  "Ada apa dengan adik mu, Alex?" Tanya Ayah yang kebingungan melihat sikap Calista yang sungguh tak biasa. Alex menatap Ayahnya yang meminta penjelasan padanya tentang sikap aneh Calista. Alex hanya mengangkat bahu seolah tak tahu padahal dia dalang di balik ini semua. Setelah Calista mencuci piringnya tadi dia pun bergegas menuju kamarnya. Calista benar-benar kesal pada Alex. Sesampainya di kamar, gadis itu lalu merebahkan tubuhnya sejenak di atas kasur dan detik berikutnya dia bangun lagi mengambil ponselnya di atas nakas. Malam ini dia terpaksa harus meminta tolong pada sahabatnya itu. Harus. Calista: oi mimi peri, mau liat pemandangan cakep gak di rumah? Mumpung lagi baik nih Calista menatap pesan yang baru saja di kirim via Line itu pada sang Mimi Peri. Mimi Peri: pemandangan cakep apaan? Awas aja kalau Lo bohong ke gue. Gue gundulin rambut Lo dan gue sumbangkan untuk boneka Annabelle. Calista mendengus kesal membaca pesan dari si Mimi Peri ini. Kalau enggak mengingat dia teman yang paling loyal, sudah habis Calista omelin tuh anak. Calista: produk campuran punya. Kayaknya masih single deh. Kalau iya buruan datang sebelum dia pulang  Mimi Peri: oke, 15 menit lagi gue sampai di rumah Lo Secakep apa sih si campuran itu, gue jadi penasaran Calista: kali ini gak akan mengecewakan Calista menatap layar ponselnya yang hanya di baca oleh si Mimi Peri. Dalam hati Calista tertawa senang, pengganggu seperti Daniel memang harus pakai cara licik biar dia segera cepat-cepat pulang. Mimi Peri, sungguh Calista tak sabar akan kedatangannya. Nah, sembari menunggu Si Mimi Peri, Calista merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, memoles lipat tint di bibirnya yang sedikit memucat. Calista keluar dari kamarnya dan menuju ruang keluarga dan benar saja, si Dandang itu masih saja betah mengobrol dengan Ayahnya sambil main catur. Kelihatan banget kalau tuh cowok mau ambil hati Ayahnya. Calista mencibir dalam hati prilaku Daniel yang terang-terangan mencari perhatian dan semoga saja Ayahnya tak mudah terpengaruh pada omongan maut Daniel itu.  Tak lama bel pun berbunyi, Alex hendak berdiri ingin membuka pintu. "Biar Calista saja yang buka," katanya sebelum Alex bersuara.  Calista pun melenggang riang menuju pintu. Dia tahu jika yang datang adalah Mimi peri alias Jimmy. Cowok satu itu tak akan pernah melewatkan kesempatan langka seperti ini. Buktinya saja dalam waktu lima belas menit, temannya itu sudah sampai. Pasti Jimmy menyetir dengan kecepatan melebihi rata-rata, Calista sangat yakin akan hal itu. Calista membukakan pintu dan tadaa si Mimi Peri muncul di hadapannya. Seringaian jahil muncul di wajah Calista sembari terkekeh senang. "Ayo masuk, jangan malu-malu karena kamu kan emang malu-maluin," ucap Calista sembari mempersilahkan Mimi Peri masuk. "Bacot Lo itu ya jaga," desisnya sambil melenggang masuk ke rumah Calista. Ketika sampai di ruang keluarga, Alex yang langsung mengerjapkan matanya saking tak percaya pada siapa yang dilihatnya. Selama ini dia hanya tahu kalau adiknya berteman dengan dia tapi baru kali ini Alex bertemu langsung. Apakah Calista tak punya teman waras dan normal? "Malam om, makin cakep aja," sapa Mimi Peri pada Ayah Calista yang di balas senyum hangat.  "Sudah lama gak kemari, sibuk banget ya," kata ayah Calista. "Biasalah Om, tugas akhir kuliah," jawabnya sambil tersenyum.  "Eh si cakep ini siapa om?" Tanya nya pada Ayah Calista dan matanya tampak berbinar. Sedangkan Calista berusaha menahan tawa nya agar tak meledak. "Siapa dia?" Tanya Feli pada Alex. "Yang aku tahu dia teman Calista," jawab Alex sambil menatap teman Calista dari atas sampai bawah. Alex memindai penampilan teman dekat Calista itu. "Keren sih tapi entah kenapa kelihatan belok," bisik Feli saat melihat cara teman Calista berinteraksi. Alex tak membalas bisikan istrinya, karena yang Alex tahu entah sejak kapan Calista dan Jimmy bisa berteman akrab seperti itu. "Jimmy sama kan entar wisudanya sama Calista?" Tanya Ayah Calista pada Jimmy atau si Mimi Peri. "Iya om, Calista mah enggak bisa jauh-jauh dari saya om, saya inangnya dia parasitnya," ucap Jimmy sambil terkekeh. Eh buset, Calista langsung mendelik kesal ke arah Jimmy. Enak saja dia jadi parasit. Yang benar itu, Jimmy itu yang selalu ngekorin Calista, di mana ada Calista di situ pasti ada aja cowok yang ingin ajak kenalan. Nah, cowok-cowok yang ingin kenalan pada Calista kebanyakan cakep-cakep dan membuat Jimmy makin kegirangan dibuatnya. Sambil menyelam minum air lah kira-kira. "Haha, gak usah gitu dong. Bukannya kebalikan ya," sangkal Calista sambil mencubit paha Jimmy dan kejadian itu pun tak luput dari pandangan Daniel. Jimmy buru-buru pindah sebelum cubitan berikutnya hinggap ke paha mulusnya. Dan dia memilih duduk di samping Daniel yang tampak biasa saja. "Kakak ganteng, gak apa kan saya duduk di sini daripada di situ dekat singa betina," ujarnya sambil menunjuk Calista. Ayah Calista hanya tertawa mendengar celotehan Jimmy, dia sudah biasa menghadapi Jimmy seperti ini jadi gak kaget. Feli memandang takjub ke arah teman adik iparnya itu, luar biasa. Sama sekali tak terintimidasi oleh aura yang dipancarkan oleh seorang Daniel.  "Iya, enggak apa," sahut Daniel kalem. Si Dandang mendadak kalem, ish, enggak asik. Calista memperhatikan gerak gerik Daniel yang sepertinya tak terpengaruh dengan usaha pendekatan Jimmy. Apakah rencananya tak berhasil? Percuma saja dong Jimmy datang ke rumahnya kalau pada akhirnya Daniel enggak terpengaruh sama sekali. "Calista, jangan bilang ini Jimmy yang pernah datang ke restoran kakak dan malah berhutang setelah makan," ucap Alex tiba-tiba karena dia baru ingat dengan wajah Jimmy yang memang tampak tak asing. Dan Alex baru teringat akan hal itu. "Saya kan tetap bayar kak, enggak boleh nuduh kayak gitu," Jimmy tak terima di tuduh seperti itu. "Jadi sudah berapa lama kalian berteman?" Tanya Daniel mengambil alih pembicaraan.  "Dari awal semester kayaknya, iya kan Annabelle." Jimmy memandang Calista dan Calista hanya mengangguk kecil. "Btw kenapa Abang ganteng mau sama betina kayak Annabelle? Enggak takut salah pilih? Dia Annabelle loh." Jimmy berusaha menjatuhkan Calista. "Lebih cantikan gue kali daripada Annabelle," sahut Calista ketus pada Jimmy. Kesal juga lama-lama di panggil Anabelle terus, dibandingkan dengan boneka seram itu lebih cantikan juga dirinya.  "Dia itu galak sama cowok lho kakak ganteng, kakak enggak usah sama dia deh, sama Jimmy aja ya," ucap Jimmy genit. Tak lupa kerlingan mata mautnya pada Daniel. Feli memandang Alex kemudian dia tertawa pelan. Sungguh lucu sekali teman adik iparnya ini. Penampilan Jimmy sangat keren dan macho, orang enggak akan tahu kalau pria tampan ini ada masalah dengan orientasi seksual nya. Tapi entah kenapa Jimmy malam ini terang-terangan menunjukkan nya. "Saya pernah hadapi yang lebih galak daripada itu dan berhasil," ucap Daniel tenang sambil melirik Calista yang bersungut kesal. "Anaknya gak galak kan om?" Tanya Daniel. "Hanya sedikit keras kepala," koreksi ayahnya Calista. "Dan catat, Calista itu tukang pemaksa lho," tambah Jimmy memanasi. Calista bingung kenapa dia yang dipojokkan, seharusnya Daniel yang tersudut. Inilah resikonya kalau punya teman seperti Jimmy, enggak bisa di kasih yang cakep banget. Ujung-ujungnya malah dia yang jadi tumbal. "Hei, yang ada elo selalu maksa gue supaya dekat sama siapa tuh yang elo sebut dadanya itu d**a-able banget." Calista tak mau kalah dan entah kenapa dia malah ikut dalam percakapan aneh itu. "Sudah enggak lagi. Karena gue udah menemukan yang lebih tepat dan pantas mendapatkan predikat  pelukannya peluk-able banget," ucap Jimmy sambil mengedipkan mata pada Daniel dan lagi-lag tanggapannya Daniel biasa banget. Sebenarnya ayah Calista sudah tahu maksud kedatangan Jimmy kalau bukan ada apa-apa. Jimmy suka menjahili Calista dan mungkin itu adalah salah satu wujud kasih sayang dari seorang teman. "Nah Jimmy, menurut kamu Daniel bagaimana?" Ehhhh??! Calista berteriak dalam hati, oh bisa gawat kalau Ayah sudah mengambil alih percakapan bisa-bisa mulut ember Jimmy tak akan bisa di kontrol. Sebelum hal itu terjadi, Calista buru-buru beranjak lalu meraih tangan Daniel dan mengajak cowok itu keluar dari ruangan itu. Daniel hanya mengekor tanpa ada niat ingin protes. Pada akhirnya, Calista lah yang masuk ke dalam jebakannya sendiri. Tapi gadis itu tak menyadari sama sekali.  Dan hal ini merupakan keberuntungan besar untuk Daniel.  Benar kata pepatah, jodoh emang enggak kemana. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD